Saya perkirakan bahwa megathrust akan kalah dahsyat dengan Megadeth dan Thrash Metal. Lihat saja, di setiap konser-konser Megadeth, dipastikan menggoncang dunia. Goyangan yang berjingkrak, gelegar soundsytem yang disertai anarkis headbanger serta acungan satan finger cukup membuat tanah yang kita pijak bergetar.

Megadeath adalah Tuhan kecil yang untuk sementara ini telah mengalahkan Tuhan Megathrust. Megadeth sudah bisa membuat getaran mikro skala Richters, sebuah skala kegempaan yang dipertama kali digunakan di wilayah kelahiran grup musik rock in, California. Pun begitu, Andy Richter, sang pencipta skala Richter, telah beristirahat tenang di sana.

Mega, thrust, dan thrash adalah kumpulan kata-kata sensitif dan represif. Ketiga kata tersebut menempati wilayah ekstrem yang mengancam kebahagiaan dan ketenangan. 

Namun, bagi Dave Mustaine (Dave Bertawakal; hahaha), hanya ada satu plesetan segar bagi grupnya: Megadeath? No, Megadeth? Yes. Penghilangan huruf “a” merupakan kebijakan maha tinggi dalam meredam aroma sensitif dan represif nama grup thrash metal ini, Megadeth.

Megadeth sungguh bijaksana membalik sensitifitas kata “Megadeath” yang merupakan output dari Nuclear Bombing. Megadeath adalah kematian akbar; one million human deaths, usually caused by a nuclear explosive

Sedang, Megadeth yang telah menghilangkan huruf “a” adalah kebahagian akbar bagi pecandu Thrash Metal, sebuah genre musik berjingkrak nan pekak.

Megathrust sudah kadung menghantui bangsa ini. Prediksi bencana besar yang bisa saja dikategorikan megadeath ini, cukup membuat waswas Ibu Kota Jakarta dan wilayah-wilayah yang terdampak lainnya.

Sepertinya bangsa ini lupa kalau punya Tuhan. Bangsa ini juga lupa, saat pernah menggoyang bumi bersama grup musik Megadeth di Jakarta dan beberapa wilayah konsernya. 

Isu megathrust akhir-akhir ini telah membuat ketakutan-ketakutan baru di negara Tuan yang bertuhan. Para ahli meteorologi dan geofisika sudah lihai bercuap memprediksi megathrust bak Anaximandros, filsuf Yunani, sang ahli gempa.

Anaximandros saja sudah final ketakutannya terhadap air. Dia kembalikan semua urusan air kepada kata to apeiron, bahasa Yunani, yang berarti tanpa batas. Artinya, segala yang berbau air bukanlah segalanya, ia adalah suatu prinsip abstrak yang menjadi dasar segala sesuatu, bersifat ilahiyah.

Memang sudah saatnya diperlukan sebuah etika peringatan dini dari segala sumber-sumber kebencanaan. 

Etika yang tepat sasaran, agar segala peringatan dini bisa disampaikan sebijaksana mungkin, sehingga tidak menimbulkan kecemasan dan ketakutan massal pada masyarakat yang bertuhan. Agar peringatan dini tidak berubah menjadi Tuhan yang lebih ditakutkan daripada Tuhan mereka.

Megathrust meyakini bahwa lempeng samudera bisa masuk ke dalam lempeng benua dan menyebabkan guncang besar ketika mulai bertumbukan. Megathrust bisa membuat lempeng samudera masuk ke lempeng benua pada bagian atasnya, Dan itu adalah Pulau Jawa.

Teori-teori kegempaan semisal kekosongan gempa (seismic gap) dan zona tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, pergeseran benua (continental drift), tektonik lempeng dan zona subduksi (penunjaman) cukup memberikan peringatan mitigasi yang sangat tinggi terhadap ketentraman dan kenyamanan hidup.

Untuk bijaknya, jangan lupa teori-teoi antitesis lainnya, seperti: teori divergen (tensisonal) yang antisubduksi, teori kerekatan gravitasi, teori Tauhid-mu, teori kejawen-mu yang semuanya tak kalah kuatnya sebagai antitesis teori subduksi. Bukankah semuanya berpasangan untuk saling menyeimbangkan?

Ketika subduksi diredam oleh tensional divergen, ketika seismic gap (kekosongan gempa) diisi oleh tremor-tremor kecil yang kaya di area vulkanik, ketika teori pergeseran benua (continent drift) diimbangi oleh teori batuan plutonik. Pun begitu, ketika konsep pangaea (semua daratan) diimbangi konsep panthalassa (semua lautan), intrusif oleh ekstrusif.

Adalah bijak untuk mengatakan “keseimbangan” daripada “melawan”, hingga tidak terproduksi ujaran-ujaran peringatan dini kebencanaan yang sensitif dan represif nan mencekam. 

Apakah kita belum sadar, memang pada dasarnya bumi kita ini rapuh sejak dulu. Apalagi Pulau Jawa yang kaya mitos kelabilannya, hingga para dewa susah payah menjebol Himalaya untuk dibagi-bagi rata menancap di Pulau Jawa.

Megatrash jangan sampai menjadi ajang ketakutan massal yang bisa saja dimanfaatkan oleh sebuah kepentingan. Pun, jangan terlalu terlena dengan peringatan dini kebencanaan sebagai salah satu upaya persiapan dan penanggulangan dari sebuah hukum alam yang memang harus terjadi.

Megatrush juga harus diimbangi dengan anomali-anomali pengimbangnya (bukan pelawannya), yaitu kecepatan pergerakan horizontal lempeng litosfer yang berkisar antara 1 hingga 6 sentimeter per tahun dengan kecepatan gerakan ke arah yang berbeda.

Sebagai contoh, kecepatan lempeng Atlantik di bagian utara adalah 2,3 sentimeter per tahun sementara di bagian selatan itu sebesar 4 sentimeter per tahun. Pergerakan acak dan anomali ini adalah penyeimbang raksasa yang bernama “megatrush”.

Teori tumbukan juga harus berimbang denga hipotesis-hipotesis peredamnya, semisal hipotesis pelat terpisah lebih cepat di dekat punggungan Pasifik Timur di Pulau Paskah, di mana ditentukan kecepatannya 18 sentimeter per tahun. Sebaliknya, lempeng bergerak lebih lambat di Teluk Aden dan Laut Merah yang kecepatannya 1-1,5 sentimeter per tahun.

Mari, kita nikmati perimbangan (bukan perlawanan) yang tersebut di atas dengan kebijaksanaan yang membangun ketenangan dan kedamaian hidup. Jangan biasakan hidup dalam tekanan dan ketercekaman ekstrem yang bisa merusak nalar sehat Anda.

Hail Megadeth, I see no lights a quiet lack of perspective!