Malam itu hujan turun deras mengguyur Bekasi. Usai terbebas dari kerumunan orang di pintu keluar stasiun kereta api, saya segera berlari membelah genangan air sembari menaruh tas punggung di atas kepala saya, berusaha menghalau serbuan air hujan.

Kacamata yang saya kenakan pun mulai berembun, pandangan mata menjadi kabur. Akhirnya karena itu saya memutuskan untuk meneduh dulu di salah satu warung kecil di tepi jalan. Sekalian mengisi kembali baterai handphone yang sudah mau habis, pikir saya.

Warung itu berukuran cukup kecil. Saya perkirakan hanya mampu memuat tujuh orang saja, itupun sudah termasuk dua orang pemilik warung. Praktis warung itu hanya bisa menampung lima pelanggan atau bisa juga enam orang jika memang kita mau berhimpit-himpitan. 

Begitu duduk di kursi kayu panjang yang tersedia di dalam warung itu, aroma kuah mi rebus segera menubruk penciuman saya. Saya tebak itu pasti indomie rasa kari ayam, dan memang tebakan saya rupanya benar. 

Di seberang depan saya telah berdiri seorang "chef” yang tengah meracik sajian indomie dengan penuh khidmat. Ia celupkan mi ke dalam panci berisi air panas dengan perlahan, seraya mengaduknya agar bumbu-bumbunya menyatu. Tanpa lama saya segera memesan satu mangkuk indomie rebus juga, jangan terlalu matang, dan pakai telor. 

Baca Juga: Agama Indomie

Saya memang tak begitu paham soal filsafat, pun pastinya tak pantas masuk kategori relijius sebab membaca kitab suci saja hanya satu dua kali. Namun begitu semangkuk indomie telah tersaji di hadapan saya, rasanya surga memang betul-betul ada.

Itu bukan hanya sekadar gurauan. Dengan cuaca dingin menusuk akibat hujan, ditambah perut keroncongan dan rasa lelah usai berdesak-desakkan di dalam kereta, maka semangkuk indomie dan teh hangat adalah sebuah kemewahan. 

Seorang bijak bestari pernah berujar konon Tuhan bersama orang-orang yang menderita dan kelaparan. Oleh karena itu, boleh-boleh saja 'kan jika mengatakan bahwa semangkuk indomie yang saya santap merupakan satu perantara atas kemurahan hati-Nya. Ataukah mungkin tak sesederhana itu? 

Saya mengusap dahi yang mulai basah oleh keringat. Saking nikmatnya, hampir mustahil saya sempat merenung bahwa di luar sana boleh jadi ada seorang anak kecil tengah menahan sakit perutnya karena kelaparan. Nyatanya, fakta demikian memang benar-benar ada. 

Juli lalu, setidaknya tiga orang di Kabupaten Maluku Utara dikabarkan meninggal dunia akibat kelaparan, di mana dua di antaranya adalah bocah balita. Kasus kelaparan yang terjadi di Maluku menggambarkan potret buram bahwa nyatanya tak semua orang cukup beruntung mendapatkan akses pangan yang setara. Laporan dari buku saku Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 memberikan gambaran cukup spesifik. 

Berdasarkan data itu, sebanyak 3,4% balita umur 0-59 bulan di Indonesia masih menderita gizi buruk dan 14,4% gizi kurang. Mengetahui ini, saya jadi merasa cukup bersyukur masih dapat mengganjal rasa lapar walau hanya dengan semangkuk mi instan.

Usai menghabiskan semangkuk mi seraya menyeruput teh yang masih hangat kuku, sejenak saya edarkan pandangan ke sekujur ruangan. Televisi berukuran 14 inch bertengger di sudut ruangan. Seorang pembawa acara berita tengah menyiarkan kabar duka dari Palu.

Menurut kabar terakhir, gempa Palu telah menyebabkan begitu banyak bangunan rusak dan ribuan orang meninggal dunia. Tak terhitung pula berapa banyak yang terluka akibat bencana itu, baik secara fisik maupun psikis.

Saya melirik ke sebelah, seorang bapak cukup tua juga baru saja menuntaskan santapan yang ada di hadapannya, semangkuk indomie goreng. Sorot matanya yang lesu tertuju pada siaran berita, tampak menunjukkan kesedihan. Rasa terpukul dan duka rupanya juga tak luput meliputinya. 

Di titik itu saya langsung tersentak. Bencana memang belakangan datang silih berganti seakan-akan tak pernah usai. Apakah itu artinya Tuhan memang tengah murka, sebagaimana ceritera yang terus-menerus disampaikan oleh para penceramah di luar sana? Lalu, marah kepada siapa? 

Seberkas cahaya terang justru datang dari warung sempit pinggir jalan yang pekat oleh aroma kuah mi instan dan kepulan asap rokok itu. Gurat kesedihan yang baru saja ditunjukkan oleh bapak di sebelah saya malah berbicara jauh lebih lantang daripada kata-kata kecamaan tentang azab dan kutukan. Bahwa sebetulnya tanpa disadari, toh bencana diam-diam datang mencurahkan berkah jua.

Bagaikan koin mata uang, bencana memiliki dua sisi yang saling berseberangan. Ia membinasakan juga menghidupkan pada saat yang bersamaan. Ratusan bangunan mungkin hancur akibat diguncang gempa dan dihantam tsunami. Ribuan manusia boleh jadi meregang nyawa bahkan sampai terkubur tak dapat ditemukan lagi. Namun berkat itu pula di saat yang sama jutaan orang di seluruh nusantara dan bahkan dunia bersatu mengerahkan segalanya untuk turut membantu. 

Gelombang rasa persahabatan dan kemanusiaan pun membanjiri tiap-tiap sudut, menghangatkan dinginnya duka. Riuhnya pertarungan politik yang membabi buta dipaksa untuk sejenak harap tenang. Berkat datangnya bencana, rasa kemanusiaan yang mungkin telah lama mati terenggut akibat ribut dan sikut sana-sini seakan dihidupkan kembali. 

Jauh-jauh hari di masa lampau, seorang pakar Sosiologi dari Prancis pernah mengatakan hal yang nyaris serupa. Dalam "Le Suicide", kalau tak salah, Emile Durkheim mengungkapkan bahwa ketika terjadi krisis atau bencana justru di saat itulah ikatan-ikatan sosial terjalin kembali secara kuat. Di saat-saat krisis, orang-orang mungkin akan merasa saling terkait dan sepenanggungan, sehingga dengan itu mereka saling membutuhkan dan menguatkan satu sama lain.

Akan tetapi betangkat dari "ramalan" Durkheim di atas, sekarang timbul satu pertanyaan yang mengusik. Apakah iya kalau begitu kita mesti menunggu bencana dan penderitaan datang terlebih dahulu baru kemudian bisa hidup rukun dan saling mengasihi?

Saya sejenak menengok keluar. Rupanya hujan sudah benar-benar reda, dan yang tersisa tinggallah genangan air di selokan dan pinggiran jalan. Saya segera membereskan tas dan memastikan tak ada yang tertinggal. 

Setelah membayar makanan dan minuman, saya pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan pulang. Bapak di sebelah saya tadi berpesan agar saya hati-hati di jalan karena jalanan basah dan licin bekas hujan, persis bagaikan pesan bapak kepada anaknya.

Saya mengangguk dan mengucap terima kasih. Dari warung kecil yang menjual kopi dan indomie itu saya jadi yakin, bahwa meskipun di luar sana banyak orang dan kelompok yang gemar membuat ricuh, tapi negara ini pasti akan baik-baik saja. Asalkan masih ada orang-orang baik yang terus saling mengasihi.

Dalam hati saya berjanji akan kembali ke warung kecil itu. Mungkin sekadar memesan kopi atau semangkuk mi. Atau sekadar mengobrol soal misteri ilahi dan pertanyaan terbesar alam semesta, yakni tentang kenapa indomie buatan warung jauh lebih lezat daripada buatan sendiri.