Siang itu, di atas sajadah usai sholat, tubuhku masih enggan untuk beranjak. Tanganku memijit telapak kaki yang belakangan sering terasa pegal. Mendadak mataku terbelalak melihat hampir seluruh telapak kaki menghitam. Kotor seperti habis berjalan kaki di luar rumah tanpa memakai alas kaki. Kuusap-usap, tetap tak berubah.

Aku mengambil telepon genggam untuk menyampaikan ini ke dokter. “Dok, telapak kaki saya kenapa jadi hitam begini?” Tak lupa dilengkapi dengan emoticon menangis di chat bbm itu. Syukurlah kegalauan itu direspon dengan cepat. Katanya “Tidak apa-apa, itu hanya sementara, karena kamu minum obat xeloda. Nanti setelah pengobatan selesai, akan normal lagi kok”

Sedikit lebih tenang, aku pun beranjak menuju kaca di dekat tempat tidur. Baru kusadari ternyata mukaku pun gosong. Kuamati telapak tangan dan jari-jari semua menjadi hitam legam. “Dok, jadi akan gosong semua seluruh tubuh saya?”, kembali kutanya dokter. “Efek obat ini bisa berbeda-beda untuk setiap orang, tapi jangan khawatir, ini hanya sementara”, dia menenangkanku lagi.

***

Aku diberi kejutan dari Tuhan berupa kanker. Yang pertama adalah 23 tahun lalu. Kenapa yang pertama? Ya, karena saat semuanya sudah terasa tenang dan aman, ternyata ada lagi kejutan kedua untukku. Yaitu kanker dengan jenis yang sama, 15 tahun setelah kanker yang pertama.

Kanker kedua ini, mungkin tidak perlu terjadi andai saja di tahun 2012 aku tidak melakukan operasi. Operasi ini untuk mengembalikan anus buatan yang dipindahkan ke perut pada saat operasi kanker yang pertama. Secara medis operasi itu bisa untuk dilakukan agar tubuhku bisa kembali normal. Dan memang akhirnya aku merasakan menjadi normal kembali secara fisik.

Namun itu hanya berlangsung selama satu tahun. Tahun 2013 aku melakukan check up rutin. Hasilnya, kanker tampak tumbuh lagi di tempat sama, dengan keganasan yang sama. Kejutan yang benar-benar tidak kuduga sama sekali karena aku merasa baik-baik saja dan tidak ada nyeri atau keluhan berarti.

Besar kemungkinan kanker tumbuh lagi karena sel kanker yang sudah tenang, kembali tumbuh abnormal. Seolah-olah dibangunkan oleh tindakan operasi di tempat tersebut. Lalu apakah aku harus menyesali keputusan yang sudah kuambil tahun lalu? Apa gunanya? Aku memang sangat shock tapi paham betul bahwa aku tidak boleh membuang waktu terlalu lama untuk bersedih.

Mulailah lagi perjuangan yang dulu pernah lima tahun aku jalani pada kanker sebelumnya. Yang pertama harus dilakukan adalah colostomi, melubangi kembali dinding perut sebagai anus buatan. Membayangkan operasi saja sepertinya tidak sanggup. Aku masih ingat dengan dua operasi sebelumnya yang pemulihannya lama. Terlebih operasi yang ketiga ini, nantinya akan menjadi yang paling besar, karena harus sekaligus mengangkat seluruh bagian anus.

Langkah berikutnya setelah operasi adalah kemoterapi, ya seperti protokol standar pengobatan kanker. aku sempat diberi gambaran tentang obat kemoterapi yang harus lebih kuat dari yang pernah digunakan sebelumnya. Lalu aku membayangkan, akan seperti apa jadinya, jika obat sebelumnya saja sudah membuat aku muntah puluhan kali setiap selesai disuntikkan.

Aku gamang, tak tahu harus bagaimana menjalaninya.Maka aku memutuskan pergi ke Jakarta membawa seluruh kesedihan dan kebingungan itu. Dokter Jisdan, yang merawatku secara intensif sejak kanker pertama, memang pindah ke sana sejak beberapa tahun sebelumnya. Operasi yang kedua, dilakukan oleh dokter bedah lain di Yogya. Namun aku merasa perlu memantapkan hati dan mendapat kekuatan dari dr. Jisdan.

Yang paling menguatkanku adalah kalimat sederhana yang diucapkannya sambil mengusap kepalaku. “Kamu sudah berhasil melewati yang lebih berat. Jadi sekarang kamu juga pasti bisa melewatinya lagi. Kembalilah ke Yogya dan operasi segera!” Maka aku pulang dan mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebelum masuk rumah sakit. Butuh waktu sekitar tiga bulan meninggalkan pekerjaan, sehingga harus mengatur banyak hal.

Setelah operasi, dokter memutuskan aku tidak perlu menjalani radioterapi. Sedangkan untuk kemoterapi, dipilihlah tablet xeloda sebanyak delapan paket. Satu paket terdiri dari dua minggu berturut-turut minum 5 tablet dalam sehari, lalu jeda seminggu. Dilanjutkan cek kondisi umum, jika cukup baik akan dilanjutkan paket berikutnya.

Aku bersyukur karena kali ini tidak merasakan suntikan seperti pada kemoterapi sebelumnya. Rambut tidak rontok dan tidak ada mual muntah. Namun masuk paket ketiga, muncullah drama tubuh gosong itu. Seberapa mengganggu sih tubuh gosong ini? Sebenarnya buatku lebih ke pandangan banyak orang saat melihatku. Aku merasa banyak tatapan belas kasihan karena mereka tahu aku sedang kemo.

Ada beberapa kali aku harus tampil di depan banyak orang untuk urusan pekerjaan. Dan aku merasakan itu, tatapan tanda tanya, tatapan aneh, dan tatapan iba. Lalu melihat foto-fotoku dengan muka gosong, terlihat aneh sekali. Meskipun aslinya kulitku memang sudah hitam dari lahir. Yang kualami saat kemo itu bukan hitam, tapi gosong.

Tidak berhenti sampai di situ, selain menghitam, telapak kakiku juga mengelupas. Tak hanya sekali, tapi berulang kali hingga menjadi sangat tipis. Aku mulai kesulitan berjalan dan susah mencari alas kaki yang nyaman. Terkena gesekan sedikit saja bisa menyebabkan jari kaki berdarah. Sering harus mencari pegangan tiap berjalan, karena telapak kaki tidak kuat menjadi tumpuan.

Ya Tuhan, ternyata obat kemo yang tidak disuntikkan pun efeknya tak kalah mengerikan. Aku menahan semua sakit dengan mengingat-ingat bahwa ini tak akan lama. Juga selalu teringat pesan dr. Jisdan “Sabar, jalani sampai ujung lorong. Semua ada ujungnya!”

Dan akhirnya, aku benar-benar berhasil sampai di ujung lorong. Menyelesaikan kemoterapi hingga paket terakhir dan lulus dengan hasil yang baik. Tubuh gosongku pun berangsur normal. Hanya pemulihan kaki yang memakan waktu cukup lama. Sampai setahun setelahnya masih sesekali timbul rasa sakit, terutama jika terlalu banyak berjalan.

Tubuh gosong dan kulit mengelupas pernah menjadi episode sangat emosional dalam perjalanan kesembuhan saya. Namun untuk siapapun yang sedang menjalaninya, jangan khawatir. Itu semua hanya sementara.