1 bulan lalu · 515 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 35432_86502.jpg

Tuhan, Jangan Jadikan Kami Lelaki Berengsek

Tuhan yang Maha Pengasih, jika memang kebaikan dan kesucian Kau turunkan pada setiap anak cucu Adam di muka bumi ini, kenapa Kau tega menjadikan aku anak seorang lelaki yang tidak memiliki cinta kasih?

Apa aku memang pantas mendapatkan itu semua, Tuhan? Jika memang, aku bersaksi, aku rela mengemban dengan lapang dada. Imanku sedikit, ibadahku tak banyak, dan paling pamrih jika menghitung amal baik. Tapi, aku percaya pelukanmu melebihi itu semua. 

Aku menerima kenyataan bahwa aku bukanlah penerima kasih dalam baris pertama. Bahwa aku tidak dikasihi, atau dengan sepenuh hati dicintai. Tetapi, apa tidak cukup hanya aku saja?

Tuhan, yang Maha membolak-balikkan hati, apakah demikian ada manusia yang sempurna bebalnya untuk saat ini? Yang hatinya hanya penuh keegoisan, penuh dengan tuntutan, dan kalimat yang ia ucapkan setiap harinya adalah namaMu?

Tuhan, jika Nabi Muhammad menjadikan perempuan sebagai makhluk yang diciptakan untuk dikasihi, kenapa tidak demikian dengan ibu yang aku cintai? Apa memang cinta bisa salah memilih, atau lebih tepatnya ibuku salah memilih cinta?

Dalam setiap drama keluarga, sedari kecil aku mendambakan seorang lelaki gagah yang tangguh memanggul kokoh harga diri keluarganya. Seorang bapak yang tidak pernah merasa cukup dengan dirinya, namun selalu berusaha mencukupi kasih dan cinta terhadap kasihnya dan anak-anaknya.


Tuhan, apa semua itu hanya kisah fiksi dalam cerita dongeng? Di mana ayah adalah lelaki yang paling mencintai keluarga, dan meski dirinya adalah seorang jahanam, tapi ada kasih dalam pandangan matanya untuk buah dari hatinya. Apa betul, darah kami berhak diperlakukan seenak jidat sehingga harga diri tidak tersisa, mata terkuras airnya dan hati kami menjadi beku untuk mengasihi. 

Apa kami harus menghormati manusia macam itu, dimana kami punya kuasa atas takdir kami; hidup pada kaki sendiri, tapi juga mesti mengurus perkara pipis seorang bapak yang bahkan tidak memberi kami kasih?

Aku bersyukur Tuhan, tidak demikian aku bercakap seperti ini aku kufur akan kenikmatan. Tapi, daya upaya yang kami lakukan tidak menemukan jalan. Hatinya semakin bebal, kebaikan dalam dirinya tersumpal, matanya selalu terlihat kesal, cakapnya mesti banal. 

Padahal, ia takut mati! Tuhan, aku sungguh merasa ini bak komedi. Lelaki yang tak punya hati, masih takut Izrail menghampiri. Kukira, ia akan dengan tabah menerima dengan pelukan terbuka diantara jemari.

Sakit hatiku, ia bersumpah palsu atas nama agama dan lalu tak berlaku. Baginya, kalimat sumpah bak pembenaran, bagiku sumpahnya adalah benalu. Piring dipecahkan, nafsu dituntaskan, kalimat kotor dimuntahkan. 

Diajak bicara, ia enggan. Baginya ia adalah tuhan, bagi keluarga kecilnya tanpa ada rasa keraguan. Anjing, mual aku setiap waktu berusaha berucap manis, padahal jijik sekali jika berhadapan. Palsu, palsu, palsu dan aku hanya bisa menyungging senyum yang menyiksa diri perlahan.

Pagi-pagi tadi, aku pun mendengar kabar yang sungguh beraroma sangat tai. Ia, teganya meminta berhubungan seksual pada istrinya, padahal ia hanyalah seorang lelaki nista. Dan, bodohnya ia meminta itu kala adikku masih bangun di lantai dua, di rumah kecilku yang tidak ada kamar tidur dan hanya tersekat kardus sisa belanja. 

Astagfirullah, aku sungguh sakit hati. Sakit hati, ya Tuhanku apa aku salah meminta kematian untuknya jika hidupnya terlahir menyakiti. Apa aku berdosa, memberikan senyum padahal hatiku bergelimang dendam yang aku simpan dalam lemari. Tuhan, pada semesta aku selalu menangisi. 

Diminta menjaga emosi, ia mengamuk. Pada tembok ia hajar, berceloteh kosakata yang sampai saat ini aku pelajari darinya; anjing, monyet, tai, dan sumpah serapah ala orang tidak terdidik. Diminta dengan rendah diri, supaya berlaku baik ia selalu egois berkata tidak dihargai. 


Kalimat mana, yang aku tahu padahal dirinya sendiri yang tidak menghargai harganya. Mengumpat, membanting, mencaci maki, dan menyiksa batin dengan dalih kasih. Cih. Baru aku temui lelaki macam itu, dan sialnya ia adalah contoh pertamaku dalam kehidupan sebagai manusia.

Kerja, kerja, dan kerja. Dia pikir dirinya Jokowi. Kami hanya meminta sikap, bukan duit. Ya Arhama Rohimin, berilah kami kasih supaya kami tidak keji pada anak cucu kelak. Kami hanya meminta diperlukan manusia, tapi dia malah mikirin hubungan seksual suami-istri. 

Sungguh, kenapa aku mesti memikirkan manusia yang dalam kepalanya hanyalah makan, berak, dan seks. Benalu, dan benalu. Apakah ini pertanda darimu, Tuhan? Atau ini cobaan? Atau, aku berlebihan? 

Atau, sekiranya halalkah untuk mencampakkan? Aku nyebut sekian banyaknya, tentu untuk menulis ini. Aku skeptis, apa cinta memang terkadang berjalan bejat nan mengiris. 

Tuhan, jangan jadikan kami lelaki berengsek, durjana, dan tidak pakai otak. Seperti dalam kisah yang aku tulis ini dalam bimbang.

Artikel Terkait