Mungkin sebagian dari kita akan memahami bahwa dunia itu memiliki makna yang absurd. Itu berarti apa yang kita percayai maupun dipercayai hanyalah bersifat sementara. Dan itu bisa saja menjadi motivasi seseorang untuk melakukan tindakan yang justru merugikan dirinya sendiri, bunuh diri misalnya. 

Pandangan seperti itu tidak lebih dan tidak kurang merupakan pandangan yang nihilis. Menganggap bahwa makna dalam kehidupan tak akan pernah dicapai bagaimana pun usaha kita.

Ini diperagakan oleh tokoh fiktif dalam serial komik DC, Dr. Manhattan. Dia dulunya hanyalah seseorang manusia biasa yang bergelar profesor di bidang fisika. Namun, suatu ketika, terjadilah kecelakaan yang menyebabkan dia memiliki kekuatan yang mungkin setara dengan tuhan.

Dengan kulit yang membiru dan bercahaya akibat dari kecelakaan yang dialaminya, dia memiliki kekuataan yang melebihi superman, dia bisa melakukan segalanya. Bahkan, dia bisa melihat masa depan, dan juga, masa lalu. Tapi dia tak bisa mengubahnya, walaupun sebenarnya dia bisa (alias terbatas). 

Di sinilah titik di mana perbedaan antara tuhan dan manusia. Jika manusia memiliki kekuatan tuhan, maka kekuatan yang dimilikinya tidak sempurna karena ia tak mampu mengubahnya. Hasilnya adalah nihilisme. Dia melihat bahwa usaha manusia akan makna selalu berakhir dengan sia-sia.

Yang menarik dari Dr. Manhattan, baik dari serial HBO maupun dari komik, doomsday clock, kita akan melihat beberapa solusi menarik untuk mengatasi nihilisme. Salah satunya adalah lupa. Jika kita tak bisa menerima hidup tanpa makna, alangkah lebih baiknya untuk melupakannya.

Dan yang kedua adalah anak. Anak berupalah bukti bahwa tuhan masih mencintai kita. Di satu sisi, bunuh diri selalu mengancam jika berketerusan menjadi nihilis.

Ada juga hal yang menarik teori tentang nihilisme ini melalui Nietzsche. Di beberapa karyanya mungkin kita akan mendapati bahwa tujuan dari nihilisme adalah meniadakan semua nilai-nilai kehidupan, atau memperlihatkan betapa absurdnya sebuah konsep nilai. Tapi Nietzsche justru mengaitkan dengan agama. 

Apa mungkin agama dan nihilisme itu satu sedangkan keduanya sangat bertolak belakang?

Nihilisme di satu sisi adalah konsep bahwa tidak ada makna yang pasti, sedangkan agama sebaliknya penuh dengan makna kehidupan. Nietzsche pun menjelaskan bahwa nihilis dalam agama berupa peniadaan makna kehidupan dengan konsep politis. Bahkan, Nietzsche menyebut agama sebagai anti-kehidupan.

Mengapa bisa sebagai anti-kehidupan sedangkan agama sendiri kaya akan makna kehidupan? Lihatlah bagaimana agama bisa menjadi alasan untuk membunuh seseorang. Bahkan ini sangat terlihat dalam aksi terorisme. Dan itu juga bisa dilihat dari beberapa oknum atau mungkin sebagian orang selalu saja memulai aksinya dari memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa dinilai mencurigakan.

Dalam konsep filsafat, kita bisa mengatakan bahwa manusia itu mengada dan selalu berproses, jadi mempertanyakan sesuatu itu merupakan langkah awal menuju kebijaksanaan. Akan tetapi, itu justru bisa dinilai aneh jika kesannya justru destruktif. Kita tak mungkin berketerusan bertanya-tanya tanpa melihat batasan kita sebagai manusia.

Bertanya bisa dikatakan langkah awal nihilisme, tapi makna apa yang akan diisinya? Socrates bisa dikatakan adalah seorang yang baik, tapi dia mati karena tak sanggup mengisi makna dalam pertanyaan (padahal dia mati karena terpaksa meminum racun sebagai hukuman menyesatkan kaum muda).

Lantas, ketika kita tak menerima kenyataan yang penuh kehidupan ini, apakah kita bisa jadi gila?

Mungkin kita bisa mengambil sedikit hikmah dari budaya pop Jepang. Dalam budaya pop Jepang, kita mungkin bisa melihat sebuah gejala kejiwaan yang mungkin mirip seperti neurosis (dalam teori Freud, konsep tentang gagalnya kita menerima kenyataan yang justru berdampak pada perilaku kita).

Sebut saja tsundere. Kata ini berasal dari kata tsun tsun yang berarti membuang muka dengan sebal, dingin dan serbaacuh. Ditambah dere dere yang berarti menjadi penuh kasih sayang atau sedang jatuh cinta.

Dalam konsep tsundere, bisa dikatakan sebuah gejala psikologi yang unik. Ketika kita yang penuh ideologi berhadapan dengan kenyataan, kita justru memperlihatkan sikap sebaliknya. Kita justru menyukainya.

Mungkin ini bisa dilihat dari para penganut ideologi yang terjun ke dunia politik. Mereka malu-malu tapi mau. Mereka memiliki ideologi berlawanan dengan kenyataan, tapi justru mereka menyukainya, dan bahkan menerimanya. Tapi penulis tidak yakin apakah ini fenomena kejiwaan yang normal atau justru tidak, ya? Terus, apakah ini ada kaitannya dengan tuhan, kita tak akan pernah tahu.

Sedangkan berikutnya, agak lebih ekstrem, sebut saja yandere. Yandere adalah sebuah sebutan untuk orang yang awalnya terlihat manis, lembut, dan sangat pengertian kepada seseorang, namun tiba-tiba sifatnya berubah atau ‘dirusak’ karena suatu kejadian. Yandere yang tadinya polos dan berkarakter baik ini berubah menjadi ber-kepribadian brutal dan bahkan tidak segan untuk melakukan kekerasan kepada orang lain.

Tsundere bisa dikatakan lebih baik walaupun mungkin dalam arti yang buruk, sedangkan yandere itu yang bahaya. Jika seseorang yang begitu ideologis bertemu dengan kenyataan pahit (apalagi dunia politik), dia, well, akan melakukan hal yang paling buruk. Ini mungkin bisa juga dikaitkan dengan aksi terorisme.

Mungkin kita tak bisa mengaitkan tuhan dalam hal menerima kenyataan. Tuhan mungkin ada di tengah-tengah kehidupan kita tapi bukan berarti kita tak bertanggung jawab atas apa yang kita telah lakukan dan akan kita lakukan, apalagi dalam menerima kenyataan.