Pengarang
5 months ago · 258 view · 4 menit baca · Cerpen 20384_24990.jpg
silhouette of a person reaching

Tuhan Itu Kejam, Saudara!

Ia semakin bergundang tiada kira. Jengkel. Ia harus memutar lagu tentang kerinduan dan mengencangkan volumenya. Dengan harap, agar tak lagi mendengar dakwah menakutkan itu. Ia tak mau lagi mendengar seruan semacamnya—yang hanya membikin takut adanya. 

Meski akhirnya ia akan galau oleh lagu yang diputarnya, tetapi itu lebih baik daripada mendengar seruan dakwah yang membuat ia bergeming ketakutan.

Pintu kamar kontrakannya ia tutup rapat-rapat. Termasuk jendela kamarnya. Sebagaimana dengan lubang ventilasi yang ia sumbat memakai baju bekasnya. Edi Laksana harus tenang. Telinganya tak ia izinkan untuk bekerja selain mendengar lagu tentang kerinduan.

Surau tak jauh dari kamar kontrakannya. Hanya dua puluh lima meter saja. Masih ramai. Malam itu tengah berlangsung dakwah oleh seorang Dai dadakan. Dan seperti malam-malam sebelumnya, Edi Laksana akan menutup pintu dan jendela kamarnya rapat-rapat. Ia akan menutup lubang ventilasi dengan baju bekasnya. Memutar kencang-kencang lagu tentang kerinduan dan ia akan menggunakan earphone, agar tak mengganggu penghuni sebelah kamarnya.

***

Edi Laksana baru saja pindah dari kontrakan sebelumnya ke kontrakannya yang sekarang. Berdamping tak jauh dengan Surau. Sudah yang sekian kalinya ia berpindah dari kontrakan ke kontrakan lain, tersebab soal yang sama. Ia kerap dibikin tak nyaman. Ia tak tahan mendengar aktivitas dalam gedung ibadah. Meski para pemilik kontrakan benar-benar berupaya mencegah kepergiannya, bagi Edi Laksana tak ada kompromi bila ketentramannya harus terganggu.

"Aku adalah pemilik ketentraman atas diriku sendiri!" Dalam hati Edi bergumam. 

Ia pernah mengontrak kamar yang tak jauh dari Gereja. Jika hari minggu adalah hari bermanja-manja, maka hari itu, bagi Edi Laksana adalah hari tersial dan terburuknya. Jika hari minggu adalah hari untuk tidur semaunya, maka hari itu, bagi Edi Laksana adalah hari bangun secepatnya. Dan menjengkelkan.

Edi Laksana juga pernah mengontrak kamar yang tak jauh dari Masjid. Tak jauh dari Pura. Dan tak jauh dari rumah ibadah lainnya. Dan selalu berakhir mengecewakan. Ia harus pindah. Ia pernah merencana untuk menghindari kamar kontrakan yang berdekatan dengan rumah ibadah.

"Sekarang ini, emang ada kamar kontrakan yang jauh dari rumah ibadah? Yang dekat, banyak."

Memang benar kata teman Edi Laksana. Dan Edi pun pasrah dari rencananya. Bukan karna ia meyakini ucapan temannya. Tetapi ia sudah membuktikannya sendiri.

***

Bangke! Malam itu Edi Laksana betul-betul marah. Memaki habis-habisan. Ia yakin bukan hanya dirinya yang merasa terganggu dengan isi dakwah yang tengah berlangsung. Ia benci mendengar itu. Memang, malam itu isi dakwahnya tentang penyiksaan dalam neraka.

Potong leher, tangan dan Kaki. Disetrika. Lubang anus yang ditusuk hingga menembus mulut. Lidah yang dipotong. Dimatikan sebelum dihidupkan kembali. Semua yang digambarkan hanya kemarahan dan pembantaian. Mana sang Maha Pengasih dan Pemaaf jika begitu adanya? Ada yang salah dengan cara orang-orang beragama, pikir Edi Laksana. Sementara lagu kerinduannya masih berdengung ditelinganya. Merayu dan menggoda.

Bagaimanapun Edi Laksana tak bisa lagi untuk berpindah ke kontrakan yang lain. Kecuali menggembel. Sebab uangnya telah habis membiayai semuanya. Tetapi jika tak pindah, itu artinya ia akan bergundang tiap malamnya. Itu artinya batinnya akan tersiksa. Itu artinya Edi Laksana akan menerima kenyataan pahit bahwa telinganya akan terus mendengar sesuatu yang ia betul-betul tak sudi adanya.

Maka malam itu, kalau mereka mampu menjadi pendakwah dadakan, mengapa Edi Laksana tak bisa? Bukankah cukup hanya dua atau empat potong hadis saja sebagai syaratnya? Itu sangat cukup, pikir Egi. Lebih-lebih lagi ia memiliki hafalan yang banyak. Siapa takut?

Edi mesti menjadi pendakwah, meskipun dadakan. Malam itu hingga cahaya muncul menyentuh titik ufuk timur ia menyusun dan menuliskan isi dakwahnya. Padahal ia tak tahu apakah akan dibolehkan jua memberi dakwah sebagaimana pada malam-malam biasanya. Jikapun boleh, maka selamatlah orang-orang. Edi Laksana begitu yakin.

Dua puluh hari menjelang. Edi Laksana menjadi lelaki yang begitu taat. Seluruh waktunya ia habiskan di surau. Membaca Al-quran dan salat dan kadang hanya tidur-tiduran menunggu waktu untuk salat. Sekali waktu ia akan menjadi Imam salat Magrib juga Isya. 

Datanglah waktunya. Edi Laksana membahwakan dakwah. Bagi orang-orang, Edi memang pantas untuk itu. Sebab bacaan ayat alqurannya memang begitu baik. Lantunanya juga. Meski begitu, Edi tetap tak pongah atas pujian orang-orang.

Pada pembukanya, serupa pendakwah senior, Edi begitu lancar tak terbatah-batah membawakan itu. Jemaah akan mengangguk-anggukan kepala. Entah mengerti, entah tidak. Siapa yang peduli? Tidak ada.

Sampailah ke isi pokok dakwah Edi Laksana: "Ada yang salah dengan cara kita memaknai Tuhan, saudara!" Jemaah tiba-tiba mengangkat kepala mereka. Yang sedari tadi hanya ditundukkan dan diangguk-anggukan saja. Tapi Edi tak peduli. Serupa ketidak-pedulian mereka terhadap orang-orang yang tak nyaman mendengar isi dakwah yang menakutkan.

"Jika Tuhan akan memotong, mematikan dan menghidupkan kembali orang-orang di neraka dan menyiksa dan mematikannya lagi, maka Tuhan itu kejam, saudara." Edi Laksana begitu semangat. "Jika begitu adanya, di mana Tuhan yang Pengasih dan Pemaaf?"

Jemaah hening sebelum mengucap istigfar. Mereka merasa begitu berdosa telah memberi tempat untuk Edi Laksana. Mereka menganggap Edi Laksana tak mengerti bagaimana etika berdakwah. Mereka mendakwa Edi menganut aliran sesat. Ia telah gila. Ia mendakwa Tuhan.

Edi diminta untuk menyudahi dakwahnya secepat mungkin. Jemaah pulang tak karuan sembari mengumpat di sana-sini. Biadab! Itu yang tertangkap oleh telinga Edi. Meski Edi merasa tak ada yang salah dengan dakwahnya, seluruh jemaah tetap bubar. Tak tersisa.

Esok harinya Edi Laksana diusir dari kamar kontrakannya. Ia tak lagi diberi izin untuk tinggal. Di sini tak ada tempat bagi penganut aliran sesat!, kata warga setempat.

"Dan saya bersumpah demi Tuhan yang kalian sembah, tak ada tempat bagi kalian kecuali di neraka!" Edi Laksana berlalu dan pergi. Entah di mana. Mungkin di surga. Sebab nereka hanya milik mereka yang mengusirnya. Itu sumpahnya.