Ada suatu masa di saat kau telah memiliki banyak hal, namun kau selalu saja merasa ada yang kurang. Iya, aku setuju jika manusia memang tidak pernah merasa puas. Tapi, kali ini kita berbicara tentang kepuasan yang berbeda. 

Kau memiliki keluarga yang mencintaimu, pekerjaan yang kau sukai, dan gaji yang tinggi. Tapi, selau saja ada yang kurang. Sesuatu itu disebut dengan kekosongan. Kau merasa ada yang kosong dalam hidupmu, di tengah kesempurnaan hidup yang telah berhasil kau rengkuh. Ada yang kosong.

Aku tidak yakin mengapa aku merasakan ada keterkaitan antara aku dan buku ini. Aku merasa kosong, dalam banyak kesempatan. Bahkan juga di akhir pekan. 

Buku ini pun bercerita tentang kekosongan. Apakah menurutmu hanya karena rasa kosong itu sehingga aku merasa terhubung dengan buku ini? Entahlah. Namun, bahkan setelah membaca buku ini, rasa kosongku pun tak kunjung terisi. Haha.

Lupakan tentang aku dan kekosongan. Buku ini religius sekali. Ya, aku ingin mengatakannya seperti itu. Terlepas jika nantinya kau akan mengatakan kalau buku ini begitu mistis. Itu urusanmu dan aku tidak tertarik mencampurinya.

Buku ini berkisah tentang seorang perempuan muda, Shirene Kahlil atau dikenal juga sebagai Athena. Ia adalah seorang ibu beranak satu, yang dalam buku ini disebut sebagai penyihir. 

Buku ini tidak pernah menggambarkan Athena secara langsung, tapi menggambarkan Athena melalui orang-orang yang dikenalnya. Sebuah sudut pandang penulisan yang menarik menurutku.

Akan kugambarkan bahwa memang buku ini sangat religius. Athena digambarkan sebagai gadis muda yang rutin mengunjungi gereja setiap hari Minggu. Ia melantunkan lagu-lagu rohani diiringi petikan gitar yang ia mainkan. 

Ada keinginan dalam dirinya untuk menjadi seperti Maria, yaitu memiliki anak. Karena itu, ia menikah dengan kekasihnya pada usia 20 tahun walaupun bercerai kurang dari 2 tahun setelahnya.

Ada satu peristiwa yang menurutku menjadi titik balik dalam kehidupan Athena. Pada suatu hari di gereja, sang Pastor menolak memberikan hosti kepadanya dengan alasan, bahwa perempuan yang telah bercerai tidak boleh mendapatkan hosti. Athena marah, dan mengatakan bahwa Tuhan selalu ada bagi mereka yang lemah dan membutuhkan yang datang kepada-Nya.

Ia menjelaskan bahwa dirinya sedang dalam keadaan tersebut, namun mengapa ia ditolak oleh gereja? Sejak saat itu, Athena bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di tempat (gereja) itu lagi.

Setelah mencapai semua yang bisa ia capai dalam hidup, keluarga yang bahagia dan karier yang cemerlang, Athena masih saja merasa ada yang kurang. Ia mengetahui sejak lama bahwa ia adalah anak adopsi. Ia selalu berusaha meyakinkan kedua orang tuanya agar mengizinkannya mencari ibu kandungnya.

Awalnya, kedua orang tuanya selalu menolak. Bisa saja Athena pergi mencari ibunya dan tidak kembali lagi. Namun, seperti halnya Athena, bukankah setiap orang juga ingin kembali ke tempat mereka berasal? 

Keluarga Athena adalah pengungsi dari Lebanon yang bermukim di Inggris. Mereka melarikan diri dari perang saudara yang berkecamuk di sana, dan dengan cara apa pun mereka selalu ingin terhubung dan berharap dapat kembali ke Lebanon lagi suatu hari nanti. Bukankah Athena juga demikian? Akhirnya, Athena mendapatkan izin.

Ia akhirnya menjelajahi daratan Transylvania dan tiba di Romania. Pendek kisah, ia akhirnya menemukan ibu kandungnya. Athena tidak mengelak jika ia adalah keturunan kaum Gipsi. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan seperti apa Kaum Gipsi itu sebenarnya. 

Dalam buku ini, Kaum Gipsi pada masa abad pertengahan, digambarkan sebagai orang-orang yang menguasai ilmu sihir. Karena itu, mereka dibantai. Intinya, kata Gipsi berkonotasi serba buruk dalam masyarakat. Ilmu sihir, hidup nomaden, menculik anak kecil, kebebasan, dan selalu menari.

Setelah bertemu dengan ibunya, Athena merasa sisi kosong dalam dirinya mulai terisi sedikit demi sedikit. Pertemuannya dengan ibunya membawanya menjadi makin religius—ataukah mistis (?).

Hal menarik dalam buku ini yang “mengena” adalah bahwa apa yang dilakukan Athena, gurunya, dan kelompoknya dengan ritual musik dan tarian adalah apa yang disebut “membangunkan” Sang Ibu atau menemukan sisi feminin Tuhan.

Sisi feminin Tuhan, kau tahu itu?! Atau bahkan tak pernah sedikit pun terpikirkan olehmu tentang hal itu? 

Baiklah, mari kita berpikir sejenak. Apakah “Tuhan” itu maskulin? Jika kau bertanya kepadaku, jawabanku adalah tidak. Tuhan tidak maskulin. Tapi, jika term kata “Tuhan” dalam banyak kebudayaan memang merujuk pada kata maskulin, maka itu memang benar adanya.

Dalam bahasa Indonesia, kata Tuhan itu netral. Kita biasanya menyebutnya dengan “Dia”. Menggunakan huruf kapital. Lagi pula, toh memang bahasa Indonesia tidak membagi jenis kelamin benda. Tapi, bagaimana dalam bahasa yang lain. 

Sejauh pemahamanku yang tidak jauh-jauh amat, dalam bahasa Arab, kata “Allah” merujuk pada sifat-sifat maskulin. Dalam bahasa Inggris, kita menggunakan kata “He” atau “Father”. Bukankah itu semua memang merujuk pada maskulinitas? Sehingga, sudut pandang menemukan sisi feminin Tuhan sangat menggelitik bagiku.

kefemininan, Sang Ibu, Ibu Agung, Great Mother, itu semua adalah apa yang digeluti Athena setelah perjumpaannya dengan ibu kandungnya. Itu semua ada dalam tradisi Kaum Gipsi. 

Dikatakan bahwa kaum Gipsi tidak menyembah. Karena menyembah berarti memisahkan diri dari apa yang kita sembah, sesuatu yang kita sembah itu ada di luar dari diri kita. Sedangkan mereka memahami bahwa mereka dan sesembahan mereka adalah satu. Mereka adalah bagian dari diri-Nya. Menarik, bukan?

Mereka menyatu dengan-Nya dalam tarian dan musik. Karena itu, Kaum Gipsi selalu menari. Mereka menari untuk mencari suatu keadaan yang dinamakan “trans”.

Entahlah apakah itu sama dengan keadaan “khusyuk”. Aku tidak bisa memastikan. Mereka melihat sifat Ibu Agung seperti pada manusia. Seorang ibu akan selalu melindungi dan menyayangi anaknya. Mungkin karena itu sehingga mereka melihat Tuhan sebagai sesuatu yang sebenarnya feminin.

Hingga akhirnya, banyak masyarakat yang menolak ritual yang dilakukan Athena ini. Mereka menyebutnya sebagai ritual sihir dan Athena adalah seorang penyihir. 

Pada akhirnya aku berpikir bahwa sesuatu yang kita sebut sebagai agama adalah ajaran yang mengajarkan kita kebijaksanaan. Apakah kita akan membenci seseorang hanya karena dia tidak percaya pada apa yang kita sebut sebagai “Tuhan”?

Penyihir dari Portobello mengacu pada tokoh sentral buku ini, yakni Athena yang orang-orang sebut sebagai penyihir. Sedangkan Portobello adalah nama sebuah jalan, tempat Athena dan kelompoknya melakukan ritual mereka setiap Senin malam.

Selamat membaca dan selamat mencari kebijaksanaan, kawan.

  • Penulis:  Paulo Coelho
  • Tahun Terbit:  2010, Cetakan ketiga
  • Penerbit:  Gramedia
  • Alih Bahasa:  Olivia Gerungan