Pekan lalu, media massa dengan amat berisik memperbincangkan aksi seorang siswi salah satu sekolah menengah pertama di Jakarta Timur. Gadis berinisial SN nekat terjun bebas dari lantai empat sekolahnya. Konon, SN tak kuat lagi menerima bully dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Sayangnya, perbincangan publik terhadapnya hanya berfokus pada perundungan yang dialami SN. Namun abai, bahkan mungkin tak tebersit untuk mengulas salah satu isu terpenting dalam sejarah kehidupan manusia, yakni bunuh diri.

Bukan hanya merupakan isu terpenting, tapi juga krusial dan dilematis. Ini bukan tentang statistik angka kematian, akan tetapi perihal sebuah pertanyaan besar "mengapa atau untuk apa hidup perlu dipertahankan?."

Bunuh diri, bagi sebagian besar orang, merupakan tindakan pengecut, yang hanya dilakukan oleh seorang yang takut dan tak kuat menjalani hidup.

Kita menolak bunuh diri, apa alasannya? Umumnya kita akan menerima jawaban: "Karena tuhan telah melarangnya!" Jika terhenti pada alasan dogmatis semacam itu, penelusuran dan pendalaman analitis terhadap bunuh diri menjadi mandek, bahkan nihil.

Justru, bunuh diri yang bukan lagi isu partikulat perlu dibahas publik secara terbuka tanpa enggan dan bayang-bayang tabuisme. Nihilnya pemahaman ihwal itu menjadikan kita tak akan pernah mampu merumuskan upaya penghentian, atau setidaknya penekanan.

Penghentian dan atau penekanan yang dimaksud bukan ditujukan pada seseorang pengidap absurditas hidup, yang berencana untuk bunuh diri. Tetapi, penekanan angka statistik bunuh diri sebagai fenomena sosial.

Sebab, kepedulian dan intervensi terhadap seseorang yang merencanakan kematiannya sendiri juga agaknya juga problematis. Kalangan libertarian tentu akan berteriak keras kepada negara, juga kepada psikiatri, yang berencana mencampuri urusan penetuan nasib orang lain.

Fenomena bunuh diri bukanlah hal yang sederhana, terdapat jalinan pemikiran yang tidak dangkal di dalamnya. Maka dari itu, kita perlu mendudukkannya, tentu saja secara adil.

*

Kita belum memiliki argumentasi yang memadai untuk menjustifikasi penghentian seseorang yang berniat menerjang kereta listrik yang melaju kencang, meskipun siapa pun tak tega hati melihat isi perut seseorang terburai. Hambatan terbesar dalam hal ini adalah kebebasan dan hak asasi, dengan berbagai intepretasi dan kontekstualisasinya dalam hal ini.

Apakah hak seseorang untuk menentukan nasib sendiri, atas dasar kebebasan diri, layak dihilangkan haknya unruk sementara waktu, ketika berniat untuk mati?

Ataukah kita menganggapnya sebagai pembajakan kebebasan, dengan alasan "kebebasan dimiliki bukan untuk menghancurkan fasilitas kebebasan". Jika begitu, yang sebetulnya dihargai manusia atau hanya kebebasannya. Bukankah kebebasan lahir hanya karena seseorang manusia adalah manusia?

Pencekalan terhadap bunuh diri memiliki rentang sejarah yang cukup panjang. Terdokumentasikan dengan baik sejak Yunani Kuno.

Plato, misalnya, mengulas bunuh diri dal dua karyanya, yakni Phaedo dan Laws. Menceritakan ketika Sang Guru Socrates mengatakan: "Bunuh diri selalu salah, karena itu memaksa diri (jiwa) lepas dari 'pos penjaga' (tubuh/raga), yang mana dewa menempatkan kami sebagai bentuk hukuman" (Phaedo, 61b-62c).

Kemudian, dalam Laws, Ia membuat klaim bahwa "bunuh diri itu memalukan, pelakunya harus dimakamkan di kuburan yang tidak ditandai (nisan)." (Laws, IX 854a 3-5). Namun, Plato disini mempunyai standar lain yang mewajarkan bunuh diri jika; orang itu rusak moral tak terselamatkan, dipaksa oleh pengadilan, dalam kemalangan ekstrem (misalnya sakit kronis), sebab rasa malu karena berbuat kejahatan.

Jika ditelaah sedikit lebih dalam, argumentasi Plato berpijak pada asumsi dasar bahwa bunuh diri tidaklah patut, kecuali terdapat faktor eksternal yang memaksa. Tapi, bukankah perilaku bunuh diri selalu terkait dengan eksternalitas yang memaksa?

Mari kita mulai dengan analisis konseptual mengenai bunuh diri. Bunuh diri adalah upaya menghilangkan nyawa sendiri dengan melakukan tindakan kausal yang menciptakan 'kondisi mati'. Konsep premisnya sederhana, mengetahui syarat kematian dan menyesuaikan aksi yang berakibat memenuhi syarat itu.

Lantas kita menjadi bingung, apakah berbeda matinya Socrates, yang dipaksa oleh pengadilan menenggak racun, dengan kematian SN yang menjatuhkan diri dari lantai 4 sekolahnya. Apakah berbeda, seorang intelejen tersekap yang menembakkan pistol ke Prefrontal Cortex, untuk memastikan dirinya mati atau paling tidak kehilangan kesadarannya sebagai manusia, agar informasi rahasia negara tak terkorek.

Satu hal yang pasti sama adalah semua mengalami ketersudutan, termasuk SN. Gadis itu pasti tak ingin merasakan sakitnya kematian. Sayangnya, pedihnya sayatan pengalaman hidup, meyakinkannya bahwa rasa nyeri tulang tengkorak pecah tak lebih sakit dibanding kondisi mental yang selalu terasa dirajam. Bukankah itu sama dengan ketersudutan?

Pelaku bunuh diri tidak ingin mati. Meraka hanya ingin mendapatkan kenikmatan, artinya melepaskan diri dari kesengsaraan yang menyudutkan. Berlaku pula pada kematian yang 'dibantu dokter' atau eutanasia. Penyakit dan harapan hidup yang minimal, menjadikan seseorang terpaksa mati. Dinilai lebih baik daripada penderitaan panjang.

Pada kasus lain, pelaku bom bunuh diri dalam rangka menjeput tujuh puluh bidadari di surga, ada pada dimensi yang sama. Ia mendang bahwa dunia ini buruk, maka akan lebih baik jika ditinggalkan, menuju sebuah kenikmatan abadi di surga. Kematian orang lain hanyalah mahar dan kematian diri merupakan syarat utama untuk mencapainya.

Jadi, kini menjadi sulit untuk mengatakan bahwa kematian seorang tentara, yang ketika mendaftar artinya menghibahkan kepalanya untuk negara, lebih mulia dibandingkan kematian gantung diri korban investasi bodong.

Keduanya sama-sama mengerti konsekuensi kematian, hanya saja rantai prosedurnya yang agak berbeda. Pada hal ini rantai kematian si tentara malang lebih panjang.

*

Satu hal yang pastinya berbeda adalah anggapan pembunuhan diri pada beberapa kalangan tertentu dianggap mulia. Satu hal yang sebagian orang besar orang percayai, adalah yang membedakan derajat pelaku bunuh diri pada peran sosial yang dimiliki.

Ini harus dipertegas, bahwa peran sosial yang dimiliki, seyogianya memang harus menjadi pertimbangan bagi perencana bunuh diri. Tapi bukanlah hal yang patut dijadikan indikator derajat kemuliaan bunuh diri.

Misalnya, anda yang seorang kepala sekolah telah merencanakan bunuh diri. Anda sadar bahwa kandidat kepala sekolah yang potensial menggantikan anda, adalah seseorang yang secara personal membahayakan, korup dan paedofil. Sebelum anda benar-benar menenggak sianida, mungkin terlebih dahulu memikirkan atau menyelesaikan adalah sebuah hal yang patut.

Mungkin contoh diatas sedikit berlebihan dan terkesan di dramatisasi. Akan tetapi, tidaklah berbeda pula jika kita mengganti peran sosial seorang kepala sekolah dengan peran yang lebih alamiah dan emosional, misalnya suami.

Seorang suami yang bunuh diri, harus menyelesaikan urusannya dengan sang istri. Kematian pasangan tentu saja memberikan kesedihan mendalam, itu pasti. Tapi jika memang dapat dikompromikan, maka argumentasi peran sosial dalam konteks ini dapat dicerahkan.

Peran sosial bukan penentu kemuliaan, melainkan hal yang sepenuhnya bersifat individual. Seperangkat hal yang kudu diselesaikan, tapi tak terkait langsung dengan status benar atau tidaknya bunuh diri.

Bisis pemikiran kemulian dengan latar belakang perbedaan peran sosial berangkat dari pemikiran masyarakat yang ultra komunitarian. Hal ini yang membuat terkesan berbeda, antara kematian bunuh diri seorang otaku psiko dan seorang samurai.

Pengaitan antata peran sosial dan bunuh diri haruslah diperhentikan. Selain dimensinya memang personal, anggapan komunitas merugi karena seseorang anggota masyarakat yang mati bunuh diri adalah corak pikir masyarakat yang ultra komunitarian.

Eksploitatif terhadap individu, sedikit menghargai kehendak bebas dan hak kodrati seseorang. Menciptakan relasi kuasa, menjungkirkan fakta bahwa masyarakat ada secara alamiah karena untuk kebermanfaatan individu. Serta malah memerah individu dengan tangan besi otoritas moral.

Jadi, argumen perbedaan 'kemuliaan' pelaku bunuh diri sama sekali tidak berangkat dari perspektif norma yang adil. Selain itu, bukankah tidak semua masyarakat bercorak komunitarian, juga tidak semua masyarakat bersifat individutarian?

*

Hanya ada satu jenis argumentasi penentang aksi bunuh diri yang sulit untuk dijawab. Kesulitan ini muncul bukan karena kualitas argumentasi dan fakta yang diajukan, tetapi karena berasal dari dogmatisme ortodoksi sebuah entitas kekuasaan bernama agama.

Kekeliruan terjadi bukan karena argumentasi yang diberikan cacat, melainkan karena mempertanyakan agama secara mendasar dipahami sebagai kesalahan, tak lazim dan berdosa.

Padahal selama pelarangan agama terhadap bunuh diri bersifat argumentatif, kemungkinan munculnya sanggahan telak adalah tidak mustahil. Sayangnya, berhadapan dengan otoritas raksasa yang mematok kebenaran adalah keadaan yang tidak memungkinkan argumentasi hidup.

Banyak pemikir yang telah memberikan sanggahan pada doktrin agama tentang bunuh diri. Salah satu yang termasyur adalah kritik Davide Hume dalam esainya yang berjudul On Suicide.

Tapi penulis tidak ingin membahas itu. Doktrin agama ihwal bunuh diri bagi penganutnya adalah final. Tak boleh dinegosiasi, karena begitulah sifat agama. Yang ingin penulis ajukan adalah, jika agama tak bergeming merespon bunuh diri, dan kita boleh menduga Tuhan mengijinkannya. Maka bagaimana kita akan melihat bunuh diri ini?

Bunuh diri sebagai isu moral (filosofis), sosial, dan tentu saja mental melibatkan banyak hal yang selang sengkarut. Jika kita bisa mengandaikan Tuhan mengijinkan bunuh diri, kita akan mampu untuk memformulasikan upaya yang setidaknya tepat, minimal adil.

Kemudian kita mampu mendudukan intervensi, perihal etika, moral, kondisi mental, depresi, absurditas, peran negara, hak asasi dan berbagai hal lain yang terjalin berkelindan erat dengan bunuh diri sebagai fenomena.

Pemahaman yang sedikit luas dalam memandang bunuh diri, paling tidak mampu memandu kita untuk menyadari realitas bunuh diri. Dari situlah menekan angka statistik bunuh diri menjadi mungkin. Sebab dibangun pada sebuah pemahaman, bukan pada larangan yang mutlak kudu dipatuhi.

Tulisan tentu tak mampu membahas semua problem sentral bunuh diri. Dan pun ini hanya berisikan sekumpulan pertanyaan. Dengan harap, pembaca sekalian turut menjawab pertanyaan terpenting dalam sejarah "apakah hidup, mengapa harus dipertahankan", yang dalam bentuk lain "bunuh diri" ada penyingkatan pertanyaan tersebut.

Jadi, Tuhan, izinkan aku bunuh diri. Agar ia terbahas dan mampu dipahami.