Ada inkonsistensi dalam narasi tentang agama dalam hal usaha untuk membawanya kepada wilayah rasional dalam nalar berpikir kita. 

Ada yang berpendapat bahwa agama tidak dapat dirasionalkan, sebagaimana rasionalisasi itu sendiri hanya berlaku pada wilayah-wilayah kajian yang masih berada dalam kapabilitas akal manusia untuk memproduksinya; sementara agama adalah tentang keimanan dan keyakinan kepada hal-hal yang, bahkan, akal manusia tidak mampu untuk menjamahnya. 

Yang luput dari pemikiran orang-orang yang meyakini argumen ini adalah bahwa beragama itu sendiri merupakan usaha manusia untuk merasionalisasi eksistensi alam semesta yang mereka berada di dalamnya. 

Bahwa, sejauh yang nalar manusia bisa capai, adalah mustahil alam semesta berikut isinya ada tanpa kehadiran sosok pencipta. Sebagai makhluk dengan rasa keingintahuan yang tinggi, manusia harus menemukan ‘sosok pencipta’ tersebut. Lantas, sebagai kompensasi atas keingintahuan tersebut, bakat spiritual dalam diri manusia memunculkan apa yang kita kenal hari ini sebagai Tuhan.

Tuhan harus ada untuk memuaskan dahaga manusia akan rasionalisasi terhadap eksistensi alam semesta. Tapi kenapa narasi yang muncul kemudian adalah bahwa beriman tidak boleh pakai logika? 

Jika kita tidak bisa menerima kehadiran alam semesta tanpa meyakini adanya sang pencipta sebagai bentuk rasionalisasi, kenapa narasi-narasi ketuhanan dan keberagamaan cenderung menomorduakan bahkan menafikan pemikiran-pemikiran rasional? Ingatlah ketika kaum beragama menolak mentah-mentah teori seorang ilmuwan yang, kala itu, mengatakan bahwa alam semesta tercipta melalui mekanisme kesertamertaan (spontaneous). Ilmuwan itu mengatakan bahwa pada akhirnya, dalam hal kemunculan alam semesta, kehadiran Tuhan tidaklah dibutuhkan (not necessary). 

Nalar kaum beragama pun teriak: bodoh sekali pendapat itu! Tidak mungkin sesuatu tercipta tanpa ada yang mencipta! Padahal, teori itu hanya mengambil perannya sebagai manifestasi pemikiran manusia yang berkembang, di samping juga sebagai rasionalisasi alternatif—jika tidak bisa disebut revisi—terhadap argumen mengenai sebab terciptanya alam semesta.

Sayangnya, teriakan protes kamu beragama itu berakhir hanya sebagai sebuah klaim: proses logika yang melompat terlalu jauh kepada kesimpulan, tanpa melewati reasoning yang, paling tidak, dapat memancing perdebatan. Menginisiasi perdebatan menjadi penting dalam hal ini guna mendukung diskursus agama untuk dapat diperhitungkan dalam kancah kemajuan ilmu pengetahuan. Mengingat, yang terjadi di tengah-tengah kita belakangan ini adalah munculnya dikotomi antara ‘menjadi beragama’ dengan ‘menekuni ilmu pengetahuan’. Kita senantiasa gagal dalam mempertemukan keduanya di dalam ruang-ruang diskusi.

Kecenderungan yang muncul adalah kaum beragama lebih sering menyandarkan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang ilmu pengetahuan secara umum kepada para pemuka agama. Dari sini saya akan mulai mengambil pemeluk agama Islam sebagai contoh, karena saya juga seorang muslim sebagaimana mayoritas penduduk Indonesia lainnya.

Dalam konteks mengejar pemahaman yang utuh tentang alam semesta, semestinya kita datang kepada para ahli atau orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk bidang ilmu pengetahuan tertentu yang relevan dengan subjek yang ingin kita pahami. Hal ini juga bahkan difirmankan di dalam Alquran: manusia diperintahkan untuk mendatangi ahli jika tidak memahami sesuatu.

Katakanlah, teori evolusi. Kita cenderung kebingungan antara memercayainya, atau melemparkannya pada jurang polemik dengan pengetahuan agama. Dalam rangka mengejar surga, kita akan cenderung menjatuhkan pilihan kepada opsi yang kedua, dengan datang kepada ustaz atau kiai lantas meminta pendapat mereka tentang teori evolusi. Masalahnya, ustaz dan kiai tidak menghabiskan waktunya untuk mengkaji kebenaran teori tersebut. Bantahan yang kemudian muncul tentu akan didasarkan kepada ayat suci maupun dalil-dalil dari perkataan Nabi.

Objektif dari science vs agama secara fundamental telah berbeda. Science mengkaji dan menguji kebenaran, sedang agama membimbing pemeluknya menuju surga. Tugas kita sejatinya adalah semudah merangkul science sembari berjalan menuju surga dengan memeluk agama. Namun, dari sini muncul kebingungan lainnya: bagaimana caranya merangkul science ketika science itu sendiri tidak berada di jalan yang sama dengan jalan yang kita tempuh untuk menuju surga?

Saya pikir kita harus menempatkan ayat suci pada kapasitasnya untuk memberi 'kritik' terhadap science, tidak lebih. Biarkan science mencari pembuktiannya sendiri tanpa harus diinterupsi oleh dalil-dalil samawi. Kritik yang dimaksud dapat berupa pengakuan bahwa kebenaran yang dibawa oleh kitab suci selalu terbuka untuk setiap interpretasi, selama metode yang digunakan adalah metode yang ilmiah, sehingga dapat diuji.

Jika temuan scientific secara kebetulan sama dengan apa yang termaktub dalam halaman-halaman kitab suci, maka kita anggap itu sebagai pengetahuan dan nalar kitab suci atas gejala alam yang terjadi. Jangan jadikan itu sebagai 'penguat iman', sebagaimana yang selama ini para pendakwah tuturkan. 

Sehingga, ketika suatu saat temuan scientific bertentangan dengan apa yang kitab suci sampaikan, kita pun dapat katakan bahwa yang demikian sejatinya tidak membuktikan bahwa kitab suci keliru, melainkan terbukanya interpretasi baru. Berangkat dari sana, umat beragama dapat memulai kajian ulang terhadap kitab suci mereka, guna membangun jembatan penghubung antara kedua jalan yang berbeda.

Pilihan lainnya adalah: kita tetap berjalan menuju surga sembari menutup mata atas apa yang terjadi di sekeliling kita. Memilih pilihan ini pun sah-sah saja. Tidak ada yang melarang. Namun konsekuensinya adalah kita menafikan sifat alami manusia yang paling istimewa: berpikir. 

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa beragama berarti tidak berpikir, hanya saja beragama tanpa pemikiran yang terbuka adalah dosa, yang artinya melanggar perintah agama itu sendiri, mengingat perintah untuk berpikir dan mengejar ilmu pengetahuan, saya pikir, adalah doktrin utama semua agama. Namun bagaimana jadinya jika agama itu sendiri yang menghalangi kita untuk menaati ajarannya. Paradoks inilah yang sejak awal tulisan berusaha saya singkirkan.

Tenang saja, kebenaran berubah, tapi surga tidak akan ke mana-mana.