Mahasiswa
3 tahun lalu · 799 view · 3 min baca menit baca · Budaya alone.jpg
Foto: somehowperson.wordpress.com

Tuhan dan Ruang yang Mungkin Benar

Tanggapan atas Problem Teologis Dedy Ibmar

Ruang adalah Tuhan. Itulah konklusi sederhana dari hasil pemikiran yang dikemukakan oleh Bung Dedy Ibmar dalam risalah pertamanya di Qureta yang berjudul “Ruang adalah Tuhan yang Sebenarnya”.

Kemudian, risalah tersebut menuai kontroversi, pro dan kontra pun hadir sebagai tanggapan. Iskandar Gumay misalnya, ia menghadirkan ketidaksepakatannya dengan menulis risalah yang berjudul “Sekiranya Tuhan adalah Ruang, maka Dia akan Musnah”.

Ketidaksepakatan Iskandar Gumay tersebut oleh Deden M. Rojani kemudian ditanggapi dengan risalah berjudul Menyoal Epistemologi Kebenaran. Sederhananya, Deden menganggap bahwa Iskandar Gumay keliru dalam memahami konsep Ruang yang dikemukakan oleh Dedy Ibmar.

Tak berhenti sampai di situ, ketidaksepakatan prihal “Ruang adalah Tuhan” kemudian dilontarkan oleh R. Iffat Aulia Ahmad, dengan risalah yang berjudul “Menguji Logika Ketuhanan Ruang”. Pendekatan yang digunakan tentu dengan Logika formal deduktif yang Anda bisa baca sendiri dalam risalahnya tersebut.

Dialektika pemikiran tersebut tak membutuhkan jeda waktu berabad-abad, seumpama al-Ghazali yang mengkritik Ibn Sina dan kawan-kawan dengan risalah Tahafut al-Falasifah, kemudian beberapa abad selanjutnya Ibn Rushd hadir sebagai pembela dengan risalah Tahafut al-Tahafut.

Lantas, dalam perseteruan dan/atau dialektika pemikiran ini, posisi saya sebagai apa? Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab saya nyatakan bahwa saya akan membela dan menyederhanakan pemikiran Dedy Ibmar tersebut.

Alasannya sederhana, sebelum risalah pertama Dedy Ibmar tersebut hadir, beberapa malam sebelumnya, saya, Dedy Ibmar, Syahrul Ramadhan, dan beberapa kawan lainnya berdiskusi dan berdebat serius dari mulai Isya sampai waktu menjelang pagi. Diskusi dan perdebatan tersebut berlangsung di malam-malam selanjutnya.

Perlu diketahui, bagi kami, diskusi memacam itu sudah kami lakoni bertahun-tahun lamanya. Ya wajar saja karena kami mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat UIN Ciputat. Diskusi kami terwadahi dalam forum kajian bernama Pojok Inspirasi Ushuluddin (PIUSH).

Diskusi tersebut diawali dengan satu pertanyaan mendasar, “Apakah Ruang itu ada?” Jawabannya tentu ada. Kemudian, “Apakah materi itu ada?” Jawabannya tentu ada pula. Jika Ruang tidak ada, apakah mungkin materi itu ada? Tidak mungkin, karena keberadaan materi niscaya membutuhkan ruang untuk mengada.

Kemudian, jika seandainya semua materi itu tidak ada atau materi yang ada lenyap/hilang, apakah Ruang juga ikut tidak ada atau lenyap/hilang pula? Jawabannya, akal/pikiran kita masih dapat mengandaikan bahwa Ruang tersebut niscaya tetap ada (eksis) dengan kekosongannya itu.

Ya, yang ada hanyalah Ruang Kosong tanpa materi walau hanya sebiji dzarah. Kekosongan Ruang tersebut yang oleh Deden M. Rojani dibahasakan dengan istilah Ruang Maha Kosong. Ia tetap ada (eksis) walau semua materi yang ada musnah terkena sesuatu yang disebut “entropi”. Penjelasan perihal entropi tersebut secara jelas bisa dibaca dalam risalahnya Iskandar Gumay.

Konklusinya adalah bahwa secara ontologis, Ruang itu ada, dan akan tetap ada, walau semua materi yang ada diniscayakan semuanya akan musnah nan fana.

Pertanyaan selanjutnya, “Ruang itu apa?” Menurut hasil diskusi itu, kami pun menyepakati definisi bahwa Ruang adalah sesuatu yang ada (being, wujud), sebagai syarat utama di mana sesuatu yang lainnya mengada (becoming, maujud). Tanpanya, tidak mungkin sesuatu yang lain itu ada. Ia adalah syarat yang niscaya ada.

Kemudian diskusi kami pun sampai pada pertanyaan berikutnya: “Karakter atau sifat apa saja yang melekat pada Ruang tersebut?”

Bahwa Ruang itu satu, tak terpisah dan bukan sesuatu yang dapat dibagi-bagi. Adanya sangatlah sederhana. Kesederhanaannya menjadi sandaran bagi keberadaan semua materi yang sangat majemuk dan kompleks. Dan tiada satu pun materi yang ada yang tidak diliputi oleh Ruang. Ia utuh dan menyeluruh.

Sebelum semua materi mengada dan ada, Ruang adalah syarat pertama yang wajib ada. Saat semua materi hancur dan musnah, Ruang menjadi sesuatu yang terakhir ada. Dialah yang pertama dan yang terakhir.

Apakah Ruang itu terbatas? Sampai saat ini, para ilmuan/saintis dan tentu saja saya yang pengangguran ini belum menemukan batasan-batasan Ruang. Tiada seorang pun yang dapat memastikan bahwa Ruang itu terbatas. Yang ada hanyalah pengetahuan kita tentang ukuran jarak Ruang “yang terketahui” dan “yang tak terketahui”. Ia masih misteri.

Di hadapan kita, Ruang itu terkesan tampak (dzahir) sekaligus tak tampak (bathin). Kehadiran dan ketidakhadirannya tergantung pada bagaimana kita memersepsinya. Dan sekali lagi, tiada satu pun yang ada (materi) tidak terliputi oleh Ruang.

Sesederhana itulah diskusi kami tentang Ruang; Ada, satu, sederhana, tak terbagi, meliputi, tak terbatas, sandaran bagi ada yang lian, tampak, tak tampak, pertama, terakhir dan sifat-sifat lain yang masih kami pikirkan.

Di ujung diskusi, ketika kopi hitam dan rokok kretek habis, terlontar pertanyaan: “Bukankah Tuhan pun demikian?” Kami pun tertawa, kemudian istighfar.

Artikel Terkait