Manusia dan Tuhan adalah suatu hubungan primordial yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Tuhan dipercayai atau diimani sebagai zat Adi Kodrati oleh manusia dalam hal laku spiritualnya. Kepercayaan manusia akan adanya Tuhan sudah berlangsung sejak manusia pertama turun ke muka bumi.

Manusia dalam pertemuannya akan Tuhan didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan manusia akan siapa atau apa yang berada dalam tingkatan kesadaran di atas kesadaran manusia. Untuk menjawab adanya kesadaran di atas kesadaran manusia, diperlukan kesadaran yang lebih tinggi dan lebih berkesadaran. Tuhan dipercayai sebagai dzat yang lebih berkesadaran tersebut.

Menurut Ali Anwar dan Tono TP menjelaskan cara manusia dalam menemukan Tuhan. Ia membagi kepercayaan Tuhan atas bagaimana kepercayaan tersebut dibangun. Pertama, kepercayaan kepada Tuhan itu ada sebagai proses interaksi manusia dengan alam sekitar. 

Pola ini bisa kita temukan dalam kepercayaan-kepercayaan panteisme yang menganggap bahwa setiap benda di alam semesta ini digerakkan oleh kekuatan transendental. 

Matahari, bulan, gunung, bumi, sungai, dan sebagainya adalah manifestasi dari Tuhan. Tuhan diyakini sebagai jawaban atas fenomena alam yang belum terjelaskan. Kedua, kepercayaan kepada Tuhan dibangun atas turunnya "wahyu" melalui utusan Tuhan. Hal ini bisa kita temukan pada agama-agama  samawi seperti Islam, Yahudi, dan Kristen. 

Kepercayaan akan adanya Dzat Tunggal Maha Kuasa di atas kesadaran manusia secara alamiah maupun melalui utusan menjadi hal yang dibutuhkan manusia sebagai seorang hamba. Tak peduli apa agama dan bagaimana kepercayaan tersebut dibangun, mereka tetap butuh menjadi makhluk yang bertuhan. 

Baca Juga: Menipu Tuhan

Dalam sebuah kutipan yang ditulis oleh Marx, ia mengungkapkan bahwa: "Tuhan menjadi delusi yang menenangkan mereka dari penderitaan mereka. Agama menjadi candu rakyat." Dalam pandangan Marx, berita tentang hukum Tuhan dan eksistensinya diduga akan memecahkan konsentrasi para pekerja sehingga seluruh permasalahan sosial mereka akan diabaikan untuk sebuah pekerjaan pemujaan. 

Sisi positifnya, segala penderitaan mereka di dunia akan ditenangkan dengan iming-iming balasan di akhirat. Inilah yang disebut sebagai Marx sebagai candu atau opium. Kepercayaan akan adanya Tuhan digunakan sebagai pemuka agama sebagai alat untuk sejenak melupakan dunia dengan segala ketersakitannya, kemudian sejenak memikirkan hidup di akhirat dengan segala nikmat-Nya.

Dengan segala kepercayaan akan Tuhan di atas, haruskah manusia beragama di masa kini?

Agama merupakan tata nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan yang dipercayai, hubungan manusia dengan alam, atau hubungan manusia dengan manusia lainnya. Agama digunakan sebagai suatu tuntunan untuk mencapai ajaran Tuhan sesuai yang dianutnya. 

Menurut Mc Guire, ia mengungkapkan bahwa:"Diri manusia memiliki bentuk sistem nilai tertentu. Sistem nilai ini merupakan suatu yang dianggap bermakna bagi dirinya." Artinya, manusia membutuhkan agama sebagai sistem nilai yang bisa menjadi pedoman.

Apabila manusia tidak memiliki sistem nilai, maka mereka akan menjadi manusia yang bebas nilai. Menurut Mahfud (2015), apabila seorang manusia tidak memiliki sistem nilai, maka ia tak memerlukan aturan-aturan yang mengikat kehidupannya baik secara formal maupun nonformal. 

Agama mencakup pengetahuan akan baik dan buruk. Hukum ditegakkan apabila seseorang tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Karena seseorang yang bebas nilai tidak memiliki dasar pengetahuan soal itu, ia tak bisa ditegakkan dengan hukum. Maka dari itu, seseorang yang bebas nilai hanya akan menjadi manusia yang bergentayangan tanpa arah. Atau bisa saja, mereka akan terbawa dalam hukum rimba: Makhluk yang kuatlah yang akan menang.

Melihat fenomena saat ini, agama dan manusia serasa berjalan tidak seiringan. Manusia cenderung mencari "Tuhan-Tuhan" baru yang lebih memberikannya kenikmatan duniawi. 

Di sisi lain, mereka juga beribadah dan berdialog dengan Tuhan yang memberikannya janji kenikmatan di hari kemudian. Sayangnya, manusia saat ini seperti memisahkan agama dan kehidupan duniawi. Agama hanya digunakan sebagai pedoman untuk memperoleh sukses di akhirat saja. 

Untuk mendapat sukses di dunia, mereka menggunakan sistem nilai yang berbeda pula. Terdapat kemunafikan kecil di sana. 

Ungkapan Deus.ex machina yang berarti Tuhan berasal dari mesin sudah bisa kita artikan secara harfiah. Manusia saat ini melakukan penyembahan terhadap "Tuhan-Tuhan" yang berasal dari mesin yang mereka gunakan setiap hari.

Perkembangan teknologi menciptakan "Tuhan" baru yang tak berasal dari fenomena alam ataupun wahyu rasul seperti yang diungkapkan oleh Ali Anwar di atas. Manusia lebih senang melakukan penyembahan kepada realitas yang diterimanya melalui gawai. Seseorang akan lebih takut tertinggal informasi (FOMO) dibandingkan ketinggalan waktu ibadah. Ada pula yang lebih gemar membaca caption media sosial dibanding membaca wahyu Tuhan.

Saat ini agama gagal menjalankan fungsinya, yaitu membuat pemeluknya menjadi taat akan ajaran agama. Agama hanya dijadikan sebagai pedoman untuk hidup di akhirat, tetapi bukan sebagai pedoman untuk sukses di dunia.

Kemungkinan, ungkapan Marx bahwa agama itu candu ada benarnya. Agama saat ini dijadikan sebagai penenang bagi penganutnya dari histeria dunia yang penuh ketidakpastian.

Agama sebagai sistem nilai tidaklah lenyap, melainkan terpisahkan fungsinya. Pedoman hidup seakan dipecah menjadi dua, yaitu pedoman untuk hidup di dunia dan untuk hidup di akhirat. Implikasinya ialah, manusia akan memiliki 2 Tuhan. 

Tuhan yang ia dapatkan dari proses mencari secara alamiah atau berdasarkan wahyu serta Tuhan  kedua ialah yang ia dapatkan dari proses memuja materi. Inkonsistensi menghamba inilah yang harus dipertanyakan.