“The unexamined life is not worth living.” Kehidupan yang tak ditelaah atau diperiksa adalah kehidupan yang tak layak untuk dijalani. Konon, kutipan ini adalah salah satu kata-kata terakhir Socrates saat menghadapi hakim-hakim Athena yang menjatuhinya hukuman mati karena ia dituduh mensyiarkan atheisme. Socrates didakwa telah mempengaruhi anak-anak muda Athena untuk meragui dewa-dewa orang Yunani yang telah diyakini oleh lintas generasi. Socrates lalu dihukum mati dengan cara dipaksa meminum racun.

Andai mau, Socrates sebenarnya bisa saja melepaskan diri dari jeratan hukum yang membelitnya. Andai saja ia mau berjanji untuk tak lagi mempertanyakan ulang kepercayaan yang sudah mengakar dalam kebudayaan masyarakat setempat, besar kemungkinan ia akan terbebas dari hukuman mati itu. Namun Socrates tetaplah seorang Socrates. Ia lebih memilih jalan kematian daripada menjual pendirian. Socrates sungguh bernasib malang, namun ia akan selalu dikenang.

Kematian Socrates ini belakangan mengantarkan generasi setelahnya ke suatu gerbang moralitas baru, yaitu gerbang kemerdekaan pikiran. Ia mengajak manusia untuk menelaah ulang hal-hal fundamental dalam kehidupan. Dengan segala resikonya, Socrates menyeru manusia menuju pembebasan intelektual. Ia mengajarkan bahwa akal-pikiran –dan hati nurani– harus dijunjung tinggi dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar dalam kehidupan.

Akal-pikiran jugalah yang dulu membantu Ibrahim AS ‘menemukan’ Tuhannya, setelah melalui masa kegalauan yang panjang. Berturut-turut ia pernah mempercayai bahwa bintang, matahari, hingga rembulan adalah dzat yang mencipta jagad raya, sebelum akhirnya ia meralat sendiri kepercayaannya itu. Ibrahim AS akhirnya meyakini bahwa Tuhan pencipta dan pengatur alam semesta pastilah dzat yang maha kuasa dan maha sempurna. Yaitu Tuhan yang keberadaannya tidak seperti bintang, matahari atau rembulan.

Jika tak pernah kita merenungkan perihal diri kita, tindakan kita, atau kepercayaan kita, maka kehidupan yang kita jalani ini berarti sama sekali bukan milik kita. Artinya, kehidupan yang kita jalani hanya sekedar ekspresi mekanis dari gagasan-gagasan yang berkembang-gentayangan di sekitar kita. Beberapa gagasan tersebut barangkali benar. Akan tetapi, tanpa dikaji ulang, sama artinya kita memperlakukan mereka sebagai dogma semata.

Salah satu kepercayaan yang paling ‘mengusik’, misalnya, adalah tentang keberadaan Tuhan. Banyak orang menilai bahwa memikirkan hal keberadaan Tuhan adalah suatu kesia-siaan. Pasalnya, satu-satunya pembenaran untuk menyakini keberadaan sesuatu (suatu dzat) adalah dengan bukti inderawi. Oleh karenanya, jika kita tak pernah memiliki pengalaman inderawi dengan Tuhan, maka pembicaraan tentang-Nya adalah juga percuma.

Peran Akal Pikiran

Argumen tentang hal keberadaan Tuhan umumnya tidak berasal dari fakta-fakta hasil observasi atau eksperimen. Secara ontologis, Tuhan pastilah ada. Keberadaan Tuhan adalah tentang keberadaan Dzat Adi Kuasa yang bisa dibayangkan dan bisa diterima (conceivable being) keberadaannya. Dengan kata lain, jika pikiran kita bisa menerima bahwa segala keteraturan yang ada di langit dan bumi ini pastilah dirancang dan dikehendaki oleh dzat yang maha kuasa dan maha tahu, bukan terjadi secara kebetulan, maka pada saat itulah sebenarnya kita mengimani bahwa Tuhan itu ada.

Naluri untuk memikirkan dzat Tuhan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Ketidak-bolehan untuk mencaritahu dzat Tuhan justeru akan memancing rasa ingin tahu. Memikirkan dzat Tuhan, konon, dapat menggoreskan keraguan dalam hati karena Tuhan adalah dzat yang sangat rumit untuk diungkap hakikatnya oleh kemampuan akal-pikiran manusia yang sangat terbatas. Tapi siapakah yang bisa mengatur-atur akal perihal apa yang ingin ia pikirkan?

Kerja akal-pikiran tidaklah sama seperti kerja tangan, kaki, mata, atau anggota tubuh lainnya. Kita bisa dengan mudah mengatur tangan untuk tidak menyentuh mendoan atau gorengan, namun tidak demikian dengan akal-pikiran. Semakin akal-pikiran dibelenggu, semakin ia ingin tahu. Hal ini karena pikiran tidak bisa diringkus, dipenjarakan, atau diatur-atur sedemikian rupa. Ia akan ‘diam’ ketika ia mau, dan ‘bergerak’ saat ia suka.

Hal memikirkan Tuhan ini adalah hal yang sangat mendasar bagi manusia dan proses ini terjadi secara alamiah. Mulut dan tangan barangkali masih bisa diajak untuk tidak membicarakan dzat Tuhan, tetapi manusia tidak dapat memperdayai dirinya dengan berpura-pura tidak ingin mengetahui hal yang sewajarnya ingin diketahui, yaitu suatu hal penting menyangkut dirinya dan penciptanya. Cepat atau lambat, keinginan untuk memikirkan dzat Tuhan pasti sesekali datang. Diakui atau tidak.

Gus Dur pernah suatu ketika mengutip ungkapan dari Al Hujwiri, seorang sufi besar dari Persia. Ia menulis, “Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya.” Kutipan di atas menyiratkan bahwa memikirkan dzat Tuhan adalah sesuatu yang wajar, karena ia merupakan aktifitas yang alamiah bagi makhluk berakal, sebagaimana dialami oleh Ibrahim AS.

Pada akhirnya, setiap orang harus memiliki pembenaran rasional terkait kepercayaannya kepada Tuhan. Kepercayaan pada Tuhan berasal dari iman, dan iman diterangi oleh akal-pikiran. Oleh karenanya, antara iman dan akal-pikiran tak perlu saling dipertentangkan. Mereka berfungsi saling menguatkan. Jika kita percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan akal-pikiran, maka kita juga mesti yakin bahwa akal-pikiran akan mengenali penciptanya.