Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pengembara. Dalam kisah itu, diceritakan Sang Pengembara menempuh perjalanan yang amat jauh; menyusuri hutan, menyeberangi sungai, melewati gurun yang gersang. Lalu di tengah pengembaraannya itu, Sang Pengembara merasakan dahaga yang amat sangat.

Namun itu bukanlah jenis dahaga yang biasanya. Sang Pengembara menginginkan seteguk air yang biasa diambilnya dari sumur belakang rumah. Pun, Sang Pengembara merasakan rindu pada aroma nasi panas yang mengepul dari dapur ibunya.

Sang Pengembara, seperti juga kita, senantiasa rindu pada apa-apa yang pernah dialami, dahulu, di kampung halaman. Atau juga, rindu pada segala apapun yang telah lalu di masa-masa yang jauh. Rindu itu, lantas, perlahan-lahan menjelma menjadi sesuatu yang lebih kuasa, yakni rasa sepi dan keterasingan. Sebuah perasaan, yang tak hanya menjerat, namun juga mampu melenyapkan.

Rasa terasing pada diri sendiri adalah hal yang sangat niscaya. Layaknya Sang Pengembara tadi, siapa saja bisa merasakan hal serupa. Bayangkan saja apabila sesuatu yang begitu berharga tahu-tahu hilang dari genggaman, tentu kita menginginkan agar benda berharga itu ditemukan kembali, bukan? Demikianlah keterasingan bekerja. Ada yang mesti ditemukan kembali; diri sendiri.

Pada cerita Sang Pengembara, misalnya, boleh jadi Sang Pengembara akhirnya menemukan oasis di tengah padang pasir, demi melepaskan dahaga yang mendera. Rasa dahaga itu boleh saja hilang, tapi bagaimana dengan rasa keterasingan?

"Keluarga M", salah satu cerita pendek karangan Budi Darma barangkali bisa memberikan pemahaman lebih jauh mengenai makna sepi dan keterasingan. Tokoh "saya" di dalam cerita itu digambarkan kerap berperilaku jahat kepada tetangga-tetangganya.

Dia sangat geram setiap kali melihat anak-anak kecil bermain di lapangan dekat apartemennya. Kalau bisa, menurutnya, kaki dan tangan anak-anak itu ditembak saja dengan senapan agar mereka cacat selama-lamanya. Pikiran picik dan perilaku kasar yang ditunjukannya itu, saya pikir, tak lain adalah refleksi dari rasa sepi dan keterasingan yang dialaminya.

Dalam konteks anak muda, film terbaru arahan Greta Gerwig berjudul  "Lady Bird” menarik untuk dicermati. Sosok gadis remaja bernama Lady Bird, dalam film itu, digambarkan begitu "bengal" dan amat susah diatur. Lady Bird benci tinggal di desanya yang bernama Sacramento, sehingga mimpi terbesarnya tak lain adalah meninggalkan desa itu untuk melanjutkan kehidupan di New York. Yang menarik, film itu akhirnya ditutup dengan tercapainya impian Lady Bird. Namun, di saat yang bersamaan, Lady Bird juga merasakan kehampaan yang sulit didefinisikan. Lady Bird merindukan Sacramento. Lady Bird merasakan sepi dan keterasingan. 

Anak muda memang identik dengan jiwa yang ekspresif. Ekspresi berapi-api yang kerap ditunjukkan oleh kaum muda, boleh jadi merupakan salah satu bentuk upayanya dalam hal menghadapi keterasingan.

Sebagaimana tokoh "saya" dalam cerita "Keluarga M" di atas, seseorang cenderung memiliki cara-cara tertentu untuk menghadapi jeratan keterasingan. Misalnya dalam cerita itu, tokoh "saya" memilih berperilaku kasar kepada orang lain setiap kali ada kesempatan, sebagai satu-satunya bentuk relaksasi yang bisa dia lakukan.

Otulet dan Relaksasi

Esai pengantar berjudul "Ruang Estetik, Oasis Aksi Kritis Seni" yang ditulis oleh Dr. FX. Mudji Sutrisno, SJ menarik untuk diselidiki lebih jauh. Dosen Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu memaparkan, bahwa di tengah-tengah kehidupan kota yang serba tidak pasti ini, orang-orang cenderung berupaya menemukan outlet atau pelepasan yang melegakan; menemukan oasis dari keterasingan-keterasingannya.

Menurutnya, ada dua macam outlet (pelepasan) yang kerap dilakukan oleh seseorang demi menghadapi kepingan-kepingan keterasingan itu. Pertama, berkumpul bersama orang-orang dari daerah yang sama, membentuk "kampung-kampung" kecil di kota, supaya bisa kembali merasakan apa yang hilang di dalam dirinyaSebagai contoh, orang-orang yang berasal dari Wonogiri yang tinggal di Jakarta biasanya begabung dengan kelompok paguyuban dari daerah yang sama.

Jenis outlet yang kedua adalah seni. Lewat musik-musik dangdut, misalnya, orang-orang kemudian menemukan tempat berelaksasi, berjoget-joget ria agar lepas dari segala penat. Kesenian daerah semacam itu mampu hidup bahkan lestari di tengah masyarakat urban salah satunya karena memiliki fungsi sebagai outlet, mampu menjadi oasis yang dapat memenuhi dahaga atas rasa penat dan keterasingan.

Anak-anak muda sendiri, sebagai salah satu elemen yang juga eksis di tengah pusaran ketidakpastian itu, menempuh cara-cara yang hampir serupa dalam hal menghadapi jeratan keterasingan. Namun, sebagai generasi yang juga terpapar oleh budaya globalisasi - yakni menyatunya budaya lokal dan internasional, proses menemukan outlet-outlet itu menjadi semakin kompleks.

Sebagai contoh, banyak anak-anak muda yang memilih musik-musik heavy metal atau jenis musik lain yang bersifat "memberontak", demi menyuarakan kegelisahan dan melawan rasa terasing di dalam dirinya. Musik-musik jenis ini kemudian dimanfaatkan oleh mereka sebagai outlet untuk menyuarakan "pemberontakan" terhadap keteraturan yang mengekang, seperti aturan sekolah yang begitu ketat atau aturan keluarga yang amat kaku. Karena itulah akhirnya bermunculan basis-basis fans band Metallica, Megadeth, Black Sabbath, dan lain-lain, yang banyak diisi oleh anak-anak muda.

Lalu, bertolak dari paparan mengenai jenis-jenis outlet di atas, sekaligus sembari mengamati fenomena yang marak di tengah-tengah kehidupan anak muda, saya kemudian berpendapat bahwa ada satu jenis outlet lagi yang tak kalah penting untuk ditelusuri, yakni kelompok paguyuban berbasis agama.

Tuhan yang sering dimaknai sebagai tempat kembali, menjadi salah satu jenis outlet yang juga amat diminati oleh banyak orang, termasuk oleh anak-anak muda. Pengalaman dekat dengan Tuhan kemudian dianggap sebagai cara pelepasan paling ampuh dan melegakan, sekaligus jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan jenis outlet lainnya. Dari situ, mulailah bermunculan beragam kelompok dan organisasi berbasis keagamaan di berbagai tempat, termasuk di sekolha-sekolah. Sampai pada tahap ini, sebenarnya tidak ada masalah.

Namun, kelompok-kelompok agama yang mulanya berfungsi hanya sebagai outlet (pelepasan) semata itu, kemudian mulai mengalami pergeseran. Pergeseran itu dipicu akibat munculnya oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan situasi ini untuk menyebarkan pemahaman agama yang menyimpang, bahkan ekstrem.

Agama Sebagai Media Relaksasi

Temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang maraknya penyebaran paham-paham radikal di sekolah-sekolah dan tempat-tempat ibadah tak boleh diabaikan begitu saja. Ceramah, sebagai salah satu aspek utama dalam kegiatan kajian keagamaan, justru dijadikan sebagai alat untuk menyebarkan paham-paham radikalisme, intoleransi, bahkan narasi-narasi berbau kekerasan.

Hasil penelitian LIPI pada 2006 penting untuk dicermati. Dari hasil penelitian itu, ditemukan ada sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa yang menolak Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Bahkan, dikutip dari Media Indonesia (19/02/2016), hasil survei The Pew Research Center pada 2015 menyebutkan 4% orang Indonesia mendukung ISIS.

Sebagai jalan relaksasi, anak-anak muda memilih menukar rasa terasing di dalam dirinya dengan keyakinan agama yang bersifat eksklusif, yang mereka dapatkan dari kelompok yang yakin bahwa jalan kekerasan atas nama tuhan kelak akan diganjar surga. Faktor keterasingan dan ketidaktahuan yang kemudian dipertemukan dengan faktor keyakinan agama yang melenceng itulah yang lantas menjadi kombinasi paling berbahaya, yang dapat melahirkan seorang ekstremis.

Kekerasan pun kemudian menjadi agama baru. Anak-anak muda yang berapi-api itu, lantas mengira bahwa tuhan pasti merestui aksi-aksi mereka "membela agama"-Nya, bahkan dengan cara apapun, termasuk lewat kekerasan.

Pelbagai doktrin telah terlanjur menyusup ke dalam sel-sel otak, lebih-lebih ke dalam kalbu. Teks-teks suci Tuhan pun segera saja ditelan mentah-mentah tanpa sedikitpun mengizinkan akal untuk bekerja - yang sebenarnya malah merupakan satu bentuk pelecehan fatal terhadap kuasa Tuhan itu sendiri, yang telah menganugerahi akal dan senantiasa memerintahkan manusia untuk berpikir.

Lalu dengan kepandiran yang fantastis itu, alih-alih mengamalkan ajaran kebaikan Tuhan, mereka justru menggunakan teks-teks suci itu untuk melegitimasi kekacauan berpikir dan perilaku jahanam mereka sendiri; menyebarkan ujaran kebencian, intoleransi, dan tindak kekerasan.

Mereka merantai Tuhan seakan-akan Tuhan mesti patuh pada teks ciptaannya sendiri. Menganggap itu sebagai suatu kebajikan tentu saja adalah hal yang sangat konyol. Sebab, alih-alih menyembah Tuhan, mereka justru tengah berlutut dan menyembah berhala ciptaan mereka sendiri, yang bernama nafsu dan kebodohan.

Pada akhirnya, kita bisa memetik hikmah dari kisah Sang Pengembara di awal. Bahwa dalam proses pencarian oasis di tengah-tengah pengembaraan, kita mesti selalu hati-hati dan waspada. Apakah oasis yang tampak jernih dan menyegarkan itu, benar-benar mampu melegakan dahaga kita. Atau, justru dari dalam oasis itu akan muncul binatang buas yang siap menerkam, dan melenyapkan kita?