Tuhan Telah Mati. Nietzche memang frontal terhadap nasib para agamawan, tapi kita tak perlu menjadi frontal seperti yang dilakukan oleh Nietzche. Karena apa yang dideskripsikan oleh Nietzche, Tuhan Telah Mati, hanyalah sebuah pemberontakan alamiah oleh kebanyakan anak manusia. 

Sebagaimana dalam falsafah eksistensialisme, maka manusia juga harus bisa menopang akal, agar keberadaan Tuhan tidak memiskinkan. Itulah mengapa, manusia yang hidup dengan akal yang bebas dideskripsikan sebagai manusia-manusia yang mandiri.

Betapa lumrahnya kebebasan, sehingga peran Tuhan kita posisikan dalam kedudukan yang paling prima. Jangan kita kucilkan keberadaan Tuhan dengan sebatas dia “hidup”, sebab kehidupan kerapkali akan mati. Eksistensi Tuhan terbebas dari kehidupan, sehingga dia jauh dari persepsi bahkan akal pun tak sampai menerawanginya. 

Bukannya para nabi terdahulu juga melakukan apa yang dikerjakan oleh Nietzche, yaitu pemberontakan alamiah? Nabi Ibrahim misalnya, ia sempat pesimis dengan wujud Tuhan. Saking dia mencoba untuk melakukan kalkulasi pengamatan tentang Tuhan, maka akalnya pun lumpuh lalu badannya tak berdaya.

Dalam pandangan orang Barat, bisa terlihat sebagaimana dialami oleh John Nash seorang pakar matematika dan penerima nobel fisika. Akal kerapkali mendorong kepada halusinasi, sehingga apa yang dilihat akal terkadang tidak dilihat oleh mata kebanyakan orang. 

Maka, di sini kita dapat mempercayai bahwa akal bukanlah kuasa yang bisa disebut sebagai eksistensi sejati. Apa yang dialami oleh John Nash: berteman dengan halusinasi, adalah suatu metode membaca kebebasan berpikir. Tapi di sisi lain, dia tidak mampu membentengi langit gaib. 

Sementara itu, orang Timur membacanya sebagai sebuah keberadaan mahkluk kastral yang menempel pada setiap manusia, yang kerap menampakkan diri pada orang yang kekuatan pikirannnya melewati ruang dan waktu.

Perkaya Akal. Nietzche sempat melinangkan air mata saat sang pembebas roh (malaikat maut) mengambil nyawanya. Kepercayaan Nietszche bukanlah semata-mata karena dia takut Tuhan tidak hadir dalam hidupnya, tapi kepercayaan Nietszhe hanya ingin menegaskan kebesaran Tuhan.

Akal adalah alat untuk meneliti, mendeferensiasikan, dan mendeskripsikan fenomena-fenomena, lalu ditazmirkan ke dalam gabungan defenisi-definisi, sehingga terjadilah kalkulasi/kesimpulan.  

Dalam Mitologi Yunani kuno, dewa diberikan peran oleh manusia itu sendiri. Keberadaan Dewa diyakini karena kepercayaan manusia. Pada suatu ketika manusia memercayakan dirinya pada cara berpikir dan melepaskan akal pada pengamatan, maka mereka tidak lagi membutuhkan Dewa untuk mengatur kehidupannya.

Dengan sendirinya kekuatan dewa yang diyakini dapat melakukan apa saja, mulai lenyap-memudar karena lakon manusia sebagai hamba telah berhenti. Timbullah propaganda dewa-dewa, Zeus yang dipercaya sebagai dewa paling dihormati oleh manusia juga mulai gusar sehingga turun ke dunia hanya untuk membuktikan kekuatan mereka. 

Lahirlah sosok Hercules yang dideskripsikan sebagai penggabungan antara dewa dan manusia. Kekuatanya seperti kekuatan dewa, tapi fisik sejatinya adalah manusia, bahkan diyakini memiliki umur sepanjang masa. Tentu saja, realitas mitologi Yunani kuno yang menceritakan zaman dewa bukanlah keyakinan beragama manusia modern saat ini.

Dalam kalkulasi akal, fenomena dewa-dewa seperti mitos makhluk zaman pertapaan. Dia hidup karena keyakinan, ketika keyakinan itu luntur maka eksistensinya hilang. Dengan begitu, agama bisa disimpulkan sebagai seperangkat keyakinan, keberadaannya “ada” karena ke”ada-ada-nnya” di “ada”kan. 

Sehingga turunlah kitab suci sebagai penegasan, bahwa Tuhan butuh manusia untuk mendeklarasikan keberadaannya. Cerita dalam kitab adalah cerita-cerita masa-masa prasejarah, kemudian ditetapkan sebagai pedoman hukum. Lalu disakralkan pada wilayah agama. 

Maka, kembalilah pada cara Nietzche yang tidak yakin akan Tuhan yang hidup.

Akal memiliki ragam interpretasi, jadi peran akal yang penuh fantasi itu perlu dianalogikan dengan fenomena-fenomena. Sekali pun akal memiliki peran penting dalam proses pencarian, tetap saja posisi akal bukanlah tempat sebuah kebenaran yang mutlak. Baik, kita mesti perkaya akal. Tapi sebagai makhluk yang beragama, peran kitab suci juga mendedikasikan kebenaran, bahkan yang paling utama.  

Kembali Beragama. Beragama mesti dikokohkan dengan sudut pandang keilmuan. Sementara puncak pencarian dan kemuliaan ilmu adalah pengenalan Tuhan semesta alam. Dengan beragama, kita tidak dituntut untuk memantaskan akal, tapi menegaskan keyakinan. 

Keyakinan yang dimaksud dalam bahasa sederhana para agamawan adalah “iman”. Namun iman yang dianjurkan oleh sebagian besar para pemuka adalah iman yang dilandasi dengan “ilmu”. Rasullullah bersabda, Iman itu telanjang, pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu. Maka demikian, iman yang tanpa ilmu adalah pohon tanpa buah.

Beragama bukanlah semata-mata menerapkan ritual pertapaan – meditasi atau ibadah personalitas horizontal. Tapi beragama mesti memiliki unsur kewibawaan sosial dan kesalehan bermasyarakat. Hingga sampai pada tataran kosmis, orang bisa mentransendensikan diri dari hal-hal personal menuju transpersonal. 

Orang-orang dalam kesadaran transpersonal (makrifat) pada gilirannya akan memiliki kesadaran hakikat. Sebentuk kesadaran Rabaniyah yang menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam semesta. Di sini, ilmu dan amal menyatu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian warga Bumi.

Dengan begitu, biarkanlah Nietzche tetap pada prinsipnya: God is dead. God remains dead, and we have killed him. Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya, kata Nietzche.