Tuhan telah melewati generasi demi generasi tiap umat manusia. Sebagaimana ia "diyakini" tak terbatas, hal itu (tak mati-mati) menjadi wajar saja. Sebab ia tak terbatas. Begitu aturannya.

Kaum sebelumnya dihancurkannya dan kemudian ia ciptakan kaum yang baru untuk kemudian dihancurkannya kembali dan diciptakan lagi kaum yang baru.

Dan demikianlah seterusnya hingga generasi smart phone lahir. Dan sialnya, Tuhan selalu kecewa oleh perbuatan kaum demi kaum; yang itu adalah ciptaannya sendiri.

Mula-mula, Tuhan pernah dikecewakan oleh Adam juga Hawa. Hingga keduanya mesti angkat kaki dari surga. Itu adalah bentuk kekecawan Tuhan. Keduanya mesti dihukum dan terusir dari "istana surga".

Sebuah firman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari pada-ku, lalu barang siapa mengikut petunjuk-ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka."

Saya membayangkan bilamana Adam dan Hawa tak mengecewakan Tuhan, kemungkinan umat manusia kini tengah bersantai dalam surga, sembari menulis-tulis lewat smart phone-nya.

Lalu datang seorang Nuh. Sembilan ratus lima puluh tahun ia berpropaganda, dan massa yang terkumpul tak lebih dari  seratus orang. Konsolidasi yang kurang apik, alias gagal. Jika dalam pergerakan mahasiswa, massa sebanyak ini tak berarti apa-apa. Paling banter menjadi bahan tertawahan aktivis senior. Itu pun tak lucu, kecuali menyedihkan.

Orang-orang yang tak termasuk pengikut Nuh, itu justru mengolok-oloknya. Bak doktrin yang gagal sebab dibalas argumen tak berkesudahan dan tajam. Tuhan murka. Ia kembali kecewa. Kaum itu ditenggelamkan sebab banjir besar melanda mereka.

Dari sini kita belajar bahwa massa yang banyak tak selamanya akan selamat. Orang-orang itu lenyap tak terjejak. Termasuk anak dan istri Nuh.

Dan kekecewaan yang sebabnya lain kembali datang. Kekecewaan ini menerpa kaum 'Ad. Mereka mendustai kenabian Hud. Badai besar serta bunyi gemuruh membuat kaum itu tertimbun pasir untuk kemudian binasa.

Kaum Tsamud dapat giliran. Mereka ini asli minus moral. Sebagaimana yang sudah-sudah terjadi, kala itu diutuslah Nabi Saleh dengan mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Apa yang dilakukan oleh kaum Tsamud terhadap unta itu, sehingga Tuhan kecewa lalu membinasakan mereka? Unta itu dibunuh.

Saya tak memiliki referensi apa yang menyebabkan orang-orang ini menghabisi unta tersebut. Tapi bagaimana jika unta itu dibunuh sebab orang-orang Tsamud kekurangan makan? Bagaimana pemerhati hewan memandang ini? Apakah juga wajib dibinasakan?

Lalu datang kaum nabi Luth. Kaum ini tak disukai sebab mengejawantahkan cintanya begitu berlebihan di mata Tuhan. Mereka penyuka sesama jenis. Tapi apa mesti dituntut jika itu adalah cinta? Bukankah kita pernah sepakat terhadap cinta itu buta? *asik.

(Terhadap soal ini, sejujurnya ada yang menarik. Begini, taruhlah kaum nabi Luth menyukai sesama jenis itu karena cinta. Dan "kita yang merasa normal" (menyukai lawan jenis) juga ada karena cinta. Lalu apa yang mendasari kaum nabi Luth itu salah? Bukankah juga mereka dasarnya adalah cinta? Bagaimana kalau "cinta" saja yang disalahkan?)

Dan bagaimanapun, kaum ini akhirnya dapat bagian. Tuhan kecewa, dan lalu memporak-porandakan mereka. Negeri kaum Luth dibikin terbalik. Persis kepala di kaki, kaki di kepala. Lalu Tuhan menghujani negeri kaum itu dengan tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.

Kaum yang lain dapat giliran pada masa Syuaib yang diutus kepada kaum Madyan. Ini adalah kaum pedagang yang licik. Dengan cara menipu, mereka ingin dapat untung lebih besar daripada jumlah penjualan atau pembelian.

Kalau dalam istilah di masyarakat, model begini dilabeli sebagai orang yang 'tak mau rugi.' Serba perhitungan. Jika membeli, menuntut dimurahkan. Dan ketika menjual, sembunyi-sembunyi mengurangi. Licik.

Maka udara yang hawanya begitu panas pun akhirnya menimpa kaum ini. Tuhan kecewa. Mereka tak mengerti, tak memercayai Syuaib. Dan akhirnya, mereka binasa.

Tuhan kembali berbenah dari kecewa demi kecewanya. Barangkali intropeksi. Tapi kini ia kembali mengutus manusia. Itu adalah Musa dan Harun untuk memperingatkan Fir'aun yang mendaku sebagai Tuhan.

Kali ini bukan kecewa, tapi marah terhadap kearogansian fir'aun si ramses II itu. Sebab bagaimana mungkin ia menduplikat Tuhan, dan itu seolah dirinya? Ia terlalu mengada-ada.

Kesombongan itu akhirnya berhenti di Laut Merah. Jasadnya tak hancur. Arkeolog modern menemukannya. Ia dipajang dalam museum mumi di Kairo, Mesir. Hingga saat ini jasadnya masih terus dikunjungi dari berbagai wisatawan dunia. Begitulah Tuhan, ia tak lekang oleh kunjungan hambanya.

Tuhan itu seperti dosen. Ia kerap menguji umatnya. Bahkan pada tingkat yang paling tidak waras. Sekalipun ada yang berkata bahwa Tuhan tidak menguji umatnya di luar dari kesanggupannya menerima.

Tapi demikianlah itu terjadi. Sebagaimana yang disebut dengan Ashab al-sabt. Sekelompok yang diuji oleh Tuhan melalui sisi yang paling mereka takutkan: kelaparan.

Sekelompok ini tinggal di kota Elat, Palestina. Mereka diperintah untuk beribadah pada hari sabtu. Dan mereka pun beribadah. Lalu diuji oleh Tuhan bahwa hanya pada hari sabtu saja ikan-ikan dilautan yang menjadi sumber penghidupan mereka itu ada. Sedang pada hari-hari yang lain, lelautan itu seolah tak ada isinya.

Daripada mati, maka sekelompok ini memilih mencari ikan pada hari sabtu, yang artinya mereka tak memilih untuk beribadah. Tuhan marah. Mereka dibinasakan.

Sejujurnya, dalam peristiwa ini, kelaparan adalah hal yang paling dihindari umat manusia. Bahkan hingga sekarang. Bagaimana manusia akan menindas manusia yang lain demi hak perut untuk kenyang. Masalahnya adalah terkadang ada manusia yang kebablasan dalam mencari makan.

Sebetulnya masih banyak peristiwa mengenai marahnya Tuhan terhadap umatnya. Tak terhitung. Kitab-kitab dalam berbagai iman, memiliki hal-hal serupa; mengenai Tuhannya dan kekecewaannya.

***

Hingga datanglah umat smart phone. Seolah segalanya ada. Tak tanggung-tanggung, sisa nyawa saja yang belum mampu dibuat oleh manusia. Sekarang robot-robot nyaris menyerupai manusia. Tuhan tentu bangga akan hal itu. Sebab itulah alasannya otak dan akal ia sematkan kepada manusia.

Dalam pengertian saya, umat smart phone adalah masa ketika seluruh aktifitas dapat terselasaikan dengan bantuan tekhnologi. Apapun menjadi praktis. Kepintaran manusia nyaris merebut kedudukan Tuhan. Tapi sekali lagi, Tuhan tentu bangga.

Orang mengirim surat tak perlu menunggu dua atau tiga bulan untuk tersampaikan. Media Sosial sudah menyediakan itu. Bahkan dalam bentuk tatap muka. Kita mengenal itu sebagai video call atau VC.

Baca Juga: Gen Tuhan?

Tapi kini Tuhan tengah dalam kekecewaanya yang lain terhadap umat smart phone. Dan yang jelas tengah menimbang-nimbang kekecewaannya akan dikemas dalam bentuk apa. Apakah ia akan menyediakan bara yang panas daripada panasnya api neraka dan kemudian dihujaninya umat ini? Entahlah. Itu rahasia Tuhan.

Tapi sejujurnya, sebagaimana Tuhan adalah Maha Pemaaf, ia tentu akan membatalkan kekecewaanya itu. Tentu sesudah menimbang-nimbang untuk memafkan kaum smart phone jikalau umat ini akan sedia mengubah dirinya sendiri.

Caranya mudah: jangan ajak Tuhan berpolitik. Itu saja.