Sepanjang tahun 2016 ini masyarakat dunia dikejutkan dengan ledakan-ledakan bom yang dahsyat. Belum juga hilang kesedihan mendalam atas serangan dan ledakan bom di Paris tahun lalu, saat ini kita kembali harus merasakan sayatan-sayatan perih dalam nurani menyaksikan kebiadaban tindakan radikal dan teror di berbagai belahan dunia.

Realita ini menyadarkan kita bahwa manusia telah gagal membumikan kasih sayang sebagai pijakan dalam kehidupannya. Kasih sayang sejatinya merupakan ‘wujud’ yang hadir bersamaan dengan lahirnya manusia ke muka bumi. Sifat mulia ini adalah ‘cetak biru’ yang ditanam oleh Tuhan abad ke-21 ini, yang juga Tuhan pada abad-abad sebelumnya.  

Kehadiran sifat kasih sayang adalah perlambang hadirnya Tuhan di muka bumi. Andaikan sifat istimewa ini terdistorsi secara sistematis karena ulah para Iblis, maka dunia tengah mengalami krisis nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Dan hal ini menjadi pertanda kritisnya perdamaian dunia.

Jika manusia memahami kenyataan ini, maka semua negara besar maupun kecil, tidak akan, atas nama belanja pertahanan, mengalokasikan jutaan dan miliaran dolar untuk mengembangkan kemampuan militer mereka.

Sebaliknya, mereka tentu akan menghabiskan kekayaannya untuk memberi makan orang lapar, memberikan pendidikan secara universal dan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat negara berkembang (Hazrat Mirza Masroor Ahmad, 2014).

Saat ini harus ada gerakan revolusi untuk menghidupkan kembali ruh kasih sayang dalam diri setiap manusia. Revolusi yang dimaksud tentunya sebuah revolusi yang mendasar dan tidak bersifat kebendaan belaka, yakni sebuah revolusi dengan pendekatan nilai-nilai rohani.

Revolusi kebendaan di dalam sejarahnya justru telah gagal menghadirkan kasih sayang di dunia. Malah, ia menghadirkan rasa was-was, takut dan khawatir dalam menyongsong masa depan. (Hazrat Mirza Tahir Ahmad, 1992).

Revolusi rohani harus diperjuangkan secara total dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam terminologi Islam, kasih sayang sejatinya adalah milik Allah swt. ProklamasiNya di permulaan surah Al-Fatihah sebagai dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menjadi kabar suka bagi semesta alam, di mana sifat agung tersebut sungguh sangat dekat dengan manusia, sedekat Allah dengan mahluk-mahlukNya (QS. Al-Baqarah : 186).

Revolusi rohani diawali dengan pembaruan dalam nilai-nilai ketuhanan menuntut suatu ‘kematian’. Kematian yang dimaksud adalah kematian secara sempurna terhadap nafsu yang membawa manusia ke arah keburukan. Kematian dalam makna ini merupakan wajah lain dari sebuah kehidupan baru yang lebih baik.

Selain itu, revolusi rohani ini menuntut taubat. Bahwa setiap manusia harus berkomitmen secara sungguh-sungguh untuk kembali kepada perintahNya, bersatu padu dengan kehendakNya, manunggal dalam kemuliaanNya dan berjanji setia di hadapanNya.

Dalam tahapan ini manusia akan melangkah sebagai “kekasih” Tuhan. Ia tidak akan bisa hidup tanpa kasih sayangNya dan akan menjadi pribadi yang penuh kelembutan, kehalusan, belas kasih, sabar, pemaaf dan memiliki pancaran kasih sayang Tuhan.

Tahapan selanjutnya adalah revolusi yang terkait dengan hubungan sesama manusia. Dalam tahapan ini, manusia harus berpegang teguh pada bimbingan sejati para utusan Tuhan. Mereka adalah wakil Tuhan di muka bumi, darinya akan tercipta suri tauladan nyata dan sempurna dalam kehidupan.

Mereka  mengamalkan kasih sayangnya melalui pengkhidmatan sejati terhadap orang lain dengan dasar pengakuan persamaan nilai (equality), menegakkan keadilan dan memberikan ihsan. Mereka tidak pernah membeda-bedakan satu manusia dengan manusia yang lain.

Karakter ini melenyapkan kecenderungan sikap monopoli kemuliaan, kebenaran dan keselamatan sehingga yang tercipta justru semangat menyayangi orang lain, sikap toleransi dan tidak membenci siapapun. Inilah ruh kebahagiaan dan perdamaian sejati, yakni: "kasih sayang untuk semuanya, tiada kebencian bagi siapapun.”

Para utusan Tuhan dengan nyata memberikan contoh kasih sayang yang menyinari sendi-sendi kehidupan manusia. Kasih sayang yang terpancar darinya menihilkan setiap bentuk curiga, dendam, nilai kekerasan dan pemaksaan, lalu membuka ruang yang luas bagi siapapun untuk berperan dalam menciptkan kebahagiaan dan perdamaian.

Pancaran sifat agung ini akan mengembangkan kesadaran dan kepekaan dalam diri setiap manusia untuk berempati terhadap derita sesama, lalu menciptakan persaudaraan hakiki bak satu tubuh, jika satu bagian tubuh sakit maka bagian tubuh yang lainnya akan merasa sakit. (HR. Muslim)

Di sisi lain, sifat kasih sayang akan mendatangkan karakter mulia dalam diri manusia untuk menghargai segala sumber daya yang ada di alam semesta ini. Dalam tahapan ini manusia akan memperlakukannya sebagai bentuk amanat dari Tuhan, dan yakin bahwa pada suatu hari nanti ia akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Sang Pencipta.

Maka manusia akan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu bertindak jujur, menjauhkan sikap korup serta sewenang-wenang, bertindak adil dan terus menjaga amanat dengan tingkat kesadaran tertinggi dalam rangka mewujudkan kemakmurkan bagi seluruh umat manusia. (Hazrat Mirza Masroor Ahmad, 2008)

Jika revolusi kasih sayang melalui pendekatan rohani ini berhasil ditegakkan oleh setiap insan manusia, maka cita-cita kebahagiaan dan perdamaian sejati akan menjadi bagian terindah dalam kehidupannya sehari-hari.

Nihilnya nilai-nilai egoisme, individualisme, prasangka, intoleransi, kebencian, kedustaan, korupsi, kejahatan, ketidakadilan, kesenjangan, kekerasan dan peperangan bukan lagi menjadi khayalan, namun sungguh sebuah kenyataan. Dunia akan kembali tegak pada tujuan awal penciptaannya yakni sebagai tempat turunnya kasih sayang Tuhan.

Sebaliknya, jika manusia gagal mewujudkan ruh hakiki kasih sayang ini, maka mereka akan menjelma menjadi Iblis-iblis yang sadis, penolak ajaran Tuhan dan pewaris kejahatan serta kehinaan.