Penulis
3 tahun lalu · 265 view · 1 menit baca · Puisi 21007174316_ff1846ffe4_z.jpg
[Foto: Chris Halderman/Flickr]

Tuhan dan Ambisi Kita

Engkau pasti bosan melihat mereka. Tetapi apa hendak dikata, sepertinya orang seperti merekalah yang ditakdirkan berkuasa.

Bukankah Tuhan mencintai kebaikan? Berkali-kali kamu tanyakan. Dan masih saja demikian setiap kali kita bertukar pikiran tentang negara dan si miskin yang selalu jadi korban.

Mungkin seperti kita. Mereka yang dalam kerakusannya meniadakan kehadiran Tuhan, menganggap Dia hanya mengurus siapa yang berhak masuk surga, siapa yang pantas dihukum di neraka. Masalah apa yang kita lakukan, masih menimbulkan pertanyaan.

Biarkanlah mereka berkuasa. Setidaknya mereka berpikir tentang kita. Bukankah mereka berpikir yang terbaik buat kita? Masalah dinikmati atau tidak, itu tergantung kita. Percuma menuntut. Toh, sekarang kita sulit membedakan apa itu politik dan apa itu agama. Untuk apa bernegara, untuk apa beragama.

Bila bosanmu telah menbusuk, dan ingin sekali kau buang, maka bergeraklah. Beritahu mereka, di luar istananya, masih banyak anak bangsa yang terlantar.

Dan jangan bawa nama Tuhan! Sebab, mereka juga pernah mengaku sebagai utusanNya. Seperti engkau yang pernah menjauhiNya karena mereka, kelak akan banyak tak percaya lagi padaNya.

Bukan karena Ia berubah, tetapi karena begitu banyak yang mencatut namaNya tanpa tanggung jawab. Seperti sekarang ini, namaNya banyak disebut menjelang pilkada.

Tidakkah hatimu terganggu bila membawa namaNya hanya untuk ambisi politik?

Artikel Terkait