Tuhan dalam ranah pra filsafat ini menguraikan berbagai pandangan tentang tuhan menurut keyakinan masing-masing. Pada tulisan ini, Anda akan melihat secara detail bagaimana Tuhan dipandang sebagai ‘Yang Ilahi’. 

Yang Ialhi ini bisa tampak dalam berbagai macam, bisa melalui alam maupun hal yang lain. Yang Ilahi belum dapat dipahami melalui akal budi.

Tuhan dalam kurun waktu awali

Tuhan dialami dan dimengerti berangkat dari alam. Pada mulanya adalah alam. Tuhan disadari sebagai kehadiran kekuatan yang ajaib, menakjubkan, namun tak terjelaskan atau misteri dalam alam. 

Ketuhanan sering dihayati dengan kekuatan yang meresapi alam. Tidak ada pemisahan antara alam dan Yang Ilahi. Yang Ilahi menyimpan makna yang bersembunyi dan kekuatan yang melampaui daya manusiawi.

Ada anggapan bahwa semuanya pada alam berjiwa atau hidup (animisme). Karena itu, manusia mengadakan hubungan dengan suatu jenis binatang atau tumbuh-tumbuhan yang diungkapan dengan ritus-ritus. 

Wujud pengada dalam alam dihadirkan dalam ritus-ritus yang mengandaikan di baliknya totemisme atau pandangan suatu kelompok (dalam masyarakat primitif) akan dirinya sebagai yang memiliki hubungan erat seperti hubungan darah dengan pengada-pengada di alam seperti binatang dan tumbuhan. Ritus-ritus diadakan untuk menampilkan kekuatan ajaib untuk memengaruhi orang atau pengada-pengada lain (magi).

Salah satu tokoh yang bernama R. Otto menggambarkan pengalaman primitif semacam ini sebagai pengalaman akan ‘Yang Kudus” yang mana Yang Kudus itu dipandang berkuasa atas hidup, menakutkan, tetapi sekaligus mengagumkan. Pengalaman semacam inilah yang dianggap sebagai inti dari setiap agama. 

Kemudian oleh M. Eliade meneguhkan hubungan Yang Kudus dan alam ini dengan menyatakan bahwa Yang Kudus memanifestasi dalam langit, matahari, Sapi Jantan, pohon raksasa, air, gunung tinggi, waktu, dan sebagainya.

Bagaimana Tuhan dialami pada tahap sesudah primitif? 

Setelah manusia tidak lagi hanya berangkat dari alam sampai pada pengalaman akan Yang Kudus, tetapi bisa dari berbagai hal dan pengalaman, maka ada apa yang disebut “pengalaman religius” yang dalam perkembangannya mendapatkan perwujudannya dalam agama-agama. 

Pengalaman religius menunjuk pada pengalaman akan Yang Kudus yang dijumpai melalui hal-hal yang lebih luas daripada alam, misalnya melalui situasi-situasi batas, pengalaman ketakutan, cinta, keindahan.

Intinya adalah kepercayaan pribadi pada Yang Mutlak yang ditunjuk dengan berbagai nama. Dalam kepercayaan ini, manusia belum mengalami keberpihakan antara dirinya sebagai subjek dengan semua yang ada di luar dirinya sebagai objek. Ada peran intuisi yang mendahului refleksi. 

Martin Heiddeger menunjukkan kesatuan asali manusia dan segala yang ada membuat manusia mengerti realitas secara intuitif. Dari situ, diperoleh pemahaman yang ada. Dari manusia, dituntut sikap kerelaan untuk menerima kebenaran.

Penyingkapan diri realitas itu ditangkap pertama kali oleh manusia dengan intuisinya sehingga percaya akan Yang Mutlak, termasuk merupakan hasil dari intuisi. Pengalam religius tampak pada aliran-aliran dan sistem-sistem kepercayaan yang disebut dengan agama.

Pandangan Tuhan dalam Hinduisme

Pada Hinduisme, segala-galanya dipahami sebagai satu dengan zat paling mendasar, yaitu Brahman. Dialah atman atau jiwa yang meresapi segalanya dan yang sejatinya ada sehingga yang lain adalah maya. Dia yang merupakan prinsip atau jiwa dunia adalah satu dengan jiwa manusia. 

Pengalaman religius dalam hinduisme dibangun dari relasi jiwa dengan Brahman yang meresapi dirinya. Manusia haru merasakan hadirnya Tuhan dalam batinnya. Dialah merupakan batin sendiri dari alam fenomena. 

Kesadaran diri adalah kesadaran Tuhan. Brahman didekati dengan persatuan batin dengan diri sendiri disertai askese terhadap dunia luar dan renungan terhadap Brahman melalui pengalaman hidup.

Dalam Hinduisme, Yang Satu itu mengungkapkan diri dalam ‘trimurti’ dan ribuan dewa-dewi. Semuanya itu merupakan personifikasi ketuhanan yang satu dan hadir dalam hidup rakyat. Alam dilihat sebagai eksteriorisasi zat Ilahi yang penuh kekuatan gaib dan ditanggapi masyarakat dengan ritus. Semuanya, dewa-dewi, roh-roh, manusia, dan alam, dipandang sebagai emanasi dari Zat Yang Satu.

Pandangan Tuhan dalam Buddhisme

Dalam Buddhisme, Yang Ilahi dipandang sebagai suatu rahasia yang dibiarkan saja dengan bersikap diam berhormat kepadanya. Yang penting bagi manusia adalah melakukan apa yang dapat dilakukan demi pembebasan dari roda karma. 

Salah satu cara untuk ini adalah menyelami hidup dalam renungan sampai layak masuk ‘Nirwana’.

Pandangan Tuhan dalam keagamaan Tionghoa

Dalam keagamaan Tionghoa, ketuhanan dianggap dasar dan makna segala-galanya. Langit dipandang sebagai pancaran dan acuan keselarasan kosmis. Bila semua unsur alam raya berada pada tempatnya masing-masing, maka masyarakat akan selamat. 

Manusia perlu menempatkan diri dalam posisi tepat terhadap ketuhanan dengan menemukan tempatnya yang betul di alam semesta dengan cara menemukan ‘dao’. Dao merupakan jalan atau hukum dan sumber segala-galanya. Di belakang segala segala di alam raya terdapat ‘dao’.

Salah satu aliran dalam ketuhanan tionghoa adalah taoisme. Tao ini diakui sebagai jalan tengah dan pusat kreatif dari segala yang ada. Tao mengatasi subjek dan objek, ruang dan waktu. Dalam hubungan dengannya, aku sebagai pribadi sudah tidak ada artinya lagi

Lalu bagaimana dengan Agama Samawi?

Agama samawi didasarkan pada pewahyuan. Pewahyuan artinya Yang ilahi menyatakan diri kepada manusia. Berawal dari pengalam Abraham akan Tuhan yang disebut Yahwe. 

Yahwe ini suatu pribadi yang memiliki nama dan berelasi personal dialogis dengan manusia. Ia mempunyai rencana pada umat manusia dan akan melaksanakannya. Ia Maha Esa dan tidak ada dewa di samping-Nya. 

Dewa-dewa lain tidak berarti apa-apa. Ia dianggap bertakhta di atas langit dan bumi. Ia diakui sebagai yang menciptakan langit dan bumi. Meski ia hadir memelihara ciptaan-ciptaan-Nya, namun diakui tetap ada perbedaan tak terjembatani antara diri-Nya dan ciptaan.