Pada dasarnya, secara naluriah, manusia mengakui bahwa ada kekuatan dalam kehidupan ini yang berada di luar dirinya ataupun makhluk hidup lainnya. Hal ini dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, baik itu berupa musibah, bencana ataupun kesulitan hidup lainnya. Pasti demikian pula tatkala manusia berhadapan langsung dengan gerbang kematiannya.

Manusia akan mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba Maha dan serba mampu, yang dapat membebaskannya dari keadaan itu. Ini dialami semua manusia.

Maka dapat dipahami, bahwa manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan kepada sesuatu yang serba Maha dan serba mampu tersebut. Sebagaimana oleh para agamawan disebut Tuhan. Dikarenakan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataannya kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam.

Hal demikian disebabkan dengan berbagai latar belakang masing-masing manusia yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat dan dari satu masa ke masa, sehingga bentuk kepercayaan itu pun menjadi plural meskipun pangkal tolaknya sama, yaitu kepada wujud yang serba Maha dan serba mampu tersebut.

Dikarenakan bentuk-bentuk kepercayaan itu beragam dan berbeda satu sama lainnya, maka bentuk kepercayaan tersebut harus sungguh-sungguh merupakan kebenaran. Sebab sumber nilai dan pangkal kebenaran itu haruslah kebenaran itu sendiri.

Kebenaran adalah asal dari segala tujuan, dan kebenaran yang mutlak adalah Tuhan dari segala yang dituhankan, Tuhan yang Maha Tinggi, Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang serba Maha, dan Tuhan yang serba mampu, yang memanunggal dalam Dzat Tuhan Allah.

Maka dengan apa yang telah diuraikan di atas, Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Meskipun dalam sudut pandang filsafat materialisme Dia ditiadakan, tetapi hal tersebut tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap kewujudan-Nya.

Sebab, tetap saja ketika mereka berada dalam keadaan sangat kesulitan, kesusahan, dan berada di hadapan gerbang kematiannya, mereka akan mengeluh, meminta pertolongan dan mengakui bahwa mereka butuh kepada suatu Dzat yang serba Maha dan serba mampu tersebut untuk menolongnya. Meskipun setelah Dia menolong mereka, mereka kembali berpaling dan mendustakan-Nya (Qs. 17:67).

Sebagai makhluk hidup, manusia tentunya meyakini dengan akan adanya kematian. Karena itu merupakan suatu keniscayaan dari pengakuannya sebagai makhluk hidup. Sebab setiap yang hidup niscaya akan mati(Qs. 3:185). 

Untuk mereka yang beragama, mungkin sudah banyak pembelajaran ataupun pembahasan mengenai kematian dan apa yang akan terjadi setelah mati. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak beragama dan mengingkari adanya Tuhan (atheis)?

Sebagian besar dari atheis beranggapan bahwa tidak ada kehidupan lagi setelah kematian. Bagi mereka yang akan terjadi setelah kematian adalah kehampaan, sama halnya sebagaimana mereka sebelum lahir. 

Akan tetapi, justru dari kehampaan tersebut muncullah pelbagai jenis kekhawatiran dan ketakutan. Segala upaya yang dilakukan semasa hidupnya, akan bermakna sia-sia saja. Sebab dia tidak bisa menikmati apa yang menjadi baktikanya kepada hidupnya setelah kematian nanti, dan hanya akan diganti dengan kehampaan yang dia percayai.

Dengan demikian, secara tak sadar para ateis sekalipun membutuhkan suatu pijakan terhadap apa yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan mereka. Pastinya kepada suatu Dzat yang serba Maha dan serba mampu itu.

Namun, lain halnya dengan mereka yang beragama. Mereka meyakini bahwa setelah kematian akan ada lagi sebuah kehidupan, yang mana kehidupan berikutnya tergantung pada perbuatan manusia tersebut di kehidupannya yang sekarang.

Oleh karena itu, setiap manusia yang beragama pasti akan menggantungkan segala bentuk harap dan usahanya tatkala berada dalam kesulitan semata-mata kepada Tuhan. Sebab bagi mereka, sebaik-sebaiknya penolong dan pelindung adalah Tuhan(Qs. 3:173). Sebagaimana peranannya sebagai suatu Dzat yang serba Maha dan serba mampu tersebut.

Maka manusia yang beragama dan taat dengan agamanya akan jauh lebih siap dalam menghadapi pelbagai kesulitan bahkan gerbang kematiannya. Meskipun harus ada yang mengingatkan, bahwa semua yang ditimpakan kepadanya adalah ujian dan cobaan yang senantiasa akan memberinya pembelajaran kehidupan. Sebab Tuhan tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya (Qs. 2:286).

Sedangkan mereka yang tidak beragama dan mengingkari adanya Tuhan (ateis), ketika menghadapi situasi sulit hingga gerbang kematiannya tiba, senantiasa akan dilema yang luar biasa dan pada akhirnya akan tetap berseru juga kepada-Nya selaku Dzat yang serba Maha dan serba Mampu untuk mau menolongnya.

Oleh sebab itu, pada dasarnya manusia harus memiliki suatu bentuk kepercayaan, yang mana kepercayaan itu harus disandarkan kepada kebenaran. Dan kebenaran yang mutlak hanyalah Tuhan dari segala yang dituhankan, Tuhan yang Maha Tinggi, Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang serba Maha, dan Tuhan yang serba mampu, yang memanunggal dalam Dzat Tuhan Allah. 

Karena hanya kepada-Nya lah manusia menggantungkan harapan, dan  memohon segala bentuk perlindungan dan pertolongan.

Meskipun seseorang yang tidak mengakui akan adanya Tuhan dan meragukan-Nya(atheis), pada dasarnya tetap manusia. Yang secara naluriah akan mengakui bahwa ada suatu Dzat yang serba Maha dan serba Mampu yang bisa menolongnya tatkala menghadapi pelbagai kesulitan, bahkan hingga kelak dia berada di depan gerbang kematian. Sebab suatu bentuk keraguan yang benar-benar ragu, itu sungguh sangat meragukan.

~210

Tanjungsari, 03/05/2020