Binatang yang berkelas insekta ini mempunyai banyak keistimewaan. Lebah sering disebut di dalam Kitab Suci, bersamaan dengan produksi andalannya, madu. 

Baik yang telah disebut pada Alquran, Alkitab, Tripitaka, Weda, lebah ternyata masih belum digali dalam dari sisi suara atau dengungannya. Khususnya yang berhubung dengan pola komunikasi supranatural dengan Tuhan.

Gelombang suara lebah sangatlah unik. Lebah memancarkan bunyi dengung dari getaran sayapnya. 

Oleh karena setiap getaran menghasilkan frekuensi dan interferensi, maka lebah dapat berkomunikasi dengan apa saja yang dapat menangkap frekuensi gelombangnya, baik secara langsung (receiver mode) ataupun ikut bersama-sama bergetar (interference mode).

Dengungan lebah adalah sebuah harmoni yang merupakan pernyataan rasa, gagasan, keselarasan, keserasian antara irama dan gerak. Jadi, dengungan lebah itu bukan sesuatu yang asal-asalan.  

Rentang frekuensi yang dihasilkan getaran sayap lebah menghasilkan bunyi dengung dengan yang berfrekuensi antara 151 hertz hingga 248 hertz. Frekuensi ini dapat ditangkap oleh bunga-bungaan tertentu, misal jenis evening primroses (Oenothera Drummondoli). 

Frekuensi dengungan lebah tersebut memberi efek dan stimulan berupa naiknya konsentrasi gula dalam nektar sebesar 20 persen. Artinya, bunga-bunga tersebut terkoneksi dengan frekuensi getar sayap lebah yang berwujud bunyi dengungan. 

Dinamika suara dengungan lebah sangat mengilhami pola-pola komunikasi manusia dengan Tuhan. Dengungan tercatat sebagai bentuk komunikasi rohani manusia dengan Tuhannya yang banyak juga tercatat di dalam Kitab Suci. Ini sungguhlah menarik untuk ditelaah.

Dinamika ilmu dengungan lebah ini muncul dengan berbagai istilah. Salah satunya adalah Glossolalia. Ia adalah sebuah fenomena ocehan tanpa arti dengan suara khas seperti dengungan lebah.

Glossolalia merupakan pengucapan suara yang mirip bahasa. Namun, kadang tak dapat dipahami maknanya. Seperti halnya saat seseorang sedang dalam keadaan kesurupan.

Glossolalia berkembang di hampir semua bagian dunia. Pemujaan berhala dan paganisme di seluruh dunia selalu terobsesi dengan bahasa roh untuk komunikasi supranatural yang disebut dengan glossolalia. Hingga mincul istilah kesurupan.

Beberapa paganisme yang menggunakan glossolalia sebagai komunikasi antarroh adalah: kaum Shaman di Sudan, aliran Shango di Pantai Barat Afrika, aliran Zor di Etiopia, aliran Voodoo di Haiti, dan kaum Aborigin di Amerika Selatan dan Australia.

Ocehan yang berdengung seperti suara lebah atau bicara tanpa arti dalam praktik kuno merupakan tanda bahwa orang suci sedang berada dalam dunia mistis. Penelitian yang dilakukan oleh Lutheran Medical Center menunjukkan bahwa glossolalia mudah dipelajari dengan memberikan instruksi-instruksi sederhana. 

Mari, selanjutnya, kita lihat fenomena dengungan lebah lainnya. Rasulullah bersabda: hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Alquran pulang kembali ke asalnya sehingga gema Alquran berdengung di sekitar Arasy seperti dengungan lebah.

Kemudian ada lagi sahabat Nabi, Kaab berkata: mereka (orang Madinah yang baca Alquran di rumah mereka) memiliki suara dengungan seperti lebah pada waktu malam. Fenomena di atas dikenal dengan istilah Al-Hadr; sebuah tingkatan baca Alquran yang paling cepat seperti dengungan lebah. Sering kita dengar lewat corong-corong masjid.

Ada juga hadis yang menginformasikan bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi seperti bunyi gemerincing lonceng, suara lebah, dan sebagainya.

Pun begitu, tentang telinga kita yang kadang mempunyai anomali pendengaran berdenging atau berdengung yang disebut dengan tinnitus. Hingga saat ini, penyebab telinga berdenging belum diketahui secara medis.

Dalam sebuah hadis, ketika mendapat fenomena tinnitus, kita dianjurkan berdoa. Hal ini dianggap sebagai salah satu bentuk komunikasi supranatural yang mirip dengan komunikasi frekuensi dengungan lebah.

Glossolalia sebagai bentuk komunikasi frekuensi yang berbasis konsep dengung lebah merupakan transisi dari suara yang bisa dimengeri menjadi suara cepat yang akhirnya hanya dimengerti oleh pembicara dan penerima pesan saja, Dalam hal ini, manusia dan Tuhan sebagi transmiter dan receivernya.

Glossolalia berkebalikan dengan xenoglossia. Di mana xenoglossia adalah kemampuan untuk berbicara dengan fasih bahasa yang tidak pernah dipelajari orang itu sebelumnya, atau dengan istilah lain sebagia poliglot; pengucap multibahasa.

Aspek glossolalia yang lainnya adalah sukacita yang liar dan luar biasa atau tampak seperti orang yang kerasukan. Dapat kita lihat pada praktik zikir-zikir berjamaah, di situ pengucap zikir bak kesurupan dengan suka citanya masing-masing. 

Intinya, mereka bermesraan dengan Tuhannya lewat dengungan-dengunan dari bacaan normal yang diperlakukan secara cepat dan singkat pelafalannya.

Ada beberapa orang Kristen, khususnya di gerakan Pentakostal, yang percaya bahwa ada penjelasan supernatural terkait glossolalia, seperti yang tercantum dalam Perjanjian Baru. Mereka percaya bahwa tujuan utama dari karunia berbahasa roh adalah manifestasi Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka, seperti pada saat hari Pentakosta (Kis pasal 2), sebagaimana telah dinubuatkan oleh Nabi Yoel (Kis 2:17).

Glossolalia juga bermanifes ke dalam hal-hal suci lainnya. Seperti, lenguhan atau dengungan seksual ketika berhubungan badan. Erangan, dengungan, lenguhan, dan bahkan jeritan adalah manifes glossolalia yang menunjukkan suka cita yang sangat hebat. 

Dan tak jarang pula hal ini bisa menghubungkan manusia dengan Tuhannya yang terlahir dalam frasa komunikasi rasa terima kasih dan keheranan, “Oh my God”.

Glossolalia dalam hal ini sangat dimuliakan. Hingga tak ada satupun keterangan yang megharamkan glossolalia dalam seksual.

Muawiyah bin Abu Sufyan pernah menjimak istrinya. Tiba-tiba sang istri mengeluarkan desahan dan rintihan yang penuh gairah hingga ia sendiri malu pada suaminya. Apa yang dilakukan istrinya menjadi dasar jawaban beberapa pertanyaan sahabat tentang hal tersebut.

Jawaban Muawiyah: tidak masalah, demi Allah, yang paling menarik dari kalian adalah desahan napas dan rintihan kalian. Asem!

Ibnu Abbas juga pernah ditanya tentang hukum desahan dan rintihan saat jimak seperti ini. Beliau menjawab: jika kalian berjimak dengan istri, lakukanlah sesuka kalian. Temasuk munculnya glossolalia dengan varian frekuensinya masing-masing.

Demikianlah, glossolalia telah merebak dari lebah, wahyu, kesurupan, hingga hubungan intim. Semoga Tuhan mendengar glossolalia lainnya. Tuhan Maha Mendengar.