Anakku tiba-tiba melipat tangan di depan dada. Dia berdoa: “Ya Tuhan, buatkan ayah untuk aku, ya. Yang bisa antar aku ke sekolah. Yang ganteng, Tuhan. Cepat buatkan, ya, Tuhan. Satu saja, untukku.”

Raut mukanya serius. Tetapi usai berdoa, dia tersenyum ke arah saya, lalu bertanya, “Bunda, kapan ayah selesai dibuat Tuhan?”

Bisa dipastikan saya hanya bisa diam. Kejadian itu dua bulan lalu, ketika kami habiskan liburan bersama. Dan hampir setiap hari dia menanyakan kapan ayahnya akan selesai dibuat Tuhan. 

Tidak mudah bagi saya untuk menjelaskan kenapa dia hanya memiliki bunda dan tidak memiliki ayah. Ayah, seperti dalam pintanya, tentu bukan seperti adonan roti yang dibuat sekarang dan beberapa jam lagi akan mengembang. Meski, di pikiran kecilnya, seperti itulah ayah dibuat.

Bukan sekali dua kali saya mendapatkan pertanyaan dari anak yang sulit untuk saya jawab. Usia dua tahun dia sudah bertanya kenapa dia tidak punya ayah. Pertanyaan serupa diulang di tahun berikutnya. Pada umurnya yang keempat saat ini, dia membuat permohonan agar Tuhan membuatkan adonan ayah untuknya.

Kali lain, dia minta dibuatkan adik bayi kecil. "Kita ambil di rumah sakit saja, Bunda, yang tidak diambil orang tuanya,” begitu ujarnya. “Nanti aku yang kasih susu dan suapin,” lanjutnya. 

“Kalau kamu sekolah bagaimana?” tanya saya. 

“Titip dulu ke mbak, nanti pulang sama aku lagi,” lanjutnya. Sesederhana itu jalan pikirannya. 

Mudahnya hidup kalau kita berpikir bagai kanak-kanak. Dia menginginkan adik kecil untuk teman mainnya setiap hari. Percakapan ajaib seperti ini hanya terjadi di masa kanak-kanak, spontan dan tak berpikir panjang tentang kecemasan. 

Makin dewasa, makin terstruktur cara berpikirnya. Kadang hilang spontanitas dan keajaibannya.

Tidak mudah sebagai orang tua tunggal menghadapi keingintahuan anak, terlebih di saat-saat pembentukan kepribadian seperti saat ini. Tidak cukup saya diam atau menjawab dengan senyuman, karena dia akan mengejar sampai dapat jawaban yang dia inginkan, jawaban dalam bahasa sederhana yang dia pahami.

Tetapi satu hal, sejak perpisahan di awal pernikahan dulu, saya memang bertekad untuk mendidik dia dengan ketulusan, tanpa dendam dan memaafkan perpisahan itu. Tetapi ternyata tiga kata itu tidak mudah saya jalankan. Butuh waktu untuk bergulat dengan kata maaf. Ini melelahkan dan kadang mampir menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan.

Saat tubuh sudah lelah beraktivitas dari Senin hingga Jumat dan ke Yogya untuk mengunjungi anak, yang saya temui justru anak yang kolokan, atau kadang pemarah. Rasanya habis kesabaran dan ingin meluapkan ketidaknyamanan. 

Padahal di kemudian hari baru saya tahu, kemarahan dan kolokannya anak karena dia begitu rindu dan tidak mau ditinggal-tinggal lagi. Kalau sudah begitu, saya selalu mengingat kembali wangi badan bayi yang saya tahan-tahan rindunya dalam satu pekan kemarin. Ya, wangi badan  bayi yang membuat saya semangat lagi. 

Pernahkah kamu rindu bau bayi? Bersama anak, meski sekejap, sangat istimewa untuk merekam kenangan masa kecilnya. Masa-masa saya banyak kehilangan rekaman kenangan ini karena jarak tempat yang berbeda, Jakarta-Yogya.

Kini, saya sadar, tiga kata itu seolah menjadi mantra bagi saya menjalani hari-hari yang menyenangkan dengan anak. Dia menjadi anak yang sangat peduli, terlebih dengan bundanya. 

Tulus, tanpa dendam, dan memaafkan justru menjauhkan saya dari energi negatif yang mungkin akan melingkupi saya dan akhirnya tak mampu berkomunikasi dengan baik bersama anak.

Pada titik ini barangkali saya menyadari, mungkin inilah titik penerimaan diri. Saya tahu hidup tak sempurna. Tetapi dengan menerima ketidaksempurnaan ini, ada semangat untuk bangkit lagi. Bukan hanya semangat, tetapi juga momen penerimaan diri.  

Saya ingat betul, ketika anak masih di kandungan, ketiga mantra itu yang selalu saya ucapkan sambil mengusap kandungan. Dan mantra itu yang menjembatani saya dan anak hingga kini. 

Ketika saya masih menyimpan amarah, bisa dipastikan setiap tuturan ke anak akan bernada negatif pula. Satu pilihan sikap akan berbeda buahnya di masa depan.

Saya bergulat untuk mengolah energi negatif itu menjadi positif. Tak mudah memang. Dan perlu waktu. Tetapi selalu ada keyakinan, berpikir positif akan memudahkan menyelesaikan berbagai masalah yang muncul. 

Dalam diri kita, ada dua hal yang akan saling berperang, memaafkan dan melanjutkan hidup, atau mengumbar marah tak berkesudahan dan tetap harus hidup. Saya memilih yang pertama. Mengalahkan sifat perusak dalam diri saya, ataupun kita. 

Ketika sudah benar-benar memaafkan, ringan langkah kita ke depannya. Tidak lagi membawa gembolan dendam, marah, dan perasaan tak nyaman lainnya.

Apakah doa anak saya sudah terjawab saat ini? Hehhehehehhe……tunggu di tulisan yang lain, ya. Sabar saja.