Garis Khatulistiwa atau nama lainnya yaitu Equator merupakan garis khayal yang membentang mengelilingi bumi dan membagi bumi menjadi dua belahan yang sama, yaitu kutub utara dan kutub selatan.

Terdapat 13 negara yang terletak di garis khatulistiwa ini, salah satunya Negara Indonesia. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang dilewati oleh garis khatulistiwa (Equator). Sehingga banyak orang menyebutnya dengan sebutan Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Ada delapan provinsi di Indonesia yang dilewati oleh garis pembelah bumi bagian utara dan selatan ini. Yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Barat, Riau, Maluku, dan Papua.  

Kali ini saya akan membahas Tugu Khatulistiwa yang berada di Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Tugu ini terletak 79 km ke arah selatan Kota Pekanbaru.

Secara geografis, Lipat Kain ini terletak pada garis lintang 0 derajat Lintang Utara dan 101 : 12 13 Bujur Timur. Karena dilalui oleh garis khatulistiwa, maka tak heran kalau udara di sini cukup panas.

Lipat Kain. Mendengar kata ini mungkin sebagian orang tergambar di benaknya adalah orang-orang yang mencuci baju kemudian melipati pakaian yang sudah disetrika. Karena memang banyak yang tidak mengetahui daerah ini.

Sekilas memang biasa-biasa saja dengan daerah yang bernama Lipat Kain ini. Tidak ada yang unik dan tidak ada yang spesial dari daerah ini. Namun, jika ditelisik lebih jauh, Lipat Kain telah ditakdirkan memiliki keistimewaan yang tidak banyak tempat lain bisa memilikinya.

Keistimewaan daerah yang dilalui oleh garis khatulistiwa ini adalah seluruh wilayahnya beriklim tropis. Curah hujan, suhu, dan kelembapan rata-rata harian di wilayah ini tergolong tinggi. Matahari terus bersinar sepanjang tahun, sehingga berbagai macam hewan dan tumbuhan dapat hidup di daerah ini.

Ada dua kejadian unik yang terdapat di garis equator ini. Yaitu jika kita berada di garis equator, maka bayangan kita tidak akan terlihat. Dan jika kita meletakkan telur di garis khatulistiwa, maka telur tersebut pun bisa berdiri tegak.

Selama ini, garis khatulistiwa yang paling banyak dikenal orang dan yang masuk di dalam pelajaran geografi hanyalah Kota Pontianak, Kalimantan Barat saja. Sementara itu beberapa daerah lain banyak yang tidak dianggap. Salah satunya Lipat Kain ini.

Pada zaman dahulu Lipat Kain hanya terdiri dari satu desa dengan nama wilayah koto. Sekitaran tahun 1980-an mulailah terjadinya perkembangan dan pelebaran wilayah ke arah utara dengan nama “congke” atau biasa dikenal cengkeh. Entah darimana nama ini berasal. Apakah dulunya disini terdapat banyak kebun cengkeh atau hanya sebutan orang-orang pada zaman terdahulu.

Kemudian, pada tahun 1978 terjadinya musibah kebanjiran di daerah hulu sungai subayang. Peristiwa ini menyebabkan peradaban baru di daerah cengkeh ini semakin meluas, karena banyaknya pengungsi yang datang dari perkampungan hulu sungai.

Pemerintah akhirnya memberikan bantuan berupa rumah untuk menampung Korban banjir ini. Tepatnya di wilayah Suka Menanti dan Kayu Mas. Orang-orang menamakan musibah ini yaitu Musibah Kebanjiran Besar Tahun 78 yang disingkat MUSKARABET 78.

Kini daerah Lipat Kain sudah dibagi menjadi lima wilayah, yaitu Kelurahan Lipat Kain, Desa Lipat Kain Selatan, Desa Lipat Kain Utara, Sungai Paku dan Sungai Geringging. Sedangkan, Tugu Khatuistiwa ini terletak di Desa Lipat Kain Selatan.

Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani kebun karet dan kelapa sawit. Sementara itu, ada yang bekerja sebagai nelayan sungai, pedagang, pegawai negeri , pekerja kantoran dan buruh pabrik.

Tugu Khatulistiwa ini dibangun pada masa kolonial Belanda dengan bentuk bangunan yang sederhana, karena terbatasnya arsitek dan bahan material yang sulit didapatkan. Sampai saat ini pun, tidak ada yang mengetahui tanggal pembuatan tugu khatulistiwa ini, dan juga tidak diketahui siapa peletak batu pertama.

Tugu Khatulistiwa ini, akan lebih dekat jika ditempuh dari arah Pekanbaru. Jika menggunakan kendaraan pribadi Sepeda Motor kurang lebih berkisar dua jam perjalanan. Jalanan yang ditempuh cukup halus dan bagus. Jalanan ini merupakan rute yang menuju kearah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Maka dari itu, jika ada yang berencana travelling ke daerah Riau. Tidak ada salahnya memasukkan Tugu Equator Lipat Kain ini ke dalam daftar tempat-tempat yang akan kamu kunjungi.

Jam buka tugu ini tidak terbatas bisa dikunjungi kapan saja selama 24 jam. Letak tugu ini memang persis di tepi jalan besar. Sehingga pengunjung bisa langsung memasuki kawasan Tugu Khatulistiwa ini secara cuma-cuma alias gratis. Tanpa biaya masuk ataupun biaya parkiran.

Di kawasan tugu ini kita bisa duduk-duduk santai melepas lelah dari jauhnya perjalanan. Dan tentu saja yang tidak boleh dilewatkan yaitu foto-foto untuk mengabadikan momen bahwa pernah berada tepat di garis lintang 0 derajat.