38714_48725.jpg
Pendidikan · 4 menit baca

Tugas Terberat Seorang Guru adalah Keteladanan

Selain mengajar, guru harus bisa menjadi teladan bagi siswanya, demikian penegasan Mendikbud Muhadjir Effendy beberapa waktu lalu sebagaimana yang dilansir di laman resmi Kemendikbud. Secara istilah guru merupakan akronim dari kata digugu dan ditiru, yang berarti bahwa guru adalah seseorang yang dipercaya dan diikuti. Pemerintah pun saat ini tengah menggalakkan program pendidikan karakter yang semakin menegaskan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi lebih dari itu guru harus mampu menjadi teladan bagi siswanya sehingga terbentuk karakter yang positif pada diri siswa.

Tugas guru menurut standar kompetensi guru yang sudah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terdiri atas  4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Kemudian dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Standar Isi disebutkan bahwa setiap pembelajaran yang dikelola seorang guru harus mampu menghasilkan seorang siswa yang memiliki 4 kompetensi sekaligus, yaitu kompetensi spiritual, kompetensi sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi ketrampilan. 

Kedua peraturan tersebut memberikan penegasan bahwa seorang guru tidak hanya memiliki pengetahuan yang mumpuni sesuai bidang tugasnya, tetapi lebih dari itu seorang guru harus pula mempunyai kepribadian yang mumpuni sehingga bisa menjadi teladan bagi siswanya dalam pembentukan kompetensi spiritual dan kompetensi sosial pada diri siswa.

Tugas guru sebagai teladan bagi siswa dalam upaya membentuk kompetensi spiritual dan kompetensi sosial pada diri siswa inilah sebetulnya yang menjadi tugas terberat seorang guru. Dibandingkan dengan tugas untuk menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan yang dapat dipelajari dan diasah, tugas menjadi teladan ini adalah karakter seorang guru yang sangat sulit diubah karena sudah tertanam sedari kecil jauh sebelum guru tersebut menjadi guru. Seorang guru mungkin masih bisa menjadi teladan yang baik ketika berada di sekolah, tetapi tuntutan menjadi teladan tersebut bukan hanya belaku di sekolah, melainkan juga berlaku juga dalam kesehariannya ditengah-tengah masyarakat.

Dari segi norma, seorang guru harus mampu menjadi teladan bagi siswanya dalam mematuhi norma-norma hukum, agama, sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Guru tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum, apalagi jika sampai diproses karena melakukan tindakan melawan hukum. Seorang guru harus menunjukkan ketaatannya beribadah sesuai agama yang dianutnya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Guru juga harus mempelajari dan mengamalkan norma-norma sosial dan budaya yang berlaku ditengah-tengah masyarakat di mana guru tersebut berada.

Dari segi akhlak, seorang guru harus memiliki akhlak yang mulia yang bisa menjadi panutan bagi siswanya dan masyarakat sekitarnya. Seorang guru harus jujur dan tidak berbohong sekalipun. Karena sekali saja guru tersebut bertindak yang baik, maka itu akan menjadi catatan bagi siswa dan masyarakat serta bisa mencoreng nama baik seorang guru tersebut. Akhlak seorang guru sangat sensitif di tengah-tengah masyarakat. Sedikit saja guru melakukan akhlak yang tercela, maka masyarakat tidak akan mempercayai guru tersebut. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk benar-benar menjadi manusia sempurna dengan akhlaknya yang mulia.

Dari segi kepribadian, seorang guru harus bisa menjadi seorang pribadi yang mantap, stabil, arif dan bijaksana. Kepribadian guru sangat penting artinya bagi seorang guru dalam membina siswanya. Menurut beberapa penelitian menunjukkan bahwa kepribadian guru bisa mempengaruhi motivasi belajar siswa, mempengaruhi minat dan antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, serta bisa mempengaruhi moral siswa.

Dalam hal pekerjaan, seorang guru harus memiliki etos kerja dan tanggung jawab kerja yang tinggi. Hal ini akan menjadi teladan bagi siswa dalam menjalani pekerjaannya sebagai siswa. guru juga harus bangga menjadi guru serta memiliki rasa percaya diri. Ungkapan-ungkapan seperti “Saya dulu sebetulnya tidak ingin menjadi guru” atau “Saya sebetulnya terpaksa menjadi guru” jangan pernah diucapkan oleh seorang guru, karena hal tersebut akan berdampak besar pada motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, seorang guru harus mampu bertindak inklusif, yaitu harus mampu menilai positif setiap perbedaan, baik perbedaan suku, agama, ras maupun antar golongan. Guru harus mampu bertindak obyektif terhadap semua perbedaan. Tidak diskriminatif terhadap siswa dan masyarakat karena perbadaan suku, agama, ras, jenis kelamin, latar belakang keluarga, maupun status sosial ekonomi.

Guru juga harus mampu menjadi panutan bagi siswanya dalam berkomunikasi. Seorang guru harus mampu berkomunikasi dengan santun, empatik dan efektif. Kata-kata kasar tidak boleh diperlihatkan oleh seorang guru, baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Guru juga harus menghargai dan mendengarkan dengan baik setiap pembicaran orang lain, walau berbeda dengan pendapatnya. Guru hanya menyampaikan kata-kata yang dianggap perlu saja dalam setiap pembicaraannya, tidak banyak menambah-nambah sehingga terkesan bertele-tele.

Sejumlah sikap dan kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru seperti yang diuraikan di atas adalah merupakan beban yang cukup berat bagi seorang guru. Jika seorang guru berada ditengah-tengah masyarakat yang suka berjudi, maka seorang guru harus mampu menjadi panutan hingga masyarakat sekitarnya tidak lagi berjudi. Jika seorang guru berada ditengah-tengah masyarakat yang apatis beribadah, maka seorang guru harus mampu menjadi panutan sehingga masyarakat sekitarnya menjadi taat beribadah.

Pembentukan karakter siswa yang dewasa ini sangat menjadi perhatian serius dari pemerintah sebetulnya hanyalah implikasi dari kompetensi seorang guru. Jika saja kompetensi seorang guru sesuai dengan yang diharapkan, terutama kompetensi sosial dan kompetensi kepribadiannya, maka lemahnya karakter siswa seperti yang dikhawatirkan sekarang ini tidak akan pernah terjadi.

Posisi guru memang sangat strategis dalam mencetak genarasi yang berkarakter. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu menjaga konsistensi kepribadiannya sepanjang hayatnya. Sangat tidak ada gunanya generasi yang cerdas jika tidak dibarengi dengan karakter yang terpuji. Hal inilah yang menyebabkan tugas terberat seorang guru adalah menjaga posisinya sebagai teladan bagi siswa dan masyarakatnya. Seorang guru harus mampu menjelma menjadi manusia paripurna yang dihormati dan diteladani oleh siswa dan masyarakat karena kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya yang sangat terpuji.