Pada salah satu segmen di acara Kenduri Cinta, Mas Sabrang MDP bercerita bahwa suatu ketika dia pernah mendapatkan tugas dari bapaknya, yakni Cak Nun, untuk menghampiri sahabat sekaligus gurunya, Umbu Landu Paranggi, sewaktu dia hendak menggelar konser musik Letto di Bali.

Permintaan Cak Nun untuk pria yang juga dikenal sebagai Noe 'Letto' itu adalah supaya Sabrang dapat menimba ilmu kepadanya. Telah banyak yang mengetahui bahwa untuk dapat menemui sosok sastrawan legendaris itu susahnya bukan main. Dan itu tidak terkecuali dengan Mas Sabrang pada saat hendak mencarinya.

Siapa saja telah banyak yang memahami kemisteriusan sosok Umbu yang memilih jalan sunyi ini. Dan bisa saja, Mas Sabrang pada waktu itu akan mengalami kegagalan untuk dapat menemuinya, sehingga dia akan pulang dengan pikiran yang menghampa sebab tak mampu memenuhi titah dari bapaknya.

Untuk memastikan bahwa perjuangannya telah maksimal, Mas Noe pun memutuskan untuk tetap menunggu Umbu di rumahnya meski sebenarnya dia dihantui oleh jadwal konser yang makin mendekat. Dan sungguh beruntunglah Mas Noe, sebab setelah penantiannya selama berjam-jam di rumah Umbu itu, akhirnya usahanya itu tidak sia-sia. Umbu telah pulang ke rumah dan dia berkenan untuk menemui Mas Sabrang.

Mas Sabrang sebenarnya memaklumi lamanya penantian untuk dapat bertemu dengan Umbu itu. Sebab, ia sebelumnya telah mendapatkan informasi dari orang-orang yang pernah dekat dengan Umbu, termasuk juga dari bapaknya ini, bahwa Umbu ini ke mana-mana selalu pergi dengan berjalan kaki.

Dapat dibayangkan, dengan usianya yang mungkin sudah masuk kepala tujuh itu, dia biasa berjalan kaki saat pergi ke kantornya dan pulang dari sana yang jaraknya sekitar 5 Kilometer. Betapa lamanya waktu yang dia butuhkan untuk sampai di rumah dan di tempat kerjanya.

Setelah bertemu dengan Umbu, Mas Sabrang menceritakan tentang dirinya dan tentu saja juga kabar ayahnya. Dan rupanya, Umbu pun sudah tahu banyak tentang dirinya sebab dia jarang ketinggalan untuk menyimak kegiatan-kegiatan bapaknya di Kenduri Cinta, Sinau Bareng, dan Padhang Bulan, meskipun itu hanya melalui kanal YouTube dan laman Jamaah Maiyyah. Oleh sebab itulah Umbu tidak pernah ketinggalan berita.

Pada waktu itu, Mas Sabrang secara terang-terangan mengungkapkan maksud kedatangannya, bahwa dia sebenarnya ingin berguru pada Umbu. Dan untunglah Umbu yang terkenal sangat hemat kata-kata saat berbicara ini pun menyetujuinya.

Dan sebagai tugas awalnya sebagai seorang murid, Umbu pun memberikan dua tugas pada Mas Sabrang. Pertama, dia meminta Mas Sabrang untuk menuliskan apa saja yang dia senangi, khususnya seputar musik. Dan kedua, Umbu memintanya untuk menulis mengenai Kenduri Cinta dan peranannya.

Mengingat latar belakang Mas Sabrang yang aslinya bukanlah seorang penulis, maka tugas dari Umbu itu tentu amatlah berat bagi dirinya. Ditambah dengan karisma dan kewibawaan dirinya yang pernah menjadi raja para penyair di Jogja. Tentu makin berat rasanya tugas itu untuk dapat dia rampungkan. Dalam benaknya dipenuhi angan-angan, jelas tidak mungkin dia akan menyusun karya tulis yang kaleng-kaleng untuk seorang guru sekaliber Umbu itu.

Sebelum mengerjakan tugas ini, tiba-tiba saja dia menjadi terbayang dengan bapaknya. Sosok yang begitu mudahnya menderaskan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan. Bahkan, untuk hal yang mungkin sama sekali baru baginya. Mas Sabrang merenungkan, barangkali ada pelajaran yang dapat dia ambil dari karya-karya terdahulu bapaknya.

Tiba-tiba saja, Mas Sabrang menyimpulkan, bahwa ayahnya itu ibarat seseorang yang berani masuk ke dalam hutan rimba meski tidak mengenal betul seberapa luas hutan yang akan dia jelajahi. Dan nyatanya, bapaknya itu pun dapat melalui hutan itu tanpa tersesat dan terluka sedikit pun. Itulah gambaran teknik menulis yang Mas Sabrang pahami dari karya-karya bapaknya, yang menurutnya sangat sulit untuk dapat dia tirukan. 

Sebelum Mas Sabrang bercerita makin jauh mengenai pengalamannya bertemu dengan Umbu pada Jamaah Kenduri Cinta itu, tiba-tiba saja Cak Nun sedikit menyela. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya dalam menulis itu adalah bagaimana seseorang mampu menitikberatkan pemikirannya pada awal-awal dan akhir kalimat.

Selanjutnya, mengenai keadaan bagian tengah-tengah dari karya tulisnya itu, tinggallah pintar-pintarnya seorang penulis saja untuk mengolah, bersilat gagasan, dan merangkainya.

Dan itulah rupanya teknik yang hendak Mas Sabrang praktikkan untuk menyelesaikan tugas menulis dari Umbu. Akan tetapi, sampai saat ini pun masih menjadi misteri, apakah Mas Sabrang telah menyelesaikan tugas menulis dari Umbu itu?

Dan sebenarnya, bukan persoalan rampung atau tidaknya tugas Mas Sabrang yang menjadi fokus perhatian dalam tulisan kali ini. Akan tetapi, lebih pada bocoran teknik menulis yang telah Cak Nun ajarkan dalam forum Kenduri Cinta itu tadi.

Dengan memahami teknik yang telah Cak Nun ajarkan itu, maka setidaknya penulis dapat menghilangkan keraguan dan rasa takut dalam dirinya sebelum dia menulis. Itulah modal pertama yang sepatutnya dimiliki oleh penulis. Yakni, menulis tanpa rasa takut. 

Setelah memiliki modal teknik yang pertama ini, barulah penulis dapat mengembangkan dirinya sehingga analisisnya kian lama kian tajam dan makin mendalam.

Berkaitan dengan tugas pertama dari Umbu untuk Mas Sabrang untuk menuliskan apa saja yang yang dia senangi ini, sebenarnya merupakan sebuah simbol dari pelajaran menulis. Bahwa dengan menulis apa saja yang kita senangi, hal ini akan memancing imajinasi kita pada saat menyelaminya.

Sehingga, di sini, bahkan untuk kelas penulis baru atau amatir sekalipun tidak akan khawatir mengalami kekeringan ide. Sebab ide dan inspirasi menulis mereka adalah diri mereka sendiri dan segala kesenangan dan keinginan-keinginan mereka yang mungkin jumlahnya tak terhingga itu.

Dan, setelah melalui fase ini, biasanya penulis pun akan semakin bersemangat untuk menyusun karya-karya berikutnya.

Selanjutnya, mengenai tugas yang kedua dari Umbu untuk Mas Sabrang, yakni menulis tentang Kenduri Cinta dan peranan-peranannya, ini juga merupakan sebuah simbol dalam teknik menulis.

Kita tahu bahwa Mas Sabrang sedikit banyak telah malang melintang bersama dengan bapaknya untuk mengikuti kajian-kajian komunitas atau jamaahnya. Dan tentu saja, selama mengikuti kajian ini telah banyak pelajaran yang terserap oleh Mas Sabrang yang seharusnya mampu dia tuangkan dalam bentuk tulisan.

Rupanya, hal itulah yang diharapkan oleh Umbu akan muncul dan berkembang dari kemampuan menulis Mas Sabrang melalui dua teknik menulis darinya. Yakni, menulis apa saja yang dia senangi dan menulis apa saja yang dia ketahui.

Saya kira, dengan berbekal dua teknik menulis ini juga akan berpotensi untuk menggugah ide-ide kita sehingga kita tidak akan sampai mengalami kekeringan gagasan pada saat hendak menuangkannya. Selamat mencoba!