Saya suka geli melihat ada kaum agamawan yang gemar melontarkan istilah ‘kesombongan saintis’, atau menuding kaum saintis itu pongah dan semacamnya. Istilah dan tudingan semacam itu ahistoris.

Sepanjang sejarah, justru kaum agamawanlah, dan bukan saintis, yang kerap mendominasi klaim atas kebenaran. Buat kaum agamawan, sumber kebenaran jelas dan tidak bisa diganggu gugat, yaitu tuhannya, nabinya, kitab sucinya. Tuhan, nabi, dan kitab suci selain yang mereka yakini itu salah semua.

Saintis mana ada seperti itu? Dalam sains, ruang ketidaktahuan itu ada, ruang perdebatan selalu terbuka. Wilayah gelap dalam semesta bisa didekati dengan penyelidikan demi penyelidikan yang mengikuti kaidah dan alat ukur yang terus direvisi agar makin akurat. Sementara perbedaan bisa diatasi dengan pembuktian empiris.

Saintis sejati tidak akan marah kalau teorinya terbukti salah. Saintis sejati tidak akan asal mengutip jurnal, melempar opini, lalu menguncinya dengan ucapan: “no debat”.

Tak seperti agama, sains tidak berdiri di atas iman atau keyakinan seteguh karang. Sains berdiri di atas gelombang bernama hukum-hukum alam. Jadi pada prinsipnya sains menganut kebenaran temporal. Sebuah teori benar selama belum ada teori lain meruntuhkannya.

Perubahan terjadi karena itu tadi, alat ukurnya direvisi dan terus direvisi sampai menjadi makin akurat. Pengamatan dan pengujian terus dilakukan. Sementara teori satu melengkapi teori yang lain.

Selama ini saya kira tak sedikit kaum agamawan yang keliru memahami prinsip positivisme dalam sains. Menganggap sains seolah menyingkirkan tuhan dan menggantikannya dengan pengalaman empiris, logika, dan reason. Padahal saya kira bukan itu yang terjadi.

Positivisme mengharuskan sains suci dari bias subjektivitas manusia. Subjektivitas bisa berasal, salah satunya, dari supremasi keyakinan alias iman. Saya gunakan frasa “salah satunya” karena agama bukanlah satu-satunya nilai yang diperlakukan demikian oleh sains. Subjektivitas juga bisa berasal dari ideologi, prasangka rasial, dan gender.

Adanya teori yang menyebut komunisme bisa diturunkan dari bapak kepada anak sehingga untuk membuktikannya bisa dengan tes DNA adalah contoh bagaimana bias ideologi bisa merusak sains.

Adanya teori yang menyatakan kaum berkulit gelap lebih rendah dari kaum berkulit terang sehingga boleh diperbudak dan didiskriminasi adalah contoh bagaimana bias rasial merusak sains.

Adanya teori yang menganggap perempuan cenderung emosional sehingga tak dapat menjadi pemimpin adalah contoh bagaimana bias gender merusak sains.

Positivisme berupaya menjaga sains dari pembajakan oleh empat penunggang kuda subjektivitas tersebut. Jadi agamawan tidak perlu merasa kegeeran lalu playing victim dengan mengatakan mereka ditindas oleh sains yang otoriter dan merasa benar sendiri.

Justru kalau kaum agamawan mau jujur menengok sejarah, akan kelihatan dengan gamblang kalau berbagai aksi pembunuhan, penyiksaan, genosida, dan teror justru banyak dilakukan dengan mengatasnamakan agama.

Dari awal sains, yang didahului dengan filsafat, selalu memosisikan dirinya sebagai metode dalam rangka mencegah manusia dari perilaku menafsirkan realitas secara simplistik nan fatalitistik. Perilaku yang pernah ditunjukkan seorang kawan saya di bangku SD kelas 3 yang menjawab pertanyaan ibu guru kami tentang bagaimana bumi berputar dengan: “karena sudah kuasa Allah.”

Tentu saja alangkah menggodanya menjawab fenomena-fenomena yang rumit dengan ayat-ayat kitab suci. Tidak perlu lagi perdebatan, tidak perlu lagi penyelidikan. Baca satu buku saja berulang-ulang, taklidlah kepadanya, niscaya Anda akan selamat dunia-akhirat. Tapi jika Anda berkelakuan seperti kawan saya di atas, percayalah, guru SD yang salat malamnya tak pernah lewat sekalipun akan tepuk jidat dan menganggap Anda sebagai siswa yang paling tak punya harapan.

Tapi saya kira di antara kaum agamawan ada pula yang sudah berpikiran maju. Hukum-hukum algoritma, geometri, geologi, epidemiologi, dan antropologi justru ditemukan oleh para penganut agama yang teguh. Ciri utama yang saya perhatikan dari kelompok ini adalah mereka paham di mana harus meletakkan religiositas mereka. Bukan pada epistemologi, melainkan pada wilayah etika dan moral. Bukan soal benar-salah, melainkan baik atau buruk.

Ini satu wilayah yang tak akan pernah disentuh sains. Ia ditinggalkan untuk diisi dengan tafsir manusia atas bagaimana mencapai kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Bagaimana sains dimanfaatkan untuk tolong-menolong, bukan untuk saling merusak.

Sayangnya, kebanyakan kaum agamawan justru menolak memasuki wilayah ini jika dinilai tidak memiliki kaitan langsung dengan akidah. Akibatnya, agamawan cenderung diam melihat sains, lewat teknologi, digunakan untuk menghasilkan kerusakan-kerusakan ekologis dan melaksanakan kejahatan kemanusiaan.

Agamawan baru ribut-ribut manakala para saintis berhasil menciptakan vaksin yang terbuat dari babi tanpa peduli betapa manjurnya vaksin itu dalam memusnahkan penyakit.

Perlu kejadian luar biasa untuk membuat agamawan mendudukkan kembali posisi mereka dalam wilayah etika dan moral tadi. Pandemi ini agaknya mengondisikan hal demikian. Ketika banyak pemuka agama turun berdakwah, dengan menyitir ayat, ucapan Nabi, dan perilaku orang-orang saleh untuk menyerukan aktivitas ibadah dari rumah dalam mencegah merebaknya wabah, di situlah, terus terang, saya merasa terharu.

Di sinilah agama memperlihatkan kerendah-hatiannya, sekaligus memperjelas fungsinya. Bahwa agama hadir untuk menyelamatkan umat manusia. Atau setidaknya untuk mencegah manusia dari kebinasaan. [*]