Aku tidak pernah ada di mana-mana

Tak pernah utuh; tak pernah ada. Barangkali aku tidak hadir—apakah aku telah usai? 

Entahlah, aku pun juga ingin kematian; sebelum terbangun memimpikan semaian kata yang memecah riuh rendah semesta, barangkali ketika itu aku tidak sanggup merasakan sesuatu untuk mengubahnya menjadi kata-kata. Aku bertanya; apakah ini hidupku?

Atau barangkali ketika aku bertaruh kepada tahun-tahun yang penuh dengan kekosongan; apakah aku sia-sia? atau usiaku telah tertelan sepanjang alasan?

Ah! hidupku menerka-nerka bayangan sendiri. Pun dengan kata-kata dan diriku; telah menggenapi kematian masing-masing

Tapi, mengapa aku adalah takdir!

Menikam Desember

Aku tidak tahu lagi di mana letak kesedihan antara dunia dan bulu mata. Sedang kepalaku baru saja menikam bulan Desember

Seperti ujung ruang; aku terpajang dari bahasa tubuh yang telanjang. Sementara yang hilang—aku tidak tahu cara tertawa di bawah bintang

Kehidupan selalu mencari cara untuk mengisi kesunyian. Di sini, raut dunia memanggil kepulanganku, kembali. Menanti.

Membunuh Tubuh

Sekiranya diriku terbuat dari gelanggang api; menggendam radi, menggenggam mati, meraba diri, meracik jali

Aku pernah rasakan sebuah rona dalam pancar sengatannya, potongan-potongan bara itu, menghanguskan jeluknya di seluruhku 

Bahasa tubuh terbakar, menabrak, menghunjam aku dalam lelang waktu

Detak-detik tak berdegup, retak-etik kalabendu, rintik-rintik tumpur kayu, ubun-ubun berteleku

Nadi-nadi berdenyut; menghisap tubuh. Hati-hati bergumul; di panggang tungku. Habis sudah aku, hisab sudah aku. Seluruhku adalah abu. Seluruhku menimang radu. 

Waktu

Waktu, waktu selalu habis di pergelangan tanganku. Dinding-dinding rubuh, dimakan waktu 

Waktu, waktu selalu habis di balik perjalananku. Aku memoar di pojok buku 

Waktu selalu habis di tangan kiriku. Waktu, waktu yang terpotong; terpenggal dari sayatan gunting yang merobek kepalaku 

Waktu; selalu waktu. Tubuhku telah hangus menjadi abu. Terpacak aku dalam waktu 

Waktu yang berdetak dan tak menentu. Waktu, telah habis mengenal tubuhnya sendiri..

Diskresi

Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah

Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan

"Maka, ilhamilah saat kau bersanding,
rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka"

Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar

Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan. 

Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan.

Bengkayang

Kesukaanku, pekerjaanku, atau prinsipku yang berlaku lajak seperti ini, sepertinya akan menyorot ke seluruh tubuh tanpa panggung laga

Yang menyinari aura karisma, yang diterangi lampu-lampu suar, menghirup aroma kebajikan, dan menginderakan seluruh kepekaan

Ia akan datang; bersama malam gemintang, lilin-lilin tanah, ukiran dayak luru', kepala babi menggantung, dan orang-orang menari di atas kebahagiaan

Bengkayang; adalah tempat di mana aku berbagi kebaktian
mengikuti upacara keagamaan
menyanyikan pujian-pujian,
semadi dan sembah sipuh di Bukit Vandering; kuasa Bapa.

58:58

Orang tiba-tiba datang dari 58:58. Melecut; bibir kering-meringking, menyahut; aroma sinis nan melengking, menyudut; lirik tempat berbaring, membuntut; mengelapai kaki-kaki maling

Setiap hari aku bertemu kebencian; dia seperti tokoh dominan yang sok mengerti cara hidup menahan amarah. 

Ruak-ruak

Perahu bercadik menepi di tanah basah melangkah sekali goyah, dua kali semakin berlarah

Sedikit-sedikit tenang, sebanyak-banyak gelisah; sampai ke gunjainya

Ruak-ruak bercumbu di tembakau tengkuk — kudekati, kubelai, kubujuk

Semua memandang sebabak,
mereka menunduk
mengangguk-angguk
meringkuk—hingga terkutuk.

Ini Puisi Pecah

Telepon genggam pecah, jam tangan pecah, kacamata pecah, gelas pecah, piring pecah, asbak pecah, lampu pecah, patung-patung pecah berserakan di telapak kakimu

"Awas barang pecah belah!"—stiker fragile ditempel dari gambar yang pecah-pecah, kepercayaan yang pecah, kerukunan yang pecah, keadilan yang pecah, kemanusiaan yang pecah, keperawanan yang pecah, (identity) yang pecah, dan pecahan-pecahan bilangan matematika yang merumus-padanan lembaran kertas. Pecah

Mencorat-coret, pecah. Sobek-sobekan, pecah. Meremas-remas, pecah. Kusut kasau, pecah. Sebuah kertas pecah ketika langkah-langkah menapak tempat yang salah

Ke hutan pecah, ke gunung pecah, di pohon pecah, diskotik pecah, konser musik pecah, rumah sakit pecah, isi kloset pecah, tempat ibadah pecah, alam pecah, tata surya pecah. 

Masa depan pecah berkali-kali melihat penguasa serakah

Aku; pecah. Identity; pecah. Bahasa; pecah. Puisi; pecah. Semua; rekah 

Tuhan, maukah Engkau ikut pecah bersamaku? 

Kesimpulan Terakhir

Engkau seperti parafrasa ketika aku menjadikanmu wacana di kalimat akhir

Engkau adalah kesimpulan terakhir ketika aku tidak mengarang di buku lain

Aku tertambat; dalam markah yang berpindah di lembar-lembar itu saja

Engkau; menjadi biografiku.