Hari itu menjelang tutup tahun 2021, saya bersama keluarga menikmati liburan bersama di salah satu destinasi wisata yang sedang viral, Cimory Dairyland-Megamendung. Sekitar 500 meter mendekati lokasi, kendaraan mulai melambat. Sebagian kendaraan antre hendak masuk ke lokasi, beberapa orang lalu-lalang menyeberang. Mata saya tertuju pada salah seorang pejalan kaki yang menyeberang jalan, seorang perempuan dewasa bertubuh pendek. Saya bertanya dalam diam "hmm, pengunjung Chimory jugakah?"

Kendaraan kami memasuki area wisata yang sangat luas. Dari sekian banyak spot yang tersedia untuk para pengunjung, saya tertarik pada satu spot yang diberi nama "magic village". Di pintu depan, pengunjung antre menunjukkan tiket. Tiba bagian saya menunjukkan tiket, aha bapak pemeriksa tiket bertubuh pendek. Saya teringat pada seorang perempuan pejalan kaki yang juga bertubuh pendek. Apakah perempuan yang saya lihat tadi ada hubungannya dengan bapak pemeriksa tiket, dan "magic village"?

Setelah melewati pintu pemeriksaan tiket, saya melihat beberapa rumah berukuran mini berjejer, mirip seperti di film Lord of The Ring. Saya seperti terbawa masuk dalam film keren banget itu. Di sebelah kanan, ada papan "minius (kami yang berbadan kecil, gabungan kata  mini: kecil, dan us: kami) yang memajang 6 foto orang bertubuh pendek. Siapa saja mereka? Mereka datang dari daerah Bandung, Padang, Wonosobo, Salatiga, Pelabuhan Ratu, Yogyakarta. 

Selain foto yang dipajang, juga ada kalimat-kalimat indah yang menuliskan tentang kebahagiaan mereka menjadi bagian dari keluarga "magic village", menambah teman dan pengalaman. Kemudian ada papan bertuliskan "misi mulia magic village" yang berisi tentang percaya pada keajaiban, menghargai talenta dan keunikan "minius", menjadi ruang belajar dan berkembang untuk teman-teman yang memiliki talenda berbeda dan unik, lalu ditutup dengan kalimat We Believe! We're Minius.

Saya mulai mempertanyakan deretan kalimat yang tampak indah itu. Apakah untaian kata-kata itu adalah buah pemikiran diri sendiri? Apakah mereka menyadari  diri mereka adalah subjek/pelaku yang memiliki hak berpikir sendiri secara berdaulat, tidak dikontrol oleh kondisi dan situasi, memberi makna atas pengalaman hidup meskipun pahit. Semacam eksistensi mendahului esensi, kata Sartre.

Apakah yang ada dalam benak para "minius"? Apakah mereka berpikir tentang refleksi atas pekerjaan yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang luhur, memberi makna atas pekerjaan sehingga pekerjaan tampak tidak sia-sia? Atau yang ada dalam benak mereka adalah yang penting menjalani pekerjaan sambil senyum sumringah difoto cekrek!

Walau hanya mengikuti peran yang disuruh oleh pemberi kerja, mainkanlah peran walau dalam kondisi pedih. Tetap beri senyum yang penting gaji dibayar layak, bisa mencukupi hidup sehari-hari, syukur-syukur bisa menabung, tidak usahlah dimaknai secara luhur, semacam ide subek/kepelakuan orang-orang modern rasional. Jika mereka berpikir seperti itu, lantas nihiliskah mereka? Haha terserah! Tuduhan nihilis biasanya datang dari orang-orang moralis. Rasanya tidak perlu juga legitimasi yang moralis agar hidup dipandang layak untuk dijalani. 

Setelah bergumam sendiri dengan pikiran yang meliu-liuk, saya memutuskan kembali berjalan mengikuti deretan pengunjung yang tampak sedang asyik foto-foto. Para "minius" sedang berdiri di depan rumah-rumah berukuran mini. Masing-masing mereka berdiri dengan senyum sambil menyapa pengunjung. 

Beberapa pengunjung memotret mereka, sambil bertanya "apakah bisa foto"? Dengan senyum para pengunjung dipersilakan foto bareng: "mari foto bareng" Jawabnya. Entah apa yang ada di kepala saya. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran, mereka diperlakukan seperti orang aneh, tubuh mereka mini, dan dengan semangat para wisatawan mendapatkan gambar mereka: "yuk potret mereka" 

Saya bergumam dalam diri, lalu apa hubungannya dengan nama "magic village"? Apa yang magic? Tubuh mereka yang mini itu dianggap magic? Pada bagian manakah dari seluruh adegan itu,  para "minius" sedang menunjukkan talentanya? Apakah keunikan talenta mereka terletak pada para "minius" berdiri di depan pintu memeriksa tiket, berdiri berjejer memberi senyum mempersilakan pengunjung memotret dan foto bersama? Apakah dengan itu semua, maka muisi "magic village" telah berhasil menjadi ruang belajar dan berkembang untuk teman-teman yang memiliki talenta berbeda dan unik? Di mana hubungan erat antara deretan kalimat indah misi "magic village" dengan implementasinya?

Atau jangan-jangan justru yang sedang terjadi adalah manusia sedang mempertontonkan sesamanya. Para "minius" justru sedang diekspolitasi atas keberadaan tubuh mereka yang dipandang berbeda, dan kenyataan itu dianggap "wow magic!" Para "minius" di "magic village" sedang menjalani pekerjaan yang diberikan dengan sebaik-baiknya, lalu menanti upah. Sulit bagi saya membayangkan, para "minius" neluhur-luhurkan makna atas pekerjaan yang mereka jalani. 

Ketika saya melihat deretan foto para  "minius" yang tersenyum, tulisan singkat berisi "kesaksian" betapa mereka senang menjadi komunitas "magic village", dan deretan misi "magic village" - saya berharap bahwa apa yang saya lihat nanti memang sungguh demikian adanya. 

Akan tetapi yang ada justru tidak seindah deretan kalimat itu. Tidak ada talenta yang ditunjukkan dari para "minius". Saya tidak melihat mereka sedang diberdayakan. Saya hanya melihat tubuh mereka yang dipertontonkan.

Eksploitasi bisa  mengambil bentuk bahkan yang paling halus. Eksploitasi yang mengambil bentuk paling halus itu bisa terjadi di era modern, era yang kerap mengatakan tentang hak dan kemerdekaan.