Researcher
2 tahun lalu · 1381 view · 5 menit baca · Budaya greece.jpg

Tubuh dan Ketelanjangan

Sebuah film berjudul Europa, bercerita tentang seorang pemuda Yahudi yang hidup sebagai anak angkat di satu keluarga Jerman. Beberapa tahun, ia menyembunyikan identitasnya dalam ketakutan. Identitas itu terletak dalam alat kelaminnya yang disunat.

Di akhir cerita kita melihat kisah pembebasannya yang melegakan. Di mana pagi itu, setelah Jerman kalah, ia baru berani kencing secara terbuka di dekat orang lain. Ia bukan hanya sekadar menjadi produk dari klasifikasi atas tubuhnya. Namun penggolongan atas tubuh dan ketelanjangan bisa menjadikannya seorang pahlawan atau korban berdasarkan keadaan batang zakarnya.

Dari kisah ini, satu hal yang menjadi perkara hidup atau mati, bebas atau tak bebas, yaitu ketelanjangan, yakni sebuah penis.

Mungkin film itu terlampau heroik dalam mengisahkan tentang tubuh, mengisahkan tentang ketelanjangan. Di mana makna sebuah ketelanjangan menjadi begitu menetukan nasib kehidupan. Di sini ketelanjangan berada dalam latar perang dunia II, sehingga menjadikan tubuh terlihat heroik dan ketelanjangan menjadi kisah misteri yang mencekam. Bahkan ia menjadi penanda, lawan atau kawan.

Ia bukan hanya bermakna seksisme namun juga berwatak ideologis. Ideologi itu mewujud dari sebuah proyek pemusnahan atas tubuh, yang berujung pada kontrol atas tubuh yang telanjang dan kuasa atas kelamin. Di budaya Timur seperti kita, tubuh yang telanjang bermakna negatif dan dianggap tak patut. Bahkan ia dijustifikasi sebagai “dosa besar”, keharaman, dan anomali.

Hal ini dikarenakan, budaya Timur bermula dari ajaran-ajaran dan bersumber dari kitab-kitab agama samawi yang turun di Timur baik Yudaisme, Kristiani dan Islam. Bagi mereka, ketelanjangan berarti kekurangan sesuatu yang seharusnya tak diperlihatkan. Ia semacam keterampasan dari martabat, sesuatu yang memalukan, yang hanya cocok untuk kaum budak, pelacur, dan mereka semua yang terkutuk.

Sebaliknya, bagi mereka berpakaian itu memberikan martabat, identitas religius, sosial maupun antropologis. Berpakaian itu secara metafisik berkaitan dengan konsep "kehormatan dan kemuliaan" seperti Tuhan sendiri yang diyakini memanifestasikan diri "berpakaian kebesaran, berselubungkan cahaya" (dalam Mazmur 104, 1-2).

Bagi mereka, kenyataan jasmani tak bertentangan dengan kenyataan rohani. Realitas spiritual dilihat sebagai bagian dari realitas karnal. Transendensi terungkap dalam imanensi dan imanensi adalah ungkapan transendensi. Hal ini menyiratkan bahwa tubuh merupakan konfigurasi totalitas "kedirian". Kehilangan kontrol atas tubuh berarti kehilangan "diri". Maka menelanjangi tubuh berarti mempermalukan diri sehingga tubuh yang telanjang diartikan pula sebagai diri dekaden.

Tubuh yang telanjang dimaknai menjadi diri yang kurang, penuh kekejian dan aib yang jauh dari semangat kekudusan serta kewaspadaan spiritual tentang cinta terhadap Tuhan. Maka wajar jika dalam budaya Timur, tubuh seperti terjepit diantara gelegak hasrat kehidupan dan kepantasan sesuai dengan martabat yang perlu pengekangan.

Hal ini terlihat dalam karya seni Timur (Bizantin) misalnya, di mana tubuh cenderung selalu terbungkus berlapis-lapis pakaian dengan segala ornamentasi dekoratifnya. Tubuh yang telanjang dianggap terkait erat dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sehingga ia cenderung menganggap tubuh yang telanjang sebagai fenomena yang berbahaya, sebuah ancaman.

Maka di dalam budaya Timur, tubuh sering kali mengalami penaklukan, misalnya dengan meditasi atau puasa, demi mengutamakan kehidupan rohani. Bahkan tubuh dilihat sebagai realitas adikodrati yang mistis dan bagian dari kosmis. Sehingga ada pepatah, mati raga demi keselamatan jiwa.

Ini begitu berbeda dengan kultur Yunani dalam memandang ketelanjangan. Dalam seni rupa dan permainan atletik Yunani, tubuh yang telanjang justru penting. Patung-patung Yunani, kita tahu, justru merayakan ketelanjangan. Karena bagi mereka, tubuh yang telanjang ialah sebuah visi intelektual, sebuah visi ketajaman akal budi.

Tubuh yang telanjang adalah cermin dari semangat “theoria”, sebuah proses pengetahuan sejati, proses penyingkapan obyek, penelanjangan, tersingkapnya seluruh bagian.

Tubuh yang telanjang diartikan sebagai tubuh yang bebas dari selubung yang menipu pandangan dan mengungkung akal budi. Sehingga tubuh yang telanjang justru merupakan isyarat dari kemampuan metafisik untuk "melihat" bentuk murni dan ideal di balik pakaian ataupun segala bentuk cadar yang dianggap sebagai selubung yang menghalangi akal budi menjangkau kebenaran yang sejati.

Ia adalah metafor kekuatan akal budi memperoleh "kebenaran yang telanjang", kebenaran yang sejati. Ketelanjangan sama dengan spirit Dionysian yang membuncah, menembus dan menyingkap kebenaran hakiki dan ideal. Dan ketika fajar Renaissance menyingsing dari Barat, makna dari tubuh yang telanjang pun berubah seiring dengan perubahan gerak zaman.

Di era Renaissance, tubuh yang telanjang diartikan sebagai simbol “subyektivitas”. Ia simbol dari subyek yang baru saja bebas dari keterkungkungan rohani. Ketelanjangan dalam Renaissance merupakan representasi dari res cogitans, “aku yang berpikir” yang bebas dari belenggu kesakralan dan jerat religiusitas. Ia adalah simbol dari “subyek yang tercerahkan”, yang telah menemukan kembali jiwanya yang hilang yakni “akal budi”.

Sehingga dalam alam pikir Renaissance, tubuh yang telanjang juga sebuah penanda dari apa yang disebut proyek “emansipasi”. Ia adalah simbol dari pembebasan dari pasungan otoritas tradisi dan agama.

Tubuh yang telanjang adalah bentuk “penyangkalan” atas realitas adikodrati yang mistis. Sebuah antitesa dari tubuh yang penuh dengan selubung spritualitas dan pengekangan atas akal budi. Sehingga tubuh yang telanjang bagi mereka adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan diri.

Namun ketika deru modernitas dan industrialisasi bergemuruh ramai, janji-janji Renaissance justru jauh dari harapan. Di era industrialisasi, tubuh yang telanjang masuk ke dalam sistem produksi rasional dan logika kapitalisme. Tubuh yang telanjang semakin dialami sebagai wahana untuk kesenangan, untuk dinikmati, untuk mencekau, sekaligus untuk ditonton dan "dibeli" sebagai komoditas.

Ia layaknya komoditas, yang dipertukarkan di pasar. Semakin telanjang semakin tinggi "nilai-tukar" atau nilai komoditasnya. Tubuh yang telanjang justru ditaklukan dalam proyek “komodifikasi” bahkan hanya sekadar dimaknai sebagai nilai tukar.

Yang lebih ironi dari semua ini, ketika strategi kapitalisme berubah dari produksi komoditas ke produksi simbol dan citraan alias produksi simulakra khususnya dalam sibernet, tubuh yang telanjang yang real justru semakin "menghilang". Tubuh yang telanjang justru kini hanya menjadi “imaji simbolik” belaka dalam dunia simulasi artifisial. Ia justru terpasung ke dalam penjara citraan, didominasi oleh kode dan tanda artifisial.

Tubuh yang telanjang terpampang dalam dunia imajiner teknologi audio-visual namun kehilangan signifikansinya. Dalam video porno misalnya, tubuh yang telanjang terpampang dalam layar namun ia terperangkap dalam dunia simulakrum. Sehingga ia hanya menjadi “imaji simbolik” belaka. Kini ia menjadi hiperealitas visual.

Tubuh yang telanjang telah dilampaui dengan manipulasi oleh pencitraan visual, sehingga tubuh yang telanjang dalam video porno misalnya, seolah melangkah dari dunia fantasi menuju dunia nyata, dunia maya yang tampak nyata. Padahal ia hanya sekadar “narasi digital” semata. Tubuh yang telanjang sebagai realitas itu sendiri telah diambil alih oleh duplikasi teknologisnya, sehingga ia menjadi fantasi yang menjadi realitas pengganti realitas.

Dalam bahasa Lacan, tubuh yang telanjang ini terperangkap oleh “Yang Imajiner”. Padahal “Yang Imajiner” ini ialah sebuah realitas permukaan yang penuh tipu daya, yang diatur oleh sebuah struktur yang berada dalam tataran simbolik. Tubuh yang telanjang diubah wujudnya menjadi “Ada sebagai citra”. Ontologinya diubah menjadi ontologi citraan. Sehingga ia menjadi tawanan dari penanda, tawanan dari citra ego atau citra dari yang ideal di dalam dunia virtual.

Dan ternyata tubuh kembali terjerat, dan janji emansipasi kini tak ada, ia hanya seruan bunyi-bunyian peradaban. Lantas apa yang harus dilakukan untuk melakukan upaya pembebasan?

Artikel Terkait