“Puisi adalah ketika emosi telah menemukan pemikirannya dan pikiran tersebut telah menemukan kata-kata.” – Robert Frost

Siapa yang disini suka banget bikin story-story galau? Atau mungkin ada yang pernah diejek sebagai anak indie? Well, buat kalian yang mengalami hal-hal yang aku sebutin, kalian ngga perlu malu. Kalian itu kece abiss. Kok gitu, Za? Karena ngga semua orang bisa melampiaskan emosinya dalam tulisan. Apalagi tulisan itu diterbitkan menjadi suatu karya, puisi contohnya. 

Sebelum kita memahami tentang puisi, alangkah baiknya kita ulas sedikit tentang emosi. Apa sih emosi itu? Emosi itu ada banyak guys, bukan cuma amarah. Emosi menurut KBBI adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Kalian perlu tahu juga kalau emosi itu tidak melulu mengarah negatif.

Ada juga kok emosi positif. Menurut Nandy dalam tulisannya di Gramedia.com (2021) bahwa secara keseluruhan emosi digolongkan dalam dua golongan, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif ini seperti perasaan bahagia, gembira, senang, dan cinta.

Berbanding terbalik dengan emosi negatif, yang seperti perasaan takut, sedih, cemas, dan marah. Emosi memiliki peran yang sangat penting dalam proses berinteraksi dan pengembangan diri. Kebanyakan orang abai akan adanya emosi di dirinya maupun diri orang lain, hal ini akan mengakibatkan menurunnya kecerdasan manusia secara emosional.

Emosi negatif ini perlu adanya kontrol diri. Maka dari itu, lebih baik emosi negatif ini dilampiaskan dalam sebuah tulisan dari pada tindakan yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.

Pengertian puisi menurut Theodore adalah suatu ekspresi yang konkret dan memiliki sifat artistik yang berasal dari pemikiran manusia menggunakan bahasa emosionalnya yang berirama. Puisi sangat cocok digunakan untuk kalian yang sedang gegana (gelisah, galau, dan merana) karena patah hati setelah diputuskan pacar kalian atau ditolak crush kalian.

Seorang peraih Nobel sastra tahun 2016, Bob Dylan, pernah mengatakan, “Mendefinisikan puisi bukanlah pekerjaan yang mudah.” Mungkin bagi kalian yang takut jika tulisan kalian bukan atau tidak bisa dikatakan suatu puisi, well don’t be afraid guys. Tulisan itu menggambarkan karakter kalian.

Tentunya, hal ini sesuai dengan kutipan tentang puisi oleh Robert Frost yang aku taruh di awal artikel ini. Pemikiran kalian akan membawa segala emosi yang ada dalam diri kalian pada suatu kata. Setiap susunan kata yang ditulis itu menggambarkan emosi kalian.

Pikiran kalian secara otomatis akan memadupadankan kata yang cocok dengan karakter dan emosi yang ingin kalian ungkapkan dalam tulisan tersebut. Tulisan itu nantinya akan membentuk suatu rangkaian kata yang indah yang kita kenal sebagai puisi.

“Sejauh apa pun aku mencari yang lain. Sebesar apa pun aku mencintai yang lain. Dan sebanyak apa pun aku berpaling. Hanya kepadamu anomali jantung ini terjadi.”

Tulisan di atas adalah salah satu puisi yang aku buat spontan ketika galau di pagi hari. Well, siapa sih yang ngga pernah ngga galau? Asal kalian tau nih. Galau itu bukan melulu tentang cinta dan perasaan. Galau itu juga termasuk emosi. Lebih tepatnya, galau itu termasuk emosi negatif yang ditimbulkan akibat keraguan atas suatu tindakan.

Jadi… buat kalian yang suka galau bisa nih tuangkan emosi kalian dalam puisi. Ngga harus puisi sih, tapi puisi itu identik dengan kata-kata yang dirangkai menggunakan majas atau kata yang berkonotasi.

Kalau kalian kebingungan mengganti suatu kata menjadi kata yang indah, kalian bisa minta bantuan mbah Google. Cukup ketik aja di kolom pencarian ‘Kata lain dari’ atau ‘Sinonim dari‘ yakin deh, bakalan keluar semua persamaan kata yang bahkan kalian belum pernah dengar. 

 

Misalkan aku mau mengubah kalimat ‘air mata berjatuhan keluar’ menjadi kalimat berkonotasi (majas). Aku bisa ubah kalimat itu dengan bantuan Google menjadi ‘Terminasi dalam lakrimasi.’ Sama, tapi beda. Beda, tapi indah. Gimana? Lebih menarik, bukan?

Jadi guys, segala macam bentuk emosi kalian itu bisa diungkapkan dengan indah dan estetik lewat puisi. Namun, terkadang kita perlu waktu dan mood tertentu untuk membuat puisi. Aku juga soalnya, hiksss. Saranku untuk kalian yang ingin mencoba untuk membuat puisi jika kalian sudah mendapatkan mood atau momen yang tepat untuk menulis puisi langsung gaaasssiin guys. 

 

Ungkapkan segala emosi kalian dalam kata-kata dengan bahasa yang indah dan menarik. Untung-untung kalau tulisan kalian nanti bisa dilombakan dan dilirik penerbit. Emosi terlampiaskan, uang berdatangan. Aamiinn..

Berikut ini salah satu puisi yang aku buat..

Suara itu lagi-lagi datang menghampiri

Memberi peringatan akan kesedihan

Dia berkata, apakah pantas jika aku merasa sedih?

Apakah pantas untukku melepaskan air mata?

Namun, sungguh...

Aku tidak sanggup

Rekaman itu samar-samar terputar kembali

Musik itu kembali menunjukkan eksistensi

Menggiringku pada frustasi

Memberi pukulan pada diri

Ini salah

Aku tahu!

Aku harus menahan diri

Karena izin pun tidak membiarkannya terjadi

Tuhan tidak suka..

Namun, maaf aku hanya ingin melampiaskan

Hingga goresan merah datang menghiasi

Ini salah

Aku tahu!

Namun, maaf aku tersiksa..

Sekian dari aku Farah Izza Azzahra, mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Aku tunggu puisi-puisi kalian, bestie!! Semoga semesta memberi peluang untuk kita bersua di teritori benua biru ini ?