Warga AS kini tengah disibukkan kembali dengan pemilihan presiden tahun 2020. Mereka dijadwalkan untuk memilih pada Selasa, November 2020. Presiden terpilih nanti akan disahkan pada 20 Januari 2021 di Gedung Capitol, Washington D.C.

Momen ini akan sangat menarik untuk disimak sepanjang tahun ini. Apakah presiden terbaru akan terpilih atau Donald Trump Jr sebagai incumbent yang akan melanjutkan masa kepresidenannya.  Sejak 2017 hingga sekarang, Trump kerap membuat banyak cerita baru dalam kiprahnya sebagai Presiden AS ke-45 dan Presiden AS ke-19 dari Partai Republik.

Dari mulai kasus Cambridge Analytica ketika kampanye tahun 2016 bertiup, perang dagang dengan Tiongkok, hingga komentar pedasnya yang kerap ia lontarkan kepada media massa. Melihat banyaknya kontroversi yang ia buat selama masa kepresidenannya, banyak pihak yang kontra terhadap Trump.

Bahkan, Partai Demokrat pun mengupayakan impeachment terhadapnya pada akhir tahun 2019. Namun usaha itu tidak berhasil membuat Trump turun dari kekuasaannya setelah 52 anggota Senat AS menyatakan ‘tidak bersalah’ atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dan 53 anggota Senat menyatakan ‘tidak bersalah’ atas tuduhan obstruction of congress.

Setelah dinyatakan tidak bersalah, Trump pun tetap berlenggang bebas sebagai Presiden AS dan terus melanjutkan pemerintahannya hingga sekarang. Partai Republik mewakilkan 2 calon presidennya yaitu Donald Trump Jr dan William F. Weld.

Jika melihat pemilihan umum awal (presidential primary elections), Trump sementara ini unggul dari semua lawannya di Partai Republik dengan 833 suara dari delegasi di berbagai negara bagian. Di atas William F. Weld, dengan 1 suara delegasi, Joe Walsh dan Roque De La Fuente dengan tanpa suara. Jika posisi ini terus bertahan maka Donald Trump yang akan menjadi kandidat dari Partai Republik.

Sedangkan Joe Biden menjadi kandidat kuat calon presiden dari Partai Demokrat dengan 670 suara. Di bawah Joe Biden ada Bernie Sanders dengan 574 suara. Di bawah mereka ada Elizabeth Warren, Michael Bloomberg, Pete Buttigieg, dan Amy Klobuchar yang memiliki suara cukup banyak. Namun mereka menyatakan mundur (drop out) dari kontestasi sehingga menyisakan Tulsi Gabbard yang lanjut berkompetisi walaupun dengan 2 suara.

Joe Biden dan Bernie Sanders bukan orang asing dalam kontestasi pemilu Presiden AS. Joe Biden 2 kali kalah dalam pemilu Presiden AS juga dari Partai Demokrat pada tahun 1988 dan 2008. Namun di era Barrack Obama ia dipercaya 2 periode menjadi wakil presiden tahun 2009 hingga 2017. Bernie Sanders juga kandidat Presiden AS saat pemilu tahun 2016 sebelum akhirnya dikalahkan oleh Hillary Clinton dan Donald Trump.

Pada pemilu Presiden AS kali ini Joe Biden mendapat dukungan dari politisi Partai Demokrat lain seperti Senator California Kamala Harris yang baru-baru ini menyatakan dukungan untuk Joe Biden melalui akun twitter resminya. Selain Kamala Harris, mantan lawannya di pemilu awal Partai Demokrat, Pete Buttigieg, Michael Bloomberg, dan Senator Minnesota Amy Klobuchar juga memberikan dukungan untuk Joe Biden.

Tidak hanya Joe Biden, Bernie Sanders juga mendapat dukungan dari politisi muda yang sedang hangat dibicarakan media, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC). AOC ramai-ramai mendukung Bernie Sanders bersama kelompok progresif Justice Democrats yang juga mendukung AOC maju sebagai congresswoman tahun 2016.

Banyak pihak mengatakan seharusnya mantan kandidat Presiden AS lain dari Partai Demokrat Senator Massachusetts Elizabeth Warren mendukung Bernie Sanders. Namun, dukungan itu belum muncul dari Warren sendiri. Ia dinilai publik AS menampilkan penampilan buruk dalam perhelatan pemilu awal Partai Demokrat.

Selain Joe Biden dan Bernie Sanders, Partai Demokrat masih memiliki calon Presiden AS lain yaitu Tulsi Gabbard. Gabbard merupakan seorang anggota dewan (representative) di Kongres mewakili Negara Bagian Hawaii. Ia juga seorang veteran perang di Irak.

Tulsi Gabbard (38) dinilai berani untuk melanjutkan berkompetisi dalam pemilu Presiden AS walau dukungan sementara baginya hanya 2 suara. Ia merasa harus melanjutkan kontestasi ini demi menyuarakan aspirasi rakyat AS terutama dalam hal perang yang dilakukan AS. Walaupun ia pernah berperan dalam kemiliteran, Gabbard merasa biaya yang dikeluarkan pemerintah AS dalam peperangan terlalu besar.

“Di Afghanistan sekarang, kita menghabiskan USD 4 miliar dari pajak setiap bulan. Uang itu bisa digunakan di sini (dalam negeri),” ungkap Tulsi Gabbard kepada ABC News.

Semua kandidat dari Partai Demokrat ini beramai-ramai berupaya mengakhiri masa kepresidenan Donald Trump yang mereka nilai gagal dan tidak mencerminkan Presiden AS sebagaimana mestinya.    

Hal ini terlihat ketika debat capres Partai Demokrat (Super Tuesday) di Las Vegas. Bernie Sanders mengatakan dalam menyangkal Michael Bloomberg:

“Untuk mengalahkan Donald Trump kita membutuhkan jumlah pemilih terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.”

Pernyataan Bernie Sanders bukan hal yang salah diungkapkan mengingat dukungan bagi Trump masih sangat besar di AS. Di antara dukungan 833 suara sementara, ada dukungan yang sangat besar dari politisi Partai Republik AS seperti Wakil Presiden Mike Pence, Menteri Perumahan dan Pengembangan Kota AS Ben Carson, Senator Florida Marco Rubio, dan Senator Texas Ted Cruz yang juga pernah menjadi lawannya di pemilu tahun 2016.

Melihat dukungan besar bagi Trump, sepertinya William F. Weld perlu keajaiban untuk menang pemilu tahun ini. Selama masa pemerintahannya, Donald Trump menorehkan banyak kontroversi yang direkam media.

Belakangan ini CNN melaporkan Trump telah melakukan sebanyak 115 klaim palsu (false claims)  selama 2 minggu terakhir Bulan Februari 2020. CNN menilai Trump telah melakukan 67 false claims sejak 17 Februari-23 Februari Lalu ia menambahkan 48 false claims sejak 24 Februari-1 Maret. 55 false claims di antaranya selama 4 kampanye (rallies): 19 di Las Vegas, 17 di Phoenix, 10 di Colorado Springs, dan 9 di North Charleston, South Carolina.

Ia menambahkan 13 false claims selama pidatonya dalam CPAC ( Conservative Political Action Conference), 9 dalam konferensi pers di New Delhi dan masing-masing 6 dari 3 acara yang salah satunya konferensi pers mengenai virus Corona.

Dalam hitungan CNN, Trump telah melakukan total 1.990 false claims sejak 8 Juli 2018 dengan rata-rata 59 false claims per minggu. Masih banyak lagi kontroversi yang Trump buat termasuk Trump-Ukraine Scandal dan skandal Cambridge Analytica dalam pemenangan Trump di pemilu 2016. Tembok AS-Meksiko juga terlihat menjulang di beberapa tempat di selatan AS.

Di balik kontroversinya, Trump mampu menorehkan prestasi di bidang ekonomi dengan kebijakan 2017 tax cut. Dengan kebijakan ini, Trump berhasil mencatatkan rekor tertinggi peningkatan harga saham. Ia pun berprestasi menurunkan angkan unemployment rate hingga 3.6 % yang merupakan angka terendah selama 50 tahun terakhir dengan tambahan 128 ribu lowongan pekerjaan pada Oktober 2019.

Selain itu, juga pada Oktober 2019, militer AS melakukan serangan terhadap rombongan Abu Bakar Al-Baghdadi di Idlib, perbatasan antara Suriah dan Turki. Ketika serangan dilakukan, Al-Baghdadi membunuh dirinya sendiri dengan bom yang terdapat di rompinya. Selain membunuh dirinya sendiri, bom rompi itu juga ikut membunuh 2 anak yang ikut dalam rombongan bersamanya.

Kini pilihan ada di tangan rakyat AS. Apakah rakyat AS membutuhkan presiden baru yang memiliki kapabilitas berbeda selain Trump. Apakah Joe Biden yang pernah menjadi wakil Barrack Obama, apakah Bernie Sanders yang merupakan sosialis, apakah Tulsi Gabbard yang seorang veteran muda atau Will F. Weld lawan Trump di Partai Republik. Namun, jangan heran jika Trump tetap mengisi Gedung Putih.