Peneliti
1 tahun lalu · 147 view · 3 menit baca · Politik 14293.jpg
https://pixabay.com/p-1750965/?no_redirect

Trump Masih Didera Islamofobia

Sudah bukan berita luar biasa lagi kala Presiden Donald Trump tak lagi mengadakan acara buka puasa di Gedung Putih. Sebagaimana sejak kampanye pencalonan presiden lalu, Trump sudah mendeklarasikan diri sebagai anti-Islam.

Saat menjabat pun, Trump tetap dengan pendiriannya dengan menerapkan “travel ban” untuk warga yang berpaspor tujuh negara muslim (Suriah, Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman) yang ingin memasuki Amerika.

Larangan ini adalah bentuk rasis dengan wajah baru yang mengisolir kelompok muslim. Jelas kebijakan ini amat berbahaya bukan hanya terkait hubungan antar negara, namun komunitas muslim di belahan dunia akan menyaksikan betapa watak arogansi Trump betul-betul ditunjukkan dan mencederai upaya dunia untuk mencapai perdamaian.  

Trump juga tak pernah menyesali keputusannya yang menuai kontroversial saat melancarkan rudal Tomahawk ke pangkalan militer Suriah yang menewaskan puluhan orang pada 22 Maret lalu. Sebuah tindakan aggressor yang menginjak dengan hukum internasional.    

Jangan lupa, pada pertemuan negara-negara Islam plus Amerika pada 22 Mei lalu, Arab bersama AS menyempatkan diri untuk menyerang Iran melalui opini yang menuduhnya sebagai pelopor kelompok teroris ISIS. (detik.com, 22/5/2017)

Padahal, dunia pun tahu hanya Iran yang secara konsisten membela dan mendukung perjuangan rakyat Palestina yang dijajah Israel. Iran pun berhasil melewati masa panjang puluhan tahun embargo politik dan ekonomi, namun berhasil muncul sebagai negara maju, baik di bidang ekonomi dan juga teknologi militer mutakhir.

Hapus Tradisi yang Telah Berlangsung Dua Dekade  

Saat Obama menjabat presiden, Amerika dianggap sudah mulai melakukan perbaikan hubungan dengan negara-negara Islam, setidaknya apa yang Obama lakukan saat memberi jamuan buka puasa dan merayakan idul fitri di Gedung Putih adalah wujud pengakuannya terhadap keberadaan Islam.    

Sebelumnya, selama dua dekade tarakhir, sejak Bill Clinton menjabat presiden, Gedung Putih rutin menyelenggarakan buka puasa bersama para anggota parlemen dan pejabat lainnya yang berasal dari kalangan muslim. Tradisi ini semacam pembelaan tak sepadan terhadap stereotipe Amerika terhadap kelompok atau negara-negara Islam.

Jamuan Idul Fitri di Gedung Putih pertama kali diadakan Presiden Thomas Jefferson pada 1805 untuk menghormati perwakilan dari Tunisia, yang kembali dihidupkan oleh Hillary Clinton pada 1996 saat menjadi Ibu Negara (kompas.com, 26/06/2017).

Namun, Imam Masjid Washington DC Thalib Shareef, menyatakan buka puasa bersama memberi sinyal kepada komunitas Muslim di Amerika Serikat, yang jumlahnya mencapai 3,3 juta orang. "Ini penting dalam arti sekarang karena kita akan melihat dia merangkul Amerika," kata Shareef. "Jika selama ini hanya merangkul sebagian maka sekarang, sebagai presiden, dia seharusnya merangkul seluruh Amerika." (republika.com, 25/06/2017)

Ketika diminta untuk memberikan komentar oleh Newsweek pada Jumat, Gedung Putih mengkonfirmasi dalam melalui surat elektronik bahwa mereka tidak akan menyelenggarakan buka puasa bersama dan merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya, yang dikeluarkan pada awal bulan Ramadan.

Beda dengan Obama yang Toleran

Di sisi lain, Obama, presiden ke-44 AS yang meski telah menyelesaikan tugasnya, citranya sebagai pemimpin yang anti-diskriminasi masih melekat. Hal ini setidaknya terlihat dari kunjungannya ke Indonesia. Obama didaulat berpidato pada pertemuan Kongres Diaspora Indonesia ke-4 Sabtu 1 Juli 2017.

Obama menyebut Indonesia sebagai negara yang dihuni mayoritas Islam namun hidup dengan semangat toleransi. “Saya melihat Borobudur peninggalan Budha, Prambanan peninggalan Hindu, juga wayang kulit, tetap ada di negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam. Semangat ini adalah toleransi” kata Obama. (kompas.com, 01/07/2017)

Trump Tak Paham atau Tak Peduli Islam

Saat pertemuan dengan negara-negara Teluk Arab, bersama Arab Saudi, Trump atas nama Amerika menyampaikan pernyataan kerasnya dengan mengarahkan tuduhan kepada Iran sebagai negara penyokong teroris.

Pernyataan tuduhan terhadap Iran sebagai dalang teroris ini jelas berimplikasi terhadap konstalasi politik dunia, terutama untuk kawasan Timur Tengah. Tak lama berselang, Qatar diblokir sejumlah negara yang dikomandoi Arab Saudi, hanya menyisakan Iran yang sekaligus menjadi negara penyuplai kebutuhan makanan yang dikirim melalui jalur laut. Tanpa menafikkan Turki yang berani menentang koalisi Arab.

Perilaku menggelikan Trump sesungguhnya menunjukkan situasi gamang Amerika dalam peta politik dunia. Trump secara vulgar mempertontonkan sikap dan kebijakannya yang anti-Islam.

"Atas nama rakyat Amerika, Melania dan saya mengirimkan ucapan hangat kepada umat Muslim yang tengah merayakan Idul Fitri," kata Trump. (kompas.com, 26/06/2017) Meski Trump tetap menyampaikan ucapan selamat kepada umat Islam, tapi tak mampu menghapus label anti-islam

Rasanya, ucapan tersebut jadi tak berarti jika di saat yang sama, Trump masih kukuh dengan pendiriannya untuk menerapkan kebijakan Travel Ban untuk kelompok muslim.

Trump mungkin belum memahami Islam, hingga ia belum mampu menerima, dan bahkan tak peduli dengan Islam. Tapi, sebagai pemimpin negara adidaya, dengan sejumlah negara sekutu pengikutnya, segala kebijakannya memiliki implikasi yang akan mempengaruhi peradaban dunia.

Tampaknya, perdamaian dunia masih jauh. Jika tak mampu melepaskan diri dari Islamophobia, Trump tidak hanya menunjukkan sikap rasisnya, ia juga turut andil dalam menguatnya perang rasis di berbagai penjuru dunia.

Artikel Terkait