trump_0.jpg
Donald Trump
Agama · 3 menit baca

Trump dan Islamophobia

Islamofobia adalah fenomena masyarakat yang memiliki rasa takut atau antipasti terhadap agama Islam. Dikutip dari Wikipedia inggris, Islamofobia (Islamophobia) berarti istilah yang menunjukan prasangka, kebencian, atau ketakutan terhadap muslim, Islam atau terhadap budaya dan politiknya. Di Amerika, fenomena ini meningkat setelah terjadinya kasus 11 September 2011, di mana kelompok Islam garis keras menghantam dua gedung WTC.

Sosok Trump adalah bukti bahwa Islamofobia memang nyata. Hal ini dia tunjukan selama masa kampanyenya. Akibatnya, islamophobia di warga AS meningkat selama beberapa bulan terakhir.

Islamofobia bisa menyebabkan orang-orang non-muslim bertindak kekerasan terhadap muslim. Baru beberapa hari saja Donald Trump memenangi pemilihan presiden, terjadi kasus serangan yang menyebabkan muslim menjadi korban. Di San Diego State University, seorang Muslim dirampok dan mobilnya ikut dibawa lari oleh dua laki-laki yang membuat komentar tentang presiden terpilih Donald Trump dan komunitas Muslim.

Di New York University, mahasiswa Muslim menemukan bahwa pintu masuk ke mushalla telah dirusak dengan kata "Trump!".

Warga Amerika memang berhak takut, Karena sekelompok Islam garis keras menyerang mereka. Yang bahaya adalah jika terjadi kasus penyerangan terhadap muslim Amerika ini. Padahal, agama Islam seharusnya menjadi rahmat bagi semesta alam. Agama yang membuat nyaman bagi semua orang. Tapi sebagai orang Indonesia, saya sulit menjelaskan hal ini kepada teman-teman nonmuslim saya.

Karena di Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar masih belum menunjukan bahwa agama Islam adalah agama yang damai. Karena ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas masih banyak ditemukan.

Saya tidak akan terlupa pada kata-kata KH. Tengku Zulkarnain di sebuah acara tv:

“Kalau menurut hukum Islam, Ahok ini hukumnya dibunuh. Minimal dia diusir dari Indonesia. Sebagaimana dalam surat Al Maidah ayat 33 dan 34, hukumnya itu dicambuk, dibunuh, disalib, atau dipotong kaki dan tangannya bersilangan, atau dia diusir dari negeri ini.”

Saya sendiri yang muslim merasa takut mendengar hal ini, apalagi teman-teman saya yang nonmuslim. Ujaran kebencian yang diarahkan kepada aliran minoritas ini seakan membenarkan apa yang dilakukan Trump pada kampanyenya, bahwa para muslim memang pantas diusir dari Amerika. Nauzubillah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk melawan islamofobia di Amerika atau Indonesia ini? Tentu saja berdoa,berdoa, berdoa, berdoa, dan berusaha mengkampanyekan Islam yang damai dan toleran.

Karena sesungguhnya Islam damai dan toleranlah yang ditunjukan Rasulullah SAW. Lihat kisah Umar Bin Khatab ra. Dulunya seorang yang anti-Islam. Tapi apakah Beliau SAW membunuhnya, mengusirnya atau malah mendoakannya? Siapa tau jika Ahok didoakan, daripada didemo, ia akan mendapat hidayah dan masuk Islam.

Sebarkan Islam ala Rasulullah SAW

Di Amerika, kelompok yang getol menyebarkan ajaran Islam ala Rasulullah SAW adalah Jemaat Islam Ahmadiyah Amerika. Mereka terus berusaha meyakinkan warga Amerika dengan kampanye Islam damai dan toleran yang berjudul “True Islam” atau Islam Sejati. Nilai-nilai yang mereka sebarkan antara lain:

  1. Islam Sejati menolak segala bentuk terorisme.
  2. Islam Sejati berjihad tanpa kekerasan dan berjihad dengan pena.
  3. Islam Sejati percaya akan keseteraan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.
  4. Islam Sejati memperjuangkan kebebasan berkumpul, beragama, dan berpendapat.
  5. Islam Sejati memperjuangkan pemisahan antara masjid dan negara
  6. Islam Sejati mengajarkan loyalitas kita kepada tanah air.

Pun setelah Trump resmi menang, Pimpinan Jemaat Muslim Ahmadiyah seluruh dunia, Khalifah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad meyakinkan kepada kita semua bahwa Trump tidak akan melarang umat Muslim memasuki Amerika. Saat berkunjung ke Mesjid Baitun Nur Mosque di Calgary, Canada, beliau menyampaikan:

“Tidak mungkin dia (Trump) akan mengimplementasikan apa yang dia kampanyekan. Tidak akan ada orang normal yang sanggup melakukan hal itu(melarang umat Muslim).”

Di Indonesia sendiri, Jemaat Ahmadiyah Indonesia(JAI) juga menyebarkannya dengan cara bekerja sama dengan kelompok-kelompok lintas agama seperti Gusdurian, ANBTI, dll. JAI mengajak mereka untuk memperingati Hari Pahlawan di Car Free Day, Jakarta, Minggu besok (13/11).

Pembaca boleh tidak setuju dengan kepercayaan Jemaat Islam Ahmadiyah. Tetapi, jika ingin memerangi islamofobia maka kampanye Islam yang damai dan toleran ala Jemaat Ahmadiyah wajib kita contoh dan terapkan di Indonesia.