trumponomics.jpg
drrichswier.com
Ekonomi · 4 menit baca

Trump dan Ekonomi Indonesia

Kemenangan Donald John Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) membawa kegemparan tidak hanya di AS namun di segala penjuru dunia termasuk Indonesia. Negara-negara mulai menerka apa efek yang akan ditimbulkan Trump untuk mereka.

Bagi Indonesia, janji Trump yang akan melarang orang yang beragama Islam untuk masuk ke AS sampai waktu yang belum ditentukan sudah membuat heboh, mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbanyak.

Selain itu, Indonesia juga mulai berhitung bagaimana Trump akan memberikan efek terhadap perekonomian Indonesia dalam bingkai hubungan bilateral ekonomi antara Indonesia dan AS.

Berbagai data menunjukkan AS dan Indonesia adalah mitra ekonomi strategis. Pada tahun 2015, volume perdagangan bilateral AS dan Indonesia mencapai USD 27 triliun. Pada tahun 2015, untuk produk hasil industri, bahkan AS adalah negara tujuan ekspor utama Indonesia. Di sisi lain, AS adalah negara pengimpor keenam terbesar di Indonesia (Kementrian Perindustrian, 2016).

Berdasarkan data yang tersedia, tahun 2013, ekspor utama Indonesia ke AS secara berturut-turut adalah komoditas tekstil berupa apparel hasil rajutan (USD 2,7 triliun), karet (USD 2,3 triliun), apparel hasil anyaman (USD 2,3 triliun), mesin bertenaga listrik (USD 1,6 triliun) dan alas kaki (USD 1,2 triliun). Sedangkan AS mengekspor pesawat terbang (USD 2,1 triliun), gandum dan kedelai (USD 1 triliun), mesin-mesin (USD 994 triliun), limbah makanan (USD 482 triliun) dan mesin bertenaga listrik (USD 354 triliun).

Indonesia juga merupakan salah satu tujuan investasi perusahaan-perusahaan AS terutama yang bergerak di sektor pertambangan di mana data tahun 2012 menunjukkan total investasi AS di Indonesia sebesar USD 136 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia dan AS juga menunjukkan surplus di sisi Indonesia untuk perdagangan barang (pada tahun 2013, surplus mencapai USD 9,8 triliun) sedangkan AS memiliki surplus untuk perdagangan jasa (mencapai USD 1,6 triliun berdasarkan data tahun 2012) (USTR, 2016).

Indonesia dan AS juga tercatat sama-sama bergabung dalam berbagai perjanjian ekonomi di tingkat regional seperti Asia-Pacific Economic Cooperation, G-20, International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia dan World Trade Organization (WTO).

Perlu juga digarisbawahi bahwa Indonesia dan AS telah menyatakan ketertarikan yang tinggi untuk bergabung dalam Trans-Pacific Partnership (TPP) yang berpotensi menjadi mekanisme perdagangan internasional terbesar di mana tidak kurang dari 85% total Produk Domestik Bruto dunia akan terlibat di dalamnya.

TPP sendiri belum berlaku (entry into force) baik bagi Indonesia dan AS. AS sendiri adalah salah satu pihak penandatanganan dan aktif melakukan negosiasi sedangkan Indonesia, lewat pernyataan Presiden Joko Widodo, telah menyatakan ketertarikannya untuk bergabung dalam TPP.

Ada beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian Indonesia dengan menangnya Trump sebagai Presiden AS. Dalam berbagai kesempatan, Trump menyatakan bahwa dia adalah seorang yang pesimis terhadap globalisasi.

Trump berkali-kali menegaskan bahwa dia akan menempatkan kepentingan ekonomi AS sebagai yang utama ketimbang mendorong keikutsertaan AS dalam berbagai mekanisme perdagangan bebas di tingkat internasional.

Lewat jargon America First (Amerika adalah yang utama), Trump menyatakan dia akan mendorong kebijakan yang memudahkan pengusaha-pengusaha AS dalam menghadapi serbuan barang-barang impor terutama dari Cina.

Trump menyatakan akan mendorong kebijakan proteksionis terhadap pengusaha-pengusaha lokal seiring dengan kebijakan pemotongan pajak besar-besaran. Trump juga menyatakan tidak akan ragu untuk melakukan perang dagang (trade war) dengan Cina dan menyatakan akan menarik AS dari negosiasi TPP di hari pertama dia berkantor di Gedung Putih.

Sikap ekonomi Trump ini berpeluang memberikan dampak-dampak yang negatif bagi Indonesia. Pertama, kebijakan proteksionis Trump berpeluang untuk membuatnya memberikan bantuan seperti subsidi kepada pengusaha AS atau menerapkan tarif bagi barang impor yang masuk ke AS.

Hal mana berarti ketika produk Indonesia masuk ke AS, produk Indonesia tersebut harus berhadapan dengan produk AS yang telah mendapatkan bantuan pemerintah atau bahkan produk Indonesia baru dapat diedarkan di pasar AS ketika sebelumnya telah dibebani komponen tarif. Kebijakan proteksionis ini berpeluang menurunkan surplus perdagangan barang yang selama ini diterima Indonesia terhadap AS.

Kedua, kebijakan pemotongan pajak besar-besaran yang direncanakan Trump juga perlu mendapat perhatian. Pemotongan pajak berarti adalah insentif bagi pelaku usaha di AS untuk lebih melakukan ekspansi terhadap bisnisnya.

Pemotongan pajak juga dapat berarti salah satu langkah Trump untuk “mengundang” kembali pengusaha-pengusaha AS yang selama ini memarkir dananya di negara lain untuk lebih memilih berbisnis di dalam negeri. Hal ini dapat berarti adanya potensi modal yang pergi (capital flight) dari negara-negara tujuan investasi AS termasuk Indonesia.

Ketiga, hampir pastinya AS keluar dari TPP juga harus menjadi salah satu pertimbangan Indonesia apakah akan tetap ikut TPP atau tidak. Sebagaimana telah disebutkan, data menunjukkan AS adalah salah satu pasar paling potensial bagi Indonesia dan adanya TPP justru akan lebih meningkatkan volume dan surplus perdagangan Indonesia ke AS. Hilangnya AS dari TPP berarti akan menghilangkan pasar yang sangat potensial bagi Indonesia.

Keempat, Trump menjanjikan adanya perang dagang antara AS dan Cina. Trump berjanji bahwa salah satu kebijakan ekonomi utamanya adalah “menghukum” Cina dengan mengenakan tarif tidak kurang dari 45% bagi barang Cina yang masuk ke AS. Kebijakan ini diprediksi tidak hanya akan memberikan dampak bagi AS dan Cina semata namun juga pada perekonomian global mengingat keduanya adalah penguasa perekonomian dunia.

Salah satu tujuan Presiden Obama gencar mendorong realisasi TPP adalah agar mitra dagangnya di Asia Pasifik dapat memiliki alternatif lain selain fokus menjalin hubungan dagang dengan Cina. Keluarnya AS dari TPP dan trade war yang dilancarkan Trump dapat berarti makin dominannya Cina di Asia Pasifik karena pengusaha Cina akan mengalihkan fokus ekspornya dari AS ke negara-negara lain terutama Asia termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia hal tersebut berarti potensi makin tergantungnya perdagangan Indonesia ke Cina dan membanjirnya produk Cina di Indonesia. Cina sendiri adalah negara pengimpor utama untuk hasil industri ke Indonesia.

Cina tentunya akan makin gencar mendorong keberlakukan mekanisme perdagangan yang melibatkan pasar-pasar potensial baginya seperti ACFTA (ASEAN – China Free Trade Agreement). Berbagai analisis menyatakan Cina mengeruk keuntungan yang jauh lebih besar dalam hubungan bilateral perdagangan dengan Indonesia.

Kemenangan Trump adalah salah satu pemicu bagi Indonesia untuk lebih membenahi ekonominya apabila rencana-rencana kebijakannya benar terealisasi. Walaupun analisis memberikan gambaran “menyeramkan” tentang dampak kebijakan ekonomi Trump, sampai sejauh ini Indonesia cukup melakukan business as usual dalam pembangunan ekonominya sembari memastikan fokus pembangunan, seperti berbagai infrastruktur, tidak mangkrak dan bahkan selesai lebih cepat.

Kita juga perlu mengingat ujaran Obama setelah Trump menang: "Pada akhirnya tekanan ekonomi baik di dalam negeri maupun global akan membuat Trump lebih realistis dan pragmatis dalam menyusun kebijakan."