Judul ulasan ini meminjam, atau berutang, atau, bisa juga disebut merevarasi judul novel Aan Mansyur, Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Menurut saya, judul di atas mecing dengan realitas sebuah truk produksi Toyota yang diproduksi di tahun 1960.

Di Jawa, nama jalanannya adalah Truk Buaya. Sebutan itu mengingatkan pada adiknya, Kijang generasi pertama, produksi tahun 1975 yang disebut juga Kijang Buaya. Penamaan itu merujuk pada bagian depan, kap penutup mesinnya jika dibuka maka menyerupai mulut buaya lagi mangap. Kira-kira begitulah sosiolinguistiknya.

Di jazirah Sulawesi Selatan, truk ini dinamai oto raksasa, bahasa Bugis, harfiahnya berarti mobil besar. Saat ini, jika ke Sulawesi Selatan, menjumpai truk ini di jalan sudah menjadi pemandangan langkah. Truk ini terbilang legendaris dan perlahan menuju akhir sejarah.

Di kabupaten saya, Pangkajene dan Kepulauan, karena kepanjangan, disingkat saja: Pangkep. Dan, di Sulawesi Selatan memang akrab disebut demikian. Lokus lebih spesifik lagi, tepatnya di Kelurahan Kassi, Kecamatan Minasatene dan Kelurahan Tonasa, Kecamatan Balocci. Di daerah inilah truk langka ini bisa dijumpai.

Keberadaan truk ini membantu aktivitas pengepul batu fondasi di dua kelurahan itu. Jadi, gugusan gunung karst yang memang banyak di daerah ini menjadi ruang ekonomi para pengepul. Saya tidak bisa menyebutnya penambang karena metode kerja mereka sangat sederhana.

Gugusan gunung karst, kira-kira yang bisa dijadikan batu fondasi, dilakukan dengan cara sangat tradisional. Para pekerja menggunakan palu. Bongkahan karst itu dipukul hingga menghasilkan pecahan batu yang bisa diangkat dan cocok untuk dijadikan batu fondasi. 

Tujuannya supaya mudah retak, bongkahan batu karst itu dipanasi dengan membuat perapian. Selain itu, ada juga dengan cara menggali tanah dan mengumpulkan kepingan batu karst.

Relasi pengepul dengan pengangkut, yakni para supir truk oto raksasa begitu dekat, malah masih bagian dari keluarga dekat. Saya mengenal baik di antaranya yang tak lain teman masa SMP saya.

Sewaktu SMP, lokasi sekolah saya sangat dekat dengan aktivitas para pengepul. Malah, bisa dibilang masih satu lokasi dan hanya dibatasi pagar. Saban hari, di waktu keluar main, bermain di kaki gunung karst menjadi salah satu pilihan. Jika malas mengikuti satu mata pelajaran atau bolos, bersembunyi di ceruk bebatuan, semacam goa pendek juga mengasyikan.

Sependek ingatan saya dan meminjam ingatan generasi sebelum saya, sejauh ini dan sejak dahulu kala, berdasar pengakuan sejarah generasi terdahulu yang sempat saya wawancarai. Truk inilah satu-satunya kendaraan yang dipakai mengangkut batu fondasi.

Saya berani bertaruh, sebelum batu kali menjadi alternatif dijadikan batu fondasi bangunan, truk ini berandil bagi pembangunan di kota. Hingga kini, meski tidak sesering dahulu, truk ini masih diandalkan membawa batu ke Makassar memenuhi orderan.

Hadri, teman masa SMP yang kini mengampuh hidupnya sebagai supir truk oto raksasa bisa bercerita banyak tiap kali ada kesempatan berjumpa. Dalam proyek pembangunan rel kereta api di Sulawesi Selatan, truknya hilir mudik dari Pangkep ke Barru, kabupaten di mana proyek pembangun jalur kereta dimulai.

Hasil dengar-dengar pendapat, truk dengan nama lahir dari pabrikan Totoya ini dilabeli FA 100 Truck, DA115C Truck. Model yang banyak beredar di kampung adalah model DA yang menggunakan solar. Model FA 100 yang memakai bensin terbilang jarang digunakan.

Kehadiran truk keluaran Nissan, Hino, Mitsubishi, termasuk truk keluaran Mercedes Benz tak banyak dilirik. Bagi para supir truk oto raksasa, truk itu elitis. Bentuknya yang tinggi menyusahkan ketika ingin menaikkan bongkahan batu fondasi.

Dalam jaringan rantai produksi, semuanya dikerjakan manual. Seperti yang sudah diterangkan di awal, pengepul hanya bermodal palu dan korek api, selanjutnya pecahan batu yang sudah siap dipindahkan ke bak truk dengan mengangkatnya satu-satu, begitu pula saat diturunkan. Itulah mengapa semua tubuh orang-orang yang bekerja dalam siklus ini serupa otot lengan Ade Rai.

Mengingat onderdilnya tidak diproduksi lagi, dunia truk oto raksasa ini mengulang nujum hukum alam Thomas Hobbes, siapa kuat maka dia bertahan. 

Dalam semesta dunianya yang makin terbatas, antar-truk saling memakan. Jika ada truk sudah tidak bisa bergerak, maka dirinya menjadi makanan bagi truk yang lain. Secara berangsur, organ tubuhnya hilang satu per satu. Entah itu dipindahkan ke truk lain atau dijual.

Ini kisah yang tragis dari akhir masa bakti si raksasa di bumi. Berengseknya, cuma itu pilhannya.