Dalam kalendarium Gereja Katolik, hari Minggu pertama setelah Hari Raya Pentekosta adalah Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Perayaan ini sangat penting bagi orang beragama Katolik, karena merupakan ajaran Iman Kristiani yang penuh misteri tetapi bersangkut paut dengan tema keselamatan.

Mengapa tentang keselamatan? Tulisan ini tidak akan bermaksud menjawab secara ontologis tentang Allah Tritunggal, sebab, bagaimanapun, Allah Tritunggal tetaplah misteri (misteri paling agung) dalam iman Kristiani. Tulisan ini hendak menjelaskan bahwa Trinitas itu soteriologi.

Perayaan Allah Tritunggal Mahakudus bermula dari kesadaran bahwa Allah senantiasa menyertai perjalanan hidup manusia.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, orang Israel menyadari bahwa Allah itu hadir secara konkrit. Orang Israel menyadari Allah sebagai yang mencipta, yang terlibat, yang mau mendengarkan keluhan, peduli, memihak, membebaskan mereka dari perbudakan, yang selalu menyartai dalam kesulitan-kesulitan hidup, pembela bagi mereka yang lemah, miskin dan tertindas. Terlihat bahwa sejarah orang Israel adalah sejarah Allah yang menyertai dan menuntun hidup mereka.

Pengalaman akan Allah lalu bergeser ke Kitab Suci Perjanjian Baru. Tokoh sentralnya adalah Yesus Kristus. Pengalaman Yesus adalah pengalaman hidup bersama Allah, sehingga Yesus tidak sungkan untuk menyapa Allah sebagai Abba, yang Ia sapa secara akrab, tanpa banyak formalitas, sangat sederhana, spontan dan bebas serta penuh kepercayaan. 

Pengalaman ini semakin mendalam ketika Yesus mengatakan bahwa “Bapa ada dalam Dia, dan Dia sendiri ada dalam Bapa.” Hal ini mengungkapkan kesatuan pribadi antara Bapa dan Anak; dua pribadi yang tidak dapat dilepaspisahkan begitu saja, tapi tidak dapat disaturagakan begitu saja.

Di saat bersamaan, Yesus melihat diriNya sebagai penghubung antara Allah dengan manusia. Benar bahwa hanya Allah saja yang dapat menyelamatkan, tetapi Bapa hanya bisa menyelamatkan dengan menjadi manusia, dan manusia itu berasal dari Allah sendiri. Manusia itu yang kita sebut Yesus Kristus Tuhan Kita. Dari Dialah Kerajaan Allah itu hadir di tengah-tengah kita, dan dari diriNyalah kita bisa melihat Allah yang menyelamatkan, karena “Bapa ada dalam Dia, dan Dia dalam Bapa.”

Sekarang, pengalaman akan Roh Kudus. Roh Kudus ini yang agak rumit untuk dibicarakan. Hal ini disebabkan oleh karena kurangnya pembahasan pneumatologis. Saat ini, kurang sekali buku-buku yang bicara tentang Roh Kudus. Akan tetapi, kita mesti tahu bahwa Roh Kudus itulah yang senantiasa hadir bersama kita, kemanapun kita melangkahkan kaki. Hingga saat ini, bukti Gereja tetap eksis adalah buah karya dari Roh Kudus.

Dalam kesaksian Kitab Suci Perjanjian lama, manusia sebagai ciptaan dapat hidup karena Allah menghembuskan Roh ke dalam tubuh kita (tetapi nantinya Allah menarik lagi Roh itu kembali, maka kita akan mati). Roh yang Allah hembuskan kepada ciptaan menunjukkan bahwa pekerjaan Roh Kudus bukanlah pekerjaan temporal. 

Benar bahwa beberapa waktu sebelum kematian-Nya di salib, Yesus menjanjikan Roh Kudus. Tetapi itu bukanlah gambaran mengenai pembagian kerja antara Yesus dengan Roh Kudus. Roh adalah hadiah keselamatan, Roh diberikan kepada manusia berkat pengorbanan Putra dan berdasarkan iman kepada Putra. Akan tetapi karunia ini bukan suatu barang, melainkan kehadiran personal dari Allah.

Sekarang jelaslah bahwa Allah yang diimani orang Kristen (khusunya Katolik) adalah Allah Tritunggal. Pengalaman-pengalaman yang tertuang dalam Kitab Suci menujukkan hal itu. Pengalaman-pengalaman akan Allah itu adalah pengalaman konkrit umat Allah. Umat mengalami Allah yang sama, tetapi dengan peran berbeda: mencipta, menyelamatkan, menyertai. Tapi itu adalah Allah yang tidak tercampur sekaligus tidak terpisahkan. Ketiganya yang adalah satu selalu ada bersama.

Relasi ketiganya dapat terumuskan begini: Bapa mengutus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia adalah Allah bersama manusia; Roh Kudus yang diutus Bapa dan Kristus yang bangkit adalah Allah di dalam kita. Dalam hakikat Allah yang satu terdapat tiga pribadi, tetapi adanya tiga pribadi itu tidak berarti bahwa ada lebih dari satu Allah. Namun, satu hal yang pasti dari Allah Tritunggal adalah Allah mengerjakan keselamatan agar keselamatan itu terjadi pada diri setiap manusia.

Allah Tritunggal adalah Allah yang mengerjakan keselamatan. Keselamatan itu terjadi kalau seseorang percaya sepenuhnya pada Allah Tritunggal. Dalam katekese tentang sakramen Babtis, diajarkan bahwa pembaptisan memampukan seseorang untuk masuk dan dipersekutukan menjadi anggota Gereja. 

Orang katolik meyakini bahwa dengan pembaptisan itu, seseorang tidak sekadar dipersatukan menjadi anggota Gereja, tetapi juga dipersatukan dengan Allah Tritunggal. Orang-orang Katolik, melalui pembabtisan, sudah dipersatukan dengan Allah Tritunggal. Dalam arti tertentu, orang Katolik hidup dengan keselamatan itu sendiri.

Orang Katolik mengimani Allah Tritunggal itu. Allah Tritunggal ini merupakan inti iman kepercayaan orang Kristen, khususnya kita orang Katolik. Dapat dikatakan bahwa orang Katolik menyembah Allah Tritunggal, bukan tiga Allah. Dari Allah Tritunggal-lah orang Katolik mengalami keselamatan secara penuh. Berdasarkan isi Kitab Wahyu, orang Katolik sudah menyembah Allah yang benar. Allah Tritunggal adalah Allah yang mengerjakan keselamatan kepada umat-Nya.

Allah Tritunggal selalu hadir dalam keseharian kita. Di tengah pandemic covid-19 ini, kita yakin bahwa keselamatan yang dari Allah Tritunggal sedang bekerja atas kita. Walaupun kita tidak tahu kapan hal-hal yang normal dapat berlangsung, tetapi sebagai orang Katolik, penulis yakin kalau Allah Tritunggal senantiasa hadir dalam segala aktivitas kita. Allah Tritunggal tidak akan meninggalkan kita. Apapun masalahnya!