The Spirit of truth guides Jesus’ followers by conducting them farther and farther, beyond their present capacities, into the fullness of the Father’s life, which is given away to Jesus and through Jesus to the world, all by the power of this same Spirit.

In all this lies the origin of both Christian faith in God as Trinity and of Christian spirituality as a participation in that trinitarian life.

Demikianlah ucapan Arthur McIntosh dalam The Blackwell Companion to Christian Spirituality (2005) yang disunting oleh Arthur Holder. Maktuban kata-kata pemegang gelar Sejarah dan Teologi dari Yale, Oxford, serta UChicago itu mampu merangkum dengan ringkas pola hubungan antara ketiga oknum ketuhanan dalam Kekristenan.

Trinitas, begitu nama resminya, adalah poin paling sentral, paling substantif, bahkan merupakan ciri khas dogmatika yang membedakan agama Kristen dengan yang lainnya.

Atas dasar ini, jelas, frasa “Trinitas Islami” terdengar sangat sinkretis. Lebih dari itu, mengingat respon Quran yang sangat keras terhadap ajaran Kristen, hal tersebut dapat pula dianggap sebagai sebuah oksimoron. Namun, apa yang akan dibahas di sini sejatinya adalah masalah makrifat. Ya, makrifat, makrifat dari seseorang yang telah mencapainya dan membagi-bagikannya ke hadapan khalayak.

Siapakah tokoh khawas yang dimaksud di atas? Beliau tidak lain adalah Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada hakikatnya bukanlah sosok sinkretis. Beliau, sebaliknya, merupakan pribadi muslim yang teguh dalam keimanannya. Dalam Nūrul-Ḥaqq (1894), beliau mengungkapkan:

Kami adalah muslim. Kami beriman kepada Allah Yang Mahatunggal, Yang Mahaesa, Yang kepada-Nya saja segala sesuatu bergantung seraya berkata, ‘Tidak ada sesembahan selain-Nya.’ Kami beriman juga kepada Kitab Allah, Alquran, dan Rasul-Nya, Sayyidina Muhammad, Khātamun-Nabiyyīn. Kami pun beriman kepada malaikat, hari kebangkitan, surga, dan neraka.

Kami bersalat, berpuasa, serta menghadap kiblat. Kami mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya serta menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya. Kami tidak menambah-nambahi ataupun mengurangi-ngurangi sebiji sawi pun dari Syariat. Kami menerima segala yang dibawa Rasulullah, baik apa yang kami pahami maupun tidak kami pahami rahasianya dan ketahui hakikatnya.

Jadi, keteguhan iman itulah yang sebenarnya membuat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, menurut pengakuan beliau sendiri, memperoleh penyingkapan makrifat-makrifat ilahiah. Istiqamah yang beliau peragakan tak ubahnya merupakan suatu maut, di mana beliau berhasil mengekang segala hawa nafsani sehingga ilmu-ilmu laduni turun dari hadirat Tuhan kepada beliau. Dalam Ḥaqīqatul-Waḥy (1907), beliau menuturkan:

Sungguh, demi meraih petunjuk-Nya, Aku rela meneguk cawan-cawan kematian.

Kujumpailah, lantas, setelah kematianku tadi, mata air kekekalanku (baqā’).

Realitas “Trinitas Islami” yang beliau perbincangkan ini pada dasarnya ialah sebuah derajat maḥabbah ilāhiyyah yang bersifat kausal antara hamba dan Tuhan-Nya. Kecintaan tersebut, sesuai dengan pemaparan beliau dalam Taudīḥ-e-Marām (1891), terdiri atas tingkatan-tingkatan berikut:

1. Jenjang terendah adalah – meskipun ini sudah tinggi sebetulnya – ketika nyala api kecintaan ilahi menghangatkan hati seorang manusia sampai-sampai nyala api itu terkadang mulai berkobar layaknya api yang besar, tetapi tidak mampu memancar semisalnya. Kehangatan yang berasal dari kecintaan Tuhan ini dinamai dengan kedamaian (sakīnah) dan ketentraman (iṭmi’nān) yang mengambil atribut-atribut malaikat.

Dengan kata lain, hamba tersebut memang benar-benar mencintai Tuhannya, tetapi rasa cintanya itu belum cukup kuat untuk menarik kebersatuan dengan cinta-Nya.

2. Martabat kedua adalah sewaktu kecintaan hamba dan kecintaan Penciptanya berpadu menjadi satu – ibarat pria dan wanita – sehingga nyala api yang tadinya kecil kini menjadi api besar yang bersinar-sinar nan berpemancaran walaupun tidak agresif. Api inilah – yang dilahirkan dari penyatuan dua cinta itu – yang kemudian dijuluki dengan Roh Kudus.

Jadi, dalam pandangan beliau, Roh Kudus bukanlah tenaga aktif Allah yang bertugas menarik hati manusia kepada kesempurnaan hidup Sang Bapa yang sudah dianugrahkan kepada Sang Anak, melainkan ialah “putra” yang tercipta dari kemanunggalan dua entitas cinta, yaitu cinta manusia dan cinta Tuhan. Demikianlah hakikat trinitas suci dalam pemikiran Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Selanjutnya, kata beliau, kedudukan Roh Kudus inilah yang dimiliki oleh Yesus Kristus. Sayangnya, sebagian orang salah kaprah dalam memahaminya sehingga alih-alih mengesakan Tuhan, mereka justru mengada-adakan satu oknum (‘uqnūm) ketuhanan yang baru lalu menjadi politeis.

Namun, selepas kedua jenjang dan martabat di atas, masih ada lagi satu posisi yang merupakan puncak, kulminasi dari semua tingkatan. Posisi ini diraih kala api besar yang bersinar-sinar tadi menjadi agresif dan membakar semua bagian hati manusia.

Apabila Roh Kudus adalah berpadunya cinta manusia dan cinta Tuhan, posisi ketiga ini melambangkan seseorang yang sudah sepenuhnya menjadi manifestasi (maẓhar) wujud Tuhan di dunia seolah-olah ia adalah Tuhan itu sendiri.

Kondisi demikian diperistilahkan dengan Rūḥul-Amīn sebab ia menyediakan penjagaan dari segala bentuk kegelapan dan bebas dari segenap macam kesesatan. Ini pun dilakabkan dengan Syadīdul-Quwā lantaran pengalaman wahyu yang dialaminya menduduki puncak keagungan dan kehebatan yang tidak ada lagi setelahnya wahyu yang lebih megah darinya.

Terminologi lain yang dikenakan baginya adalah Al-Ufuqul-A‘lā karena pengejawantahan wahyu-wahyu yang diterimanya mengambil corak yang paling gamblang dan kentara. Terakhir, ia dipanggil juga dengan Ra’ā Mā Ra’ā, yakni karena komprehensi kondisi ini berada di luar jangkauan pengetahuan, khayal, dan pengandaian manusia.

Jika maqām Roh Kudus diperuntukkan bagi Yesus Kristus, lantas siapakah yang berhak menyandang harkat terluhur ini? Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjawab dengan pasti dan meyakinkan bahwa persona tersebut adalah Nabi Suci Islam, Muhammad Mushtafa. Masih dalam Taudīḥ-e-Marām, beliau menggubah bait-bait syair berikut:

Selain Tuhan Pemilik kasih sayang, siapakah yang kuasa mengandaikan kedudukan Ahmad (Muhammad) yang adiluhung itu?

Ia menghapus dirinya sendiri dan dengan sempurna menyatu (kamāl-e-ittiḥad) dengan Tuhannya seolah-olah huruf mīm telah terjatuh dari nama Ahmad.

Artinya ialah, sebagaimana nama Ahmad akan menjadi Ahad – yakni, sifat Tuhan yang berarti ‘Mahatunggal’ –, bila huruf mīm dihilangkan, begitu pulalah Nabi Muhammad telah melepaskan segenap unsur kemanusiaan beliau sehingga beliau sukses menyerap warna-warna ilahi ke dalam diri beliau lalu menjadi perwujudan Tuhan yang sempurna seakan-akan beliau sendirilah Tuhan yang turun ke dunia.

Oleh sebab itu, sambung Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, mustahil seseorang bisa sampai kepada Tuhan tanpa melalui jalan penghambaan Muḥammadiyyat. Nabi Muhammadlah satu-satunya wasilah antara Khalik dan makhluk di bawah kolong langit ini sebagaimana beliau penakan dalam Chasma-e-Ma‘rifat (1908):

Muhammad dari Arab, Raja dua dunia, dengan perbatasan yang dijaga oleh Roh Kudus.

Aku tak akan memanggilnya Tuhan, tetapi mengenali wujudnya adalah mengenali Tuhan.

Jadi, trinitas suci berupa Roh Kudus yang dipersonifikasikan dalam wujud Yesus Kristus sebetulnya hanyalah pelayan bagi Raja alam semesta yang bernama Muhammad bin Abdillah. Begitulah sabda Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah.