"Tok tok tok",suara ketukan pintu dari luar

"Tania  bangun sayang" 

"Iya ma" sahut Tania dari dalam dengan setengah sadar. Sesaat dia masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur,dan bermaksud untuk melanjutkan mimpinya

Suasana kamar bernuansa putih itu sunyi. Pagi menyapa mentari tidak pernah bosan menampakan sinar cantiknya. Pagi ini begitu sangat cerah hingga menembus sela - sela jendela kamar Tania. cahayanya yang hangat mengusap lembut wajah gadis itu, sebelum kemudian membuat netra mata Tania yang terpejam perlahan mengerjap, dan merasakan silau oleh bias cahaya keemasannya saat berusaha membuka matanya. Kelopak mata itu berkedip, terganggu dengan sinar yang menusuk kornea matanya. Gadis cantik itu pun terbangun akibat pancaran sinar matahari mengenai tepat di wajahnya. 

"Hoamm hahh, udah pagi." monolog Tania dengan suara khas bangun tidur. Dengan gontai, Tania langsung bangun dari tempat tidur dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Syila telah menyelesaikan ritual mandinya, dan bergegas menggunakan seragam sekolah, setelah itu Tania tidak lupa berkaca di cermin yang super besar itu. Wajahnya begitu muram dan penuh kesenduan. 

."Tania", terisak Ibunya dari bawah

"Iya ma", sembari berjalan menuruni tangga

"Ayo sarapan ntar keburu telat loh" ucap ayah sambil mengolesi setangkap roti.

Saat ini Tania menuruni anak tangga dengan tak bersemangat, Tania sebenarnya tidak mau buru buru kesekolah, karna sekolah itu adalah milik ayahnya jadi Tania tidak takut bila dihukum. "Pagi, Mah, Pah,." sapa Syila yang mencium pipi kanan kedua orang tuanya itu."Pagi juga Sayang," sapa mereka berdua serentak.

Memang Pagi ini sangat cerah dengan matahari yang masih terbit dari ufuk timur. Pagi yang selalu mengajarkan kita bahwa ada harapan di setiap langkah kehidupan. Namun, Tak secerah hati Tania. Dia termenung seorang diri dikelas yang masih sepi. 

"Duaarr!!" Indah berniat mengejutkan Tania, tapi si empu tidak terkejut sama sekali.

"Kenapa sih lo? Pagi-pagi udah galau," ujar Indah, memutar kursinya lantas duduk berhadapan dengan Tania. Tania tampak enggan menjawab, membuat Indah kesal dibuatnya. Indah berpikir sejenak untuk mengubah topik pembicaraan.

"pulang sekolah mampir dulu ke cafe Mamah gue yuk!" ajak Indah. 

"Sejak kapan emak lo punya cafe?" tanya Tania, karena setahu dia ibu-nya Indah adalah seorang guru mengaji.

"Baru satu minggu," jawab Indah yang dibalas anggukan kepala Tania. Seseorang masuk, mengalihkan atensi mereka berdua. Setelah tau siapa yang masuk, Tania kembali memalingkan muka. Kevin mendudukkan bokongnya di kursi paling pojok. Memasang headphone berwarna hitam, menelungkupkan kepalanya diatas tumpukkan tangan diatas meja

."Gue suka aneh sama tu anak, datang pagi-pagi sampe kelas molor lagi!" cibir Indah.

"Itu sepupu lo Indah!"

"Gue malu punya sepupu kek dia, KUPER!"

kata Indah dengan mata menyorot Kevin yang telungkup.

"Gibah teruuuss!!" ujar Indra, tangannya sibuk mengamplas mulut Tania. Tania melepas paksa tangan Indira, hingga tangan cowok itu terlepas. Galuh mengusap ujung hidung dan mulut Tania yang memerah karena ulahnya."

Sakit yah ?"

"Yang gibah Indiah kok yang diamplas gue!" ujar Tania tak terima, sedangkan yang lain tertawa mendengarnya. Indria Prayodia, tetangga sekaligus sahabat Tania sedari kecil. Meskipun Indra seringkali mengganggunya, Tania tak pernah ada niatan untuk memutuskan tali persahabatannya. Karena, Indra adalah orang pertama yang mau berteman dengannya.

Kini, Pelajaran pertama telah usai, murid-murid langsung berhambur menuju kantin untuk makan. Tania sibuk membereskan buku-buku dan memasukkannya ke laci meja. Tania lantas keluar ke halaman dan membiarkan wajahnya terkena terpaan cahaya matahari di tengah-tengah hamparan bunga yang bermekaran dengan indah di kebun sekolah. 

Walaupun suasana seindah itu tapi tidak seperti perasaanTania. Pemudi itu masih sering merasa sendu mengingat dirinya kini tidak berpacaran dengan Alvin lagi. Sampai sekarang, Tania masih tidak mengerti kenapa Alvin tega memutuskannya. Dari dulu ia sangat tahu seperti apa sikap Alvin yang sangat perhatian dan penyayang. Ia merasa kalau perubahan yang terjadi kepada laki-laki itu amat membingungkan. Mulai sejak dulu,  Alvin tidak pernah berbuat kasar kepada Tania. Pemuda  itu justru selalu menunjukkan besarnya cinta yang dimiliki untuk sang pacar. Namun, saat usia pacaran mereka memasuki bulan keenam, Alvin berubah menjadi sosok yang dingin dan tidak menunjukkan kemesraan lagi di depan Tania.

“Sayang, kenapa akhir-akhir ini sikap kamu dingin banget? Kamu selalu menjaga jarak dariku.” Pertanyaan itu Tania lontarkan beberapa sebulan yang lalu  kepada Alvin. Saat itu Alvin tidak memberikan respons, dia justru membelakangi gadis remaja itu. Tania tidak memahami sikap Alvin, tapi ia tetap berusaha untuk percaya walaupun rasa tidak tenang itu selalu menghantui pikiran.

Tania tidak pernah tahu kalau Alvin kini telah berpindah hati terjadi karena perbuatan Indah yang ingin menyingkirkan dirinya. Teman karib Tania itu diam diam sangat mengharapkan Alvin dengan Tania dan setelah menyusun rencana, ia pun berhasil, Alvin kini jatuh dalam peluknya dan Tania pun terpuruk.

Kini hanya pagilah yang tetap setia bersama Tania, andai ia menyadari betapa nikmatinya menikmati Pagi Hai.