49111_15467.jpg
Puisi · 1 menit baca

Trilogi Pagi

Pagi #1

Pagi pernah berkabar
Suatu beranda hancur berbagi puing bersama kenangan

Bukan
Ini bukan soal ketiadaan
Aku menatap langit penuh nanar
Menatap horizon mulai patah harapan
Ia tak lagi indah
Seperti kemarin saat gerimis menjadi hujan

Gelap
Cuaca tak lagi sahabat
Senja juga tak lagi ingin mendekat
Meski pernah kusambut dengan tatapan lekat

Penat
Kubagi sedikit ceritaku di atas kertas
Sisa-sisa surat yang ujungnya lupa dilipat
Sebagai tanda

Aku adalah penulis yang tiada
Pagi tetap suram
Dan ia terus berkabar


Pagi #2

Pagi ini
Ketika bangun selepas mimpi
Aku memecah keheningan di raut tidurmu
Diam sepersekian detik enggan memutar

Kusaksikan kau semakin tenggelam
Di bawah selimut berkabut tebal
Di bawah naungan lengankuyang tanggal
Sunyi menari-nari
Mengajakku semakin memecahmu dalam ingatan

Kupejamkan matamu dengan paksa
Agar kau ikut menari
Agar kau tak sibuk bermimpi
Lalu kau makin mengerti

Kunyalakan pemantik api di sekitar pelipis
Sepiku gundah
Aku khawatir kau mencekam dalam gelap
Kubakar ujung pelipismu
Kunyalakan satu untukmu

Kau makin gelisah
Mencari titik-titik terang yang tak ditemukan
Dan aku hanya pasrah
Menenggelamkan kau dalam dekapan


Pagi #3

Pagi, pergilah
Sebab waktu sudah pulang lagi
Meski akal hilang pada nurani
Nurani hati yang tak tahu diri

Sore, datanglah
Sebab pagi malas terhenti
Meski embun membentuk elegi
Elegi pagi serupa pelangi

Malam, bangunlah
Sebab asa menjemput pagi
Sore enggan menetap lagi
Rindu terhentak pada puisi
Pagi semakin enggan pergi

Kau, pahamilah
Tentang aku yang meratap sunyi
Sebab pagi tak tergesa pergi
Waktu bergegas merantai hari

Aku, sadarlah
Tidak ada yang menetap disini
Meski pagi mendekap pagi
Atau sepi membekas sendiri
Lalu malam bergegas pergi
Meninggalkan sejuta intuisi


—Malang, Oktober 2017