Saya suka sekali dengan keseluruhan dari trilogi film superhero anti-mainstream Unbreakable (2000), Split (2006), dan Glass (2019) karya M. Night Shyamalan. Tidak seperti film-film superhero pada umumnya yang khas menonjolkan adegan-adegan penuh aksi baku kekuatan, trilogi ini tidak. Ia lebih mengeksploitasi sisi thriller psikologis.

Dalam Unbreakable, Elijah Prince aka Mr. Glass—karakter jenius, sosiopat dan penggemar komik yang tulangnya serapuh kaca—sangat terobsesi mencari dan menemukan sosok superhero. Sosok yang diperankan Samuel L. Jackson ini memiliki dua teori yang menjadi keyakinan dan mengkristal menjadi visi dalam hidupnya.

Keyakinan Mr. Glass pertama bahwa karya-karya komik superhero yang beredar di dunia merupakan serpihan dari kebudayaan yang berdasar pada kenyataan yang tidak mungkin diterima dalam pelajaran sejarah dan ilmu sosial.

Keyakinan kedua bahwa di dunia ini pasti ada sosok yang merupakan kebalikan dari dirinya yang bertulang rapuh dan mudah sekali patah, yakni sosok yang mememiliki tulang dan fisik kuat melebihi batas fisik manusia normal, atau manusia dengan kekuatan super.

Untuk membuktikan teori dan keyakinannya, Mr. Glass dengan gigih melakukan riset terhadap karya-karya komik dan melakukan seorang diri hal-hal yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang sosiopat seperti dirinya.

Ia akhirnya menemukan sosok David Dunn (Bruce Willis), pria murung yang bekerja sebagai security dan memiliki hubungan dengan ibu dari putranya tidak harmonis. Mr. Glass menemukan yang ia cari saat David menjadi sorotan media karena ia menjadi satu-satunya penumpang kereta api yang selamat dari kecelakaan hebat. Bahkan ia sedikitpun tak mendapatkan goresan luka di tubuhnya.

Mr. Glass pun melakukan pendekatan dan meyakinkan David bahwa ia selamat dari kecelakaan maut itu bukan karena kebetulan, tapi berkat memiliki fisik istimewa dan super. Tulangnya tak bisa patah, badannya kebal.

Ia meminta David untuk memverifikasi teorinya dengan fakta-fakta kehidupan David. Apakah David pernah sakit? Apakah ia juga sedikitpun tak terluka saat kecelakaan mobil di masa muda yang membuat sahabatnya meninggal?

Kenapa ia lebih memilih pekerjaan security daripada ribuan jenis pekerjaan lain? Kenapa saat ia bekerja bisa mengidentifikasi orang-orang jahat yang akan membahayakan orang lain dan identifikasinya nyaris selalu benar?

Pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan Mr. Glass bertujuan untuk meyakinkan David bahwa ia memiliki fisik yang istimewa atau super, juga untuk menumbuhkan sugesti tahap demi tahap bahwa ia adalah manusia super yang memiliki kecenderungan melindungi orang banyak dari orang-orang jahat.

Apakah David memercayai teori Mr. Glass itu, Shyamalan (sutradara & penulis cerita film ini), sesuai dengan ciri khasnya, membawa penonton masuk ke dalam alur teka-teki yang menyimpan kejutan, kejutan, dan puncak kejutan?

Penonton dibawa masuk dalam suasana pikiran gamang David yang bertempur dengan sugesti dari Mr. Glass yang semakin tertanam dalam dirinya. Pergolakan pikiran karena menemukan fakta-fakta di masa lalu tentang dirinya yang mendukung teori Mr. Glass dan juga fakta-fakta yang mematahkan.

Terhadap penonton, Shyamalan juga memperlakukan hal yang sama dalam film Split. Film ini bercerita tentang Kevin Wendell Crumb aka The Horde (James McAvoy) yang memiliki 23 kepribadian yang sedang menjalani terapi dengan psikolog kepribadian dr. Karen Fletcher (Betty Buckley). Salah satu kepribadiannya adalah bernama Dennis yang sosiopat dan terobsesi dengan gadis-gadis remaja.

Dr. Fletcher dalam setiap sesi konsultasi dengan Kevin terus menggali perkembangan psikologis Kevin. Yang ia lakukan adalah menanamkan sugesti bahwa 23 pribadi yang saling "berkomunikasi" itu sejatinya adalah satu orang, yakni Kevin.

Dr. Fletcher juga mengarahkan agar yang harus memegang kendali dari 23 kepribadian jangan Dennis dan Patricia, tapi lebih baik Barry yang dewasa dan berkarakter mengemong kepribadian Kevin dan kepribadian Hedwig.

Tapi upaya-upaya dr. Fletcher untuk mengontrol Kevin dan sugesti yang ditanamkan tak sepenuhnya berhasil. Pada pembukaan film, Dennis menculik Casey (Anya Taylor) dan dua orang temannya. 3 gadis remaja itu disekap dalam rumah.

Bahkan dr. Fletcher kemudian mengetahui dari keterangan Barry dan Dennis bahwa 23 kepribadian dalam diri Kevin (The Horde/gerombolan) memiliki keyakinan bahwa ada satu kepribadian lagi dalam The Horde. Mereka menamainya The Beast. Entitas kuat, super, adidaya, dan adiluhung yang akan menghukum manusia yang "tidak murni."

Horor thriller yang dibangun dengan alur penuh kejutan, kejutan, dan puncak kejutan mewarnai kisah Kevin, perjuangan Casey dan 2 temannya untuk menyelamatkan diri, dan perjuangan dr. Fletcher terhadap Kevin. Bukan hanya alur dalam film ini saja yang disajikan penuh teka-teki yang menyimpan kejutan, kejutan, dan puncak kejutan, tapi film ini sendiri adalah kejutan bagi penonton.

Tak ada yang menyangka bahwa film Split adalah sekuel dari film Unbreakable. Karena sepanjang film Split memang tidak ada benang merah yang menghubungkan dua film ini.

Setting, karakter-karakter, dan cerita dalam film Split sedikitpun tak "menyentuh" film Unbreakable. Kecuali pada akhir film ini, yang memunculkan Bruce Willis. Bruce Willis di sini kemudian diketahui adalah David Dunn ketika pramusaji di sampingnya mengomentari pemberitaan TV tentang sosok Kevin Wendell Crumb aka The Horde, yang katanya mengingatkannya pada sosok Mr. Glass.

Kemunculan David menciptakan teka-teki dalam benak penonton saat keluar dari gedung bioskop. Apa hubungan Kevin dengan David dan Mr. Glass? Apa hubungannya film Split dengan film 15 tahun sebelumnya Unbreakable?

Hingga akhirnya Shyamalan menyatakan bahwa ia akan menggarap film yang menghubungkan Split dan Unbreakable dan menjadi antiklimaks. Dan kemudian kita tahu bahwa kemudian film itu berjudul Glass yang saat ini masih tayang di beberapa bioskop Indonesia.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, film Glass mendapat respons negatif dari mayoritas kritikus. Penulis tidak paham kenapa mereka memberikan kredit rendah terhadap film keren dan jenius ini. Bagi siapa pun yang menikmati ide dan permainan psikologis serta teknik sinematografi dalam film Unbreakable dan Split, pasti sama bingungnya dengan saya atas kritik negatif mereka terhadap film Glass.

Dalam film Glass, kisah David, Kevin aka The Horde, dan Elijah aka Mr. Glass dipertemukan, dengan Mr. Glass mendapatkan porsi lebih besar. Mereka bertiga disatukan dalam sebuah rumah sakit jiwa. Di bawah pengawasan dr. Elli Staple (Sarah Paulson), mereka diberikan sugesti bahwa mereka bertiga bukanlah manusia super.

Menuru dr. Staple, di dunia ini tidak ada manusia yang memiliki kekuatan super sebagaimana yang mereka bertiga yakini dan perankan. Semua kejadian dan kekuatan yang dimiliki dan diyakini dimiliki oleh mereka bertiga bisa dijelaskan secara ilmiah, dan bukanlah aktivitas khas meta-human atau manusia super. Karena memang kekuatan super secara ilmiah tidak pernah ada.

Kenapa David dua kali selamat dari kecelakaan maut, kenapa The Beast alterego ke-24 bisa melengkungkan jeruji besi, kebal peluru dan bisa merayap di permukaan dinding yang rata, kenapa Mr. Glass jenius. Itu semua, menurut dr. Staple, bisa dijelaskan secara ilmiah dan ia memang memberikan penjelasan ilmiah kepada mereka.

Penjelasan-penjelasan ilmiah ini tentu saja bertujuan untuk memberikan sugesti kepada mereka bahwa keyakinan tentang memiliki kekuatan super adalah keliru dan berangkat dari mental mereka yang bermasalah atau sakit jiwa.

Mereka bertiga memang memiliki mental yang rapuh. David dengan masa lalunya dalam kecelakaan mobil dan terdorong untuk menjadi ayah yang membanggakan bagi putranya, Kevin yang memiliki kepribadian banyak tak lain sebagai mekanisme pertahanan diri dari momen masa kecilnya yang sangat traumatis, dan Glass yang marah dengan kehidupan karena terlahir memiliki tulang yang sangat rapuh.

Ya, mereka adalah pribadi yang secara mental rusak dan, menurut The Beast aka Kevin, mereka yang mentalnya hancur mampu mengembangkan diri dan bertransformasi.

Tapi apakah mereka benar-benar bertransformasi menjadi manusia super atau mereka hanya sedang mengidap penyakit mental yang menganggap diri mereka adalah manusia super dan, untuk memerankannya, mereka, seperti teorinya dr. Staple, melakukan riset dan belajar bagaimana menguasai teknik-teknik untuk beraksi selayaknya manusia super?

Film Glass adalah pertarungan antara Mr. Glass (dalam menanamkan sugesti kepada mereka bahwa David, Kevin, dan Glass sendiri adalah manusia super) dengan dr. Staple dan organisasi rahasianya (dalam menanamkan sugesti bahwa mereka bertiga adalah bukan manusia super tapi pengidap sakit mental).

Juga pertarungan Mr. Glass (yang ingin membuka mata masyarakat bahwa manusia super itu nyata ada) vs dr. Staple (yang menjaga tatanan masyarakat yang meyakini superhero hanya ada di dalam dunia fiksi komik).

Siapakah yang menang? Tonton filmnya, maka Anda akan mendapatkan jawaban yang penuh kejutan, kejutan, dan puncak kejutan.