Tidak ada orang Indonesia yang murni seratus persen pribumi, semua orang Indonesia adalah pendatang. 

Fenomena kemajemukan adalah suatu keniscayaan bagi setiap kehidupan bermasyarakat, terlebih di Indonesia dengan memperhatikan sejarah nenek moyang bangsa ini. Genetika orang Indonesia adalah hasil campuran tiga gelombang migrasi nenek moyang keturunan manusia modern dari Afrika yang kemudian masuk ke daratan Eropa, Asia, hingga menyebar ke selatan dan masuk Indonesia bersama-sama dengan masyarakat Austronesia dari Formosa atau Taiwan, serta Arab dan India. 

Keragaman etnis yang ada di Indonesia tidak membawa diskrepansi lantaran pada hakikatnya politik divide et impera merupakan produk lama peninggalan pemerintahan kolonial. Perbedaan justru sebaiknya dilihat sebagai katalisator untuk memperkaya Indonesia akan suku, budaya, dan adat istiadat di tanah ibu pertiwi. 

Kemajemukan sudah dikenal dekat dan baik oleh bangsa Indonesia bahkan jauh sebelum NKRI diakui oleh dunia sebagai negara yang merdeka. Salah satu sisi kemajemukan bangsa Indonesia adalah adanya keragaman agama, kepercayaan, dan adat yang dianut oleh penduduknya. UUD 1945 mengamanatkan negara untuk mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan hukum adat. Artinya, sampai saat ini, Indonesia masih dan untuk seterusnya akan tetap mengakui kedudukan masyarakat adat.

Dalam suatu masyarakat adat, terdapat nilai-nilai yang melekat sangat kuat karena telah melalui kebiasaan, pengalaman, dan perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut. Nilai-nilai tersebut adalah kearifan lokal (local wisdom) atau pengetahuan asli masyarakat (indigenous knowledge). 

Kearifan lokal adalah kebijakan yang bersandar pada filosofi, etika, dan perilaku yang melembaga secara tradisional untuk mengelola sumber daya alam, manusia, dan budaya secara berkelanjutan.

Bali merupakan salah satu daerah yang sangat menjaga adat istiadat dan kebudayaan warisan nenek moyang. Sebanyak 3.247.283 penduduk atau sekitar 80 persen penduduk Bali menganut agama Hindu. Masyarakat Bali cenderung menganggap agama mereka tidak hanya keyakinan tetapi sebagai sumber tertinggi inspirasi, cara hidup dan pada akhirnya menjadi ketahanan dan tujuan hidup. Filosofi kehidupan khas masyarakat Bali ini kemudian dituangkan dan dikenal dalam sebuah kearifan lokal yang disebut Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana sebagai Kearifan Lokal

Kebahagiaan adalah tujuan hidup dari setiap manusia baik dikehendaki secara langsung dan sadar maupun tidak.

Kebahagiaan bagi setiap orang merepresentasikan makna yang berbeda. Dalam kepercayaan Hindu, kebahagiaan terjadi ketika kehidupan selesai dan dapat bersatu kembali dengan Sang Hyang Widhi Wasa atau sang pencipta, moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Tri Hita Karana sebagai kearifan lokal menuntun masyarakat untuk mencapai kebahagiaan tertinggi melalui tiga ajaran utamanya yakni parahyangan, pawongan, dan palemahan. Masing-masing merepresentasikan hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan lingkungan.

Setiap umat manusia diharapkan untuk selalu ingat dan berhubungan dengan sang pencipta ketika berucap, berpikir, dan bertindak. Parahyangan mengajarkan cara yang dapat dilakukan manusia agar dapat selangkah lebih dekat dengan rancangan Sang Hyang Widhi Wasa adalah dengan berdoa atau bersembahyang, terlebih di tempat-tempat suci seperti pura dan candi. 

Manusia secara naturalia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri, manusia adalah makhluk sosial. Umat Hindu meyakini bahwa manusia diciptakan dengan keahlian yang berbeda-beda, lokanam tu wiwwrddhyyartham mukhabaahu rupadatah brahmanan ksatryam waisyam cudram ca nirawartayat. Sifat alamiah manusia membawa keniscayaan, mau tidak mau pasti kekurangan satu orang akan dibantu dan ditutup dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Maka dari itu, pawongan mendorong manusia untuk membangun hubungan yang harmonis dengan sesamanya.

Manusia adalah makhluk yang rapuh, hidup ini hanyalah titipan sementara. Bertolak belakang dengan jejak dan dampak yang ditinggalkannya di bumi, jejak terhadap lingkungan dan alam semesta bisa saja memberikan dampak baik maupun buruk, permanen maupun tidak. Makanan, pakaian, bahan bangunan, obat-obatan, dan seluruh kebutuhan manusia berasal dari alam. Maka dari itu, palemahan mengajarkan bahwa ketika alam memberi kepada manusia, manusia juga memberi kembali dengan menjaga dan melestarikan lingkungan agar hubungan harmonis antara lingkungan dan manusia terjaga.

Nilai Pancasila dalam Masyarakat Modern

Tri Hita Karana, walaupun merupakan kearifan lokal milik masyarakat Bali, bukan berarti ajaran ini tidak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Tidak dapat dipungkiri, Tri Hita Karana membawakan nilai-nilai positif yang sejalan dengan nilai Pancasila yang notabenenya merupakan landasan dan identitas dari NKRI. 

Ketuhanan yang Maha Esa, sila pertama Pancasila, sejalan dengan parahyangan. Apabila kita menerapkan nilai ini dengan baik dan kompak, maka aksi radikalisme agama hingga terorisme dapat berkurang drastis dan Indonesia terus berjalan dalam harmoni.

Berbicara keharmonisan, sikap yang saling menghormati kepercayaan dan agama masing-masing individu juga mengantarkan masyarakat Indonesia pada nilai pawongan

Kemanusiaan yang adil dan beradab, sila kedua Pancasila, dapat diamalkan dengan melakukan kegiatan gotong royong, bahu membahu saling membantu. 

Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila, juga sangat erat kaitannya dengan pawongan. Keunikan masing-masing individu, sesuai nilai pawongan, patutnya dimaknai untuk saling melengkapi dan mendorong persatuan.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, sila keempat Pancasila, dapat diaplikasikan dengan melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat. Untuk menjaga keharmonisan dengan sesamanya, manusia diharuskan untuk menghormati pendapat dan perasaan orang lain. Hal yang sama berlaku juga terhadap para pemimpin negara, apabila mereka menerapkan nilai pawongan, niscaya mereka mengamalkan tugas dengan arif.

Berbicara pemimpin negara, pemerintah harus membuat keputusan yang mengakomodasi rakyat yang lebih lemah agar semua orang setidaknya memiliki kesempatan dalam hidup. 

Hasil kekayaan alam banyak dikeruk di daerah oleh perusahaan yang berasal jauh dari kota. Akibatnya, menyebabkan kekayaan alam hanya dirasakan diperkotaan. 

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sila kelima Pancasila, mengharuskan pemerintah untuk mampu menutup kesenjangan yang dirasakan dalam masyarakat. Sesuai dengan nilai palemahan, pengambilan keputusan yang memerhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat dapat menjadi jembatan yang menengahi keperluan bisnis perusahaan dari kota dengan masyarakat daerah.

Pancasila yang merupakan hukum yang tumbuh secara alamiah di masyarakat, yang mencerminkan jiwa rakyat atau bangsa Indonesia (volksgeist). Maka dari itu, Pancasila harus dapat menjadi landasan negara baik untuk masa kini dan mendatang. Pancasila harus dapat beradaptasi dengan modernisasi dan perkembangan jaman.

Dapat dilihat dari relevansi pengaplikasian kearifan lokal Tri Hita Karana di kehidupan modern dan kaitannya dengan Pancasila, maka bukan mustahil untuk menerapkan kearifan lokal berdampingan dengan pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.