Sejak tren tren terorisme Al Qaeda pada dekade 1990-an hingga 2000-an, fenomena terorisme sering diidentikkan dengan  fenomena “terorisme religius". Artinya, pandangan umum meyakini bahwa fenomena terorisme dianggap selalu terkait dengan agama. Lebih spesifik, kajian terorisme seringkali diidentikkan dengan Islam. 

Perkembangan global Al Qaeda dan ISIS yang menggunakan simbol-simbol agama dalam menjustifikasi aksi terorismenya, seakan turut “meneguhkan” stereotipe bahwa terorisme dengan agama.  Radikalisme, ekstrimisme, dan Islam sering dikaitkan dalam berbagai pembahasan mengenai terorisme. 

Narasi-narasi melawan terorisme dipasangkan dengan narasi moderasi keberagaman. Kesan-kesan ini tentu “menjebak,” karena pada sejarah terorisme, aksi terorisme dilakukan oleh beragam aliran ideologi politik. Selain itu, dalam fenomena terorisme kontemporer, menunjukkan tren bahwa terorisme juga dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstrim “sayap kanan” di beberapa negara “Barat.”

Sebagai contoh, tren terorisme kelompok ekstrimis “sayap kanan”  dapat  dilihat pada kasus penyerangan terhadap jamaah pada dua masjid di kota Christcurch, New Zealand yang dilakukan oleh Brenton Tarrant pada tahun 2019. Pelaku penyerangan tersebut menembak puluhan jamaah yang sedang melakukan ibadah di masjid. Dalam peristiwa tersebut, pelaku bahkan menyiarkan secara langsung aksi serangan melalui sosial media Facebook. 

Dari hasil penyelidikan, didapati bahwa motif pelaku menyerang jamaah di masjid tersebut adalah terkait dengan supremasi kulit putih. Dakwaan yang dialamatkan kepada Tarrant adalah serangan tersebut disebabkan ingin menebarkan ketakutan kepada kelompok imigran yang dianggap sebagai “penjajah.”

Hal ini terkonfirmasi dengan tulisan manifesto Brenton Tarrant yang berjudul The Great Replacement. Dalam manifesto yang tersebar secara online tersebut, Tarrant menganggap bahwa kelompok imigran muslim yang bertebaran di negara-negara Barat, telah membahayakan peradaban masyarakat “kulit putih.” 

Menurut Tarrant, Imigran Timur Tengah telah menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat “kulit putih” di berbagai negara Eropa. Misalnya, terjadi serangan terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok “Timur Tengah’ di negara-negara Eropa. 

Selain itu, Tarrant beranggapan bahwa masyarakat Eropa telah menjadi minoritas di tanahnya sendiri, terancam dengan kedatangan imigran Timur Tengah. Imigran Timur Tengah dianggap akan menggantikan tradisi Eropa di Benua Eropa dan akan mengancam keseimbangan demografis masyarakat Eropa. 

Karena itu, dalam manifesto tersebut pula, Brenton Tarrant menyatakan bahwa tujuan perjuangannya adalah “We must ensure the existence of our people, and a future for white children.“ Brenton memandang bahwa aksinya adalah mewakili jutaan orang Eropa yang berharap menjadi tuan di tanahnya sendiri dan mempertahankan tradisi dalam kehidupannya. 

“Perjuangan” tersebut diwujudkan dengan aksi kekerasan, sebagaimana pengakuannya “It was there I decided to do something, it was there I decided to take action, to commit to force. To commit to violence.” Yang menarik, dalam manifestonya, Brenton mengakui bahwa aksinya memang secara definisi adalah termasuk dalam Tindakan terorisme, meskipun Brenton percaya bahwa tujuannya adalah untuk mengusir “penjajah” dari tanah Eropa.

Dalam konteks ini, motif Tarrant berkaitan dengan menguatnya sentimen ideologi ekstrim sayap kanan yang sedang mengalami tren di negara-negara “Barat”. Hal tersebut diperkuat dengan pengakuan Tarrant yang menyebutkan bahwa aksinya memang bermotif anti-imigran serta bertujuan ingin mempertahankan tradisi dan masyarakat Eropa. 

Sentimen ini kemudian dikaitkan dengan pilihan strategi terorisme. Tarrant juga mengaku telah terinspirasi oleh aksi terorisme yang dilakukan oleh ekstrimis Sayap Kanan di Norwegia, Anders Behring Breivik pada 2011.

Yang menarik, terdapat kemiripan lain antara fenomena tren terorisme sayap “kanan” bersama terorisme kelompok “religius.” Yaitu penggunaan internet untuk menyebarkan propaganda dan publikasi ideologi, serta media sosial untuk menyebarkan laporan aksi terorisme. 

Hal ini seakan menjadi fenomena umum dalam fase “New Terrorism” dimana kelompok-kelompok “teroris” menggunakan sarana teknologi informasi untuk kepentingan eksistensi, komunikasi, dan penunjang operasi teror. Berbagai publikasi oleh kelompok ekstrimis sayap kanan masih beredar di internet.

Bahkan publikasi kelompok-kelompok “ekstrimis” tersebut dapat diunduh bebas di internet. Kemiripan kedua, terdapat perasaan “terkepung” dan “terancam” oleh identitas peradaban lain. 

Jika dalam berbagai retorika kelompok “relijius“, mereka menyatakan bahwa peradaban relijius telah banyak digerogoti oleh nilai-nilai “Barat”, maka sebaliknya bagi kelompok-kelompok teroris sayap “Kanan” bahwa peradaban Barat mendapat ancaman dari kelompok pendatang yang berasal dari Asia atau Timur Tengah. 

Kelompok-kelompok teroris sayap “Kanan” merasa bahwa nilai-nilai kehidupan peradaban “Barat” banyak diganggu oleh multikulturalisme. Hampir sama dengan kelompok bermotif “religius” yang ingin mempertahankan eksistensi kelompok dan identitas religiusnya dari “serangan” pihak eksternal, kelompok ekstrimis sayap kanan bereaksi terhadap imigran yang dianggap “menjajah” Eropa. 

Kasus  Terrant  menyediakan kasus aktual fenomena terorisme yang dilakukan kelompok ekstrimis sayap kanan tersebut.  Fenomena ini juga memberi gambaran bahwa ideologi radikal sayap “Kanan” menjadi tantangan dalam membangun multikulturalisme di dunia global. 

Ketiga, penggunaan internet sebagai media penyebaran ideologi terorisme memungkinkan terjadinya fenomena desentrasilisasi terorisme dan fenomena terorisme yang dilakukan secara mandiri oleh perorangan.