Trend “Body Positivity” Membuat Perempuan Semakin Berdaya

Sejak lama telah ada dualisme pandangan yang memisahkan antara pikiran dan tubuh. Akal atau pikiran telah lama dipandang sebagai unsur penting di atas tubuh. Bahkan dalam perspektif Al-qur’an menyebutkan bahwa akal merupakan satu hal yang membedakan manusia dari hewan, yang berarti bahwa manusia menjadi mulia berkat penciptaan akal ini.

            Berbeda dengan akal, tubuh telah lama menjadi unsur yang terlupakan dalam pembahasan filsafat. Tubuh cenderung dianggap remeh, tidak penting, dan tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang serius. Plato, salah satu filsuf Yunani, bahkan menganggap orang yang mencintai tubuhnya adalah orang rendahan.

            Tubuh juga telah lama menjadi alat politik, dikontrol sedemikian rupa, dan direpresi. Pemerintah yang berkuasa mengontrol tubuh sedemikian rupa agar tak menjadi konsumsi publik melalui peraturan-peraturan daerah atau undang-undang. Kejadian yang sama telah berlangsung lama sejak otonomi gereja dan kerajaan Victorian. Tentu subjek yang paling menderita atas politik ini justru perempuan.

 

Tubuh dalam Perspektif Masyarakat

Seperti masyarakat yang patrialkal lainnya, penduduk Indonesia umunya memposisikan perempuan sebagai makhluk yang subordinat, manusia kedua setelah laki-laki. Perempuan diajari bahwa seksualitasnya, terutama tubuh, bukanlah miliknya seutuhnya, tetapi milik lelaki. Yang ketika memuaskan lelaki, ia mendapat ganjaran berupa nafkah atau harta.

Perempuan yang memberikan tubuhnya seutuhnya pada lelaki, dalam pandangan masyarakat, seolah merupakan bentuk pengabdian, penghormatan, dan ucapan terima kasih atas perlindungan dan nafkah yang diberikan lelaki. Perspektif ini menggiring asumsi umum bahwa perempuan menikah yang enggan melayani suaminya dipandang berdosa.

Pandangan kepemilikan atas tubuh perempuan kemudian menjadi alat kuasa untuk menundukkan perempuan. Salah satu contohnya, bagaimana masyarakat memandang keperawanan menjadi simbol autoritatif menilai perempuan baik atau tidak baik. Keperawanan seolah dianggap segalanya padahal ia hanya mitos yang diagungkan sebagai sebuah kebenaran.

Dalam perspektif agama, masih banyak yang percaya tentang hadist-hadist yang bahkan tidak dapat dibuktikan keshahihannya. Seperti kutipan hadist yang menyatakan bahwa jika rambut perempuan yang terlihat mahramnya, maka perempuan itu, ayah, suami, adik lelaki, dan anak lelakinya akan diganjar neraka hingga 70.000 tahun lamanya. Sangat disayangkan banyak yang masih percaya bahwa tubuh perempuan adalah sumber dosa.

Penilaian perempuan karena tubuhnya ini tentu berkorelasi dengan konstruksi budaya masyarakat terhadap tubuh perempuan. Dalam konstruksi masyarakat, perempuan yang berterima sering kali dianggap berharga. Sementara, perempuan yang mencoba melawan dari konstruksi tersebut berisiko dilabeli sebagai “perempuan yang tidak bermoral”, “perempuan sundal” atau monster.

Kampanye Body Positivity: Perempuan Berhak Menilai Dirinya Berharga

Istilah body positivity awal mula muncul dari gerakan penerimaan lemak kemudian berkembang tidak hanya berfokus pada ukuran tubuh namun pada pola pikir bahwa seluruh tubuh adalah baik dan indah dengan beragam keunikan. Sehingga, melalui body positivity individu mampu menilai dirinya secara positif, cantik dan berharga dengan melawan standar kecantikan pasar.

            Gerakan ini pulalah yang kemungkinan mengubah cara produk-produk kecantikan bekerja. Mulanya promosi selalu didasarkan pada standar kecantikan seperti putih dan bersinar, kemudian berubah menjadi mengakomodir semua warna kulit. Hal yang sama juga terjadi pada iklan shampoo, yang selalu mengagungkan bahwa rambut yang indah adalah yang lurus dan panjang, kini mulai mempromosikan segala jenis rambut. 

Tentunya, meski ini adalah cara baru mencari profit, setidaknya promo mereka menjadi medium yang bisa diharapkan merubah standar kecantikan yang telah lama membuat perempuan merasa tak percaya diri akan tubuhnya.

Media menjadi tempat paling subur untuk mengampanyekan segala hal, termasuk tentang body positivity. Melalui instragram. belakangan ini, kampanye body positivity semakin marak dan menggema. Instagram barangkali menjadi media yang paling tepat untuk mengkampanyekan ini karena gambar akan dapat berbicara lebih banyak dan merasuk dalam alam pikiran kita ketimbang teks.

Sayangnya, berselancar instagram dapat berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri seseorang, Studi terbaru menunjukkan bahwa wanita berpendidikan yang diminta untuk berselancar menelusuri instagram ternyata mengalami penurunan rasa kepuasan terhadap tubuhnya. Sehingga, dengan kampanye body positivity menjadi satu cara untuk memberikan kontra opini pada postingan yang dianggap membuat diri merasa seperti sampah hanya karena merasa bentuk tubuhnya tidak menarik.  

Salah satunya publik figur dari kalangan artis yang menjadi pusat perhatian adalah Marshanda dan  Tara Basro . Marshanda secara terang-terangan memposting tubuhnya yang gemuk untuk menyadarkan perempuan agar mencintai bagaimanapun bentuk tubuhnya. Hal yang sama dilakukan Tara Basro di setiap postingan instagramnya. Beberapa komentar positif dalam kolom pesan menjadi wujud bahwa setidaknya apa yang mereka lakukan dapat berdampak positif minimal pada lingkaran pertemanan mereka.

            Melalui gerakan ini, setidaknya akan mengubah pola pikir negatif tentang diri menjadi jauh lebih baik bagi kesehatan fisik dan psikologis. Pada akhirnya, kita harus belajar bahwa apapun yang ada pada diri baik untuk disyukuri dan bagaimanapun bentuk tubuh kita sejatinya itu yang paling sempurna. Sudah saatnya untuk menanamkan rasa cinta pada diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Sudah saatnya menghargai diri sendiri karena memang kita berharga.