Judul di atas memang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan publik. Memang sejak kasus corona muncul di dunia khususnya Indonesia, kehidupan masyarakat berubah 180 derajat dari biasanya. Pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah untuk menghentikan penyebaran wabah ini. Semua kegiatan dari mulai bekerja, belajar, dan beribadah kini harus dilakukan di rumah.

Beberapa pekerja juga banyak yang dirumahkan bahkan di-PHK. Para pengusaha dan pekerja informal juga mengalami penurunan pendapatan. Alhasil untuk memenuhi kebutuhan hidup yang malah meninggi di kondisi sekarang sangatlah sulit. Ditambah bulan Ramadan yang berbarengan dengan adanya wabah ini membuat pemerintah mengusung kebijakan-kebijakan khusus terkait kegiatan selama bulan Ramadan.

Memasuki pertengahan April lalu Kementerian Agama menyiarkan bahwa kegiatan ibadah seperti salat tarawih, tadarus, itikaf, serta salat Ied sebaiknya dilakukan di rumah, dan pelarangan mudik bagi perantau ke daerah asal. Lebaran yang dinanti pun harus terkendala karena corona.

Tradisi lebaran seperti open house, bersalam-salam, serta berkunjung ke rumah sanak saudara harus ditahan demi menjaga keselamatan semua orang. Momen yang paling identik dalam lebaran yaitu salam tempel atau yang biasa kita sebut pembagian THR (Tunjangan Hari Raya) pun ikut terdampak.

Salam Tempel di Negara Lain

Salam tempel bukanlah sesuatu hal yang baru, melainkan sudah menjadi budaya turun-temurun masyarakat Indonesia setiap Hari Raya Idulfitri. Namun tahukah kalian bahwa budaya tersebut juga dilakukan di negara lain? Salam tempel nyatanya telah terlebih dahulu ada dalam masyarakat Mesir dengan nama Eidya.

Eidya sendiri dilakukan ketika telah selesai menunaikan salat Idulfitri di masjid kemudian dilanjut dengan membagikan pemberian berupa permen maupun hadiah kepada anak-anak maupun orang yang belum memiliki penghasilan tetap.

Lain lagi di negara Cina, budaya salam tempel ala masyarakat Cina dilakukan saat perayaan hari raya Imlek dengan sebutan Angpau. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring Edisi V, Angpau diartikan sebagai uang yang diberikan kepada anak-anak kecil, orang yang belum menikah, atau orang tua (oleh anak-anak yang telah menikah) pada hari raya Imlek, biasanya dibungkus kertas merah dan diberikan dengan harapan bahwa penerima angpau akan mendapat keberuntungan serta bernasib baik sepanjang tahun baru.

Jika dilihat budaya kedua negara, rasanya budaya salam tempel ketika lebaran ala masyarakat Indonesia merupakan akulturasi dari dua kebudayaan tersebut.

Arti Kata Salam Tempel

Salam tempel dalam Kamus Bahasa Indonesia Daring Edisi V diartikan sebagai salam yang disertai uang (atau amplop berisi uang) dan sebagainya yang diselipkan dalam tangan orang yang disalami. Istilah salam tempel biasanya dikonotasikan negatif karena sarat akan sesuatu hal yang bersifat gratifikasi.

Namun salam tempel di kala lebaran memiliki arti berbeda. Salam tempel yang dimaksudkan adalah salam tempel yang dilakukan oleh orang tua ataupun orang dewasa yang sudah memiliki penghasilan dengan cara memberikan sebagian uangnya untuk saudara mereka yang lebih muda (anak-anak hingga remaja), belum menikah dan tidak memiliki penghasilan lewat cara bersalam-salaman.

Tata Cara Salam Tempel

Salam tempel pada intinya yaitu memberikan uang. Namun pada pelaksanaannya, salam tempel memiliki beberapa versi. Versi pertama dilakukan dengan cara; orang yang menerima salam tempel membuat barisan ke belakang layaknya sedang mengantre kepada orang yang akan memberikan, kemudian satu per satu bergantian untuk menyalaminya.

Untuk versi kedua dilakukan ketika orang-orang yang akan memberi salam tempel berpamitan pulang dibarengi dengan menyalami orang-orang yang perlu menerimanya.

Makna Salam Tempel

Salam tempel tidak semerta-merta sebuah kewajiban dalam lebaran, lebih dari itu salam tempel memiliki makna filosofis yang terkandung. Karena banyaknya anak yang telah dididik untuk berpuasa sejak dini, maka salam tempel berguna sebagai penghargaan (reward) bagi anak-anak kecil yang sudah ikut dalam proses berpuasa.

Kemudian salam tempel dijadikan ajang untuk bersedekah dengan menyisihkan uang kita kepada yang lain. Dengan hal tersebut, diharapkan penerima salam tempel mendoakan kebajikan pada yang memberi. Terakhir, salam tempel juga dilakukan untuk memberi kesenangan pada orang lain. 

Alternatif Salam Tempel

Karena lebaran yang harus dilaksanakan di rumah dan tidak adanya saudara yang berkunjung, membuat rumah tak ramai seperti lebaran biasanya. Tak pelak isu tersebut ramai dibicarakan di media sosial. Mulai dari curhatan karena mendapat THR lebih sedikit dibanding lebaran sebelumnya hingga tidak mendapat sama sekali.

Dengan tidak adanya salam tempel, membuat pemasukan uang jajan untuk yang muda pun berkurang. Tetapi ada alternatif lain yang dapat dilakukan tanpa harus bersalaman yaitu salam tempel virtual. Dengan memanfaatkan teknologi, kita dapat mengirimkan uang dengan Internet Banking (e-banking) lewat penyedia jasa layanan keuangan ataupun menggunakan dompet digital.

Selain berupa uang, cara lain yaitu membelikan pulsa ataupun kuota internet. Kita juga dapat memanfaatkan layanan e-commerce untuk memberikan hadiah kepada sanak saudara yang berada di kampung halaman.

Walaupun kini berada dalam kepungan corona, namun silaturahmi bersama sanak saudara tetap harus berjalan dan semoga pahit yang kita rasakan sekarang, sedikit terobati dengan adanya salam tempel virtual.