Pada Kurun 15 tahun terakhir, Amerika Serikat tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus penembakan sipil terbanyak di seluruh dunia. Dan yang lebih mirisnya lagi adalah bahwa, penembakan- penembakan yang dimaksud itu terjadi terkait atau di dalam lembaga pendidikan baik SD, SMP, SMA maupun Universitas. 

Fakta yang terjadi?

Ditemukan beberapa data, yang pertama ada sejak tahun 1970-an angka penembakan yang terjadi di Papua itu ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan yang terjadi di Amerika Serikat.

Kemudian yang kedua penyebab kematian paling banyak pada anak-anak di Amerika Serikat itu bukan gara-gara kepleset, bukan gara-gara sakit, bukan gara-gara kecelakaan lalu lintas, tetapi gara-gara penembakan. Dan angka penembakan ini menyebabkan kematian lima kali lipat lebih banyak daripada anak yang meninggal gara-gara tenggelam. 

Yang Ketiga, kita menemukan fakta yang paling update, yaitu sampai lima bulan pertama Tahun 2022 sampai bulan Mei ada 27 kasus penembakan di Amerika Serikat. Yang berarti dengan demikian setiap bulannya rata-rata di Amerika Serikat ada 5/6 kasus penembakan. Berarti sekitar seminggu sekali di negara tersebut. 

Kenapa bisa seperti itu ya? tentu saja alasannya adalah alasan yang paling masuk akal adalah bahwa, mereka melegalkan senjata api.

Ya benar, Amerika Serikat adalah negara yang membiarkan warganya untuk memiliki senjata api secara lebih bebas. Tetapi kalau misalkan kita menilik dari masalah itu, seharusnya kita menemukan ada masalah yang lain. Karena Amerika Serikat bukan satu-satunya yang melegalkan senjata kepada warganya.

Seperti Kanada, negara tetangganya itu juga ia mempersilahkan warganya untuk secara bebas mendapatkan senjata api. Begitupun dengan Serbia kemudian Finlandia, Islandia dan lain-lain sebagainya. Menariknya, tidak ada diantara mereka yang angka penembakan seperti Amerika Serikat. 

Jadi, kita harus menemukan ada faktor lain, selain kepemilikan senjata yang menyebabkan orang-orang Amerika Serikat begitu gelisah? karena selalu diteror oleh penembakan anak-anaknya sendiri di sekolah?

Pada tahun 2000 Majalah terkemuka merilis sebuah laporan terkait dengan penembakan-penembakan yang terjadi Amerika Serikat. Yang mereka sebut bahwa penembakan penembakan yang dimaksud itu memiliki beberapa pola yang khas, dan memiliki beberapa karakteristik yang secara umum memang melekat pada peristiwa tersebut.

Diantaranya adalah bahwa, penembakan itu dilakukan oleh laki-laki berkulit putih yang berekonomi kelas menengah, yang sedang depresi, atau kesepian, atau mendapatkan intimidasi dan kekerasan tertentu. Dan dia memiliki akses terhadap senjata api. 

Penelitian tersebut kemudian didukung oleh beberapa penelitian yang lain yang secara terpisah, diantaranya menemukan bahwa kepada orang-orang kulit hitam itu cenderung mendapatkan risiko yang lebih besar terkait dengan penembakan daripada orang-orang berkulit putih.

Tetapi, sejak laporan ini kemudian dirilis banyak sekali kritikan-kritikan terkait dengan laporan ini. Karena laporan ini cenderung terlalu tendensius dan terlalu rasisme. 

Secara lebih mendalam lagi, ternyata masalahnya bukan hanya ras. Ada beberapa motif yang secara tumpang tindih dilakukan oleh para penembak itu. diantaranya, yang pertama adalah bahwa 75% penembakan itu dipicu oleh penganiayaan atau bullying. Terkait dengan itu, kemudian 61 persen disebabkan dengan balas dendam. 

Kemudian 34 % adalah motif masalah pribadi, pelaku penembakan itu menganggap bahwa penembakan itu adalah upaya untuk memecahkan masalah dirinya, dan kemudian 20% sampai 27% berhubungan dengan depresi atau keinginan untuk bunuh diri. 

Bunuh diri sambil nembak orang lain, karena kesal luar biasa terhadap satu hal. Kekesalan itu ditimpakan dulu kepada orang lain baru kemudian dia bunuh diri.

Artinya, kesimpulan dari penelitian-penelitian lanjutan peristiwa tersebut adalah terkait dengan psychologis, tidak benar-benar terikat pada masalah ras. 

Maka, muncullah beberapa hipotesis. pertama adalah bahwa penembakan di Amerika Serikat begitu banyak, khususnya untuk orang-orang yang masih muda itu terjadi gara-gara masalah keluarga.

Di Amerika Serikat, struktur dan stabilitas keluarga di Amerika Serikat itu sangat rentan karena banyak sekali keluarga-keluarga di di sana yang menerapkan keluarga non-tradisional, maksud keluarga non-tradisional itu adalah bahwa orang tua itu ternyata dalam ikatan pernikahan. 

Hal ini menyebabkan mereka lebih rentan akan masalah keluarga. Misalkan mereka pacaran, kemudian punya anak, dan si anaknya tumbuh menjadi besar. Lalu si anak itu tidak mendapatkan komitmen atau perhatian yang lebih ketika orangtuanya itu menikah atau terikat dalam pernikahan. 

Karena si anak yang dimaksud itu dibesarkan oleh orangtua tunggal (ibu). Mereka banyak berhubungan, tetapi tidak dilandaskan pada ikatan yang resmi, kemudian punya anak nah akhirnya yang membesarkannya itu hanya menyisakan ibunya saja.

Nah ketika sih ibunya harus bekerja, mengasuh anak, dan disisi yang lain, akhirnya si ibu tidak bisa melakukan semuanya. Biasanya, prioritas utama si ibu tadi adalah untuk menyambung hidupnya, dengan bekerja. Si anaknya itu kemudian kurang mendapatkan perhatian, dan dari situlah masalah Psikologi itu bermula. 

Jadi sebenarnya faktor utama penembakan di sini adalah masalah psikologis. Pastinya sangat berkaitan dengan pembinaan di dalam keluarga. 

Semoga dengan tulisan ini membuka mata kita bersama, bukan hanya terkait dengan sisi buruk Amerika Serikat, tetapi terkait dengan masalah-masalah yang umum bisa terjadi di daerah dan negara manapun.