Generasi Z atau bisa di sebut para generasi yang lahir pada rentang tahun 1996 hingga 2012 merupakan generasi yang lahir setelah generasi milenial, di mana peralihan dari masa teknologi-teknologi yang kiat berkembang sangat cepat hingga masa kini.

Dengan berkembangnya teknologi pada Gen Z ini seiring memaknai dan menggunakan teknologi yang kian berkembang memberikan banyak dampak hal positif namun di samping itu banyak pula hal negatif yang mengikuti.

Banyak yang bilang Gen Z ini adalah generasi yang lemah, bahkan sebagian beranggapan banyak hal positif yang justru di salah gunakan oleh sebagian generasi ini. Hal itu mungkin suatu pendapat yang bisa di anggap benar namun tidak seutuhnya dapat di anggap benar.

Sangat banyak dan cepatnya persaingan pada Gen Z adalah salah satu faktor generasi ini dalam melakukan hal yang justru negatif. Di samping banyaknya peluang yang besar pada masa kini namun banyak pula tantangan hingga persaingan bagi generasi ini.

Dengan berkembangnya teknologi yang cepat pada masa Gen Z ini beranggapan bahwa generasi ini adalah generasi yang kreatif, membuat banyaknya mereka dalam menjelajah dan terkoneksi dengan banyak orang di berbagai tempat secara virtual melalui internet. Hal ini menyebabkan mereka lebih mudah dalam mentransfer keterampilan dari generasi sebelumnya.

Seperti komunikasi interpersonal, budaya kerja, keterampilan teknis, dan berpikir kritis harus intensif dilakukan. Dengan hal ini pula yang membuat Gen Z ini terbilang sangat mudah dalam berkembang untuk menuangkan berbagai keahlian yang mereka miliki.

Namun di samping hal itu banyak pula yang beranggapan bahwa Gen Z ini adalah generasi yang mudah menyerah, mudah cemas, hingga terbilang yang ingin sesuatu itu selalu instan. Banyaknya anggapan negatif itu pastinya ada hal yang membuat generasi ini terpuruk pada hal itu.

Mengapa Gen Z di bilang mudah menyerah? Hal ini terkadang merupakan rasa ketergantungan terhadap orang lain. Misal banyaknya privilege dari orang tua adalah salah satu alasan mengapa generasi ini mudah menyerah, karena ketergantungan yang sangat tinggi terhadap orang lain atau keluarga.

Hingga terbilang ingin sesuatu yang instan karena mereka telah beranggapan bahwa harapan privilege ini merupakan tanggungan dalam hidup mereka. Sehingga terkadang banyak generasi ini yang justru berharap pemberian dari orang lain maupun keluarga adalah kunci kesuksesan untuk hidupnya.

Di samping itu Gen Z ini terbilang mudah cemas akan masa depan yang akan mereka hadapi, sehingga muncul Tren Healing dekat-dekat ini. Cepatnya berkembang dan persaingan pada masa ini banyak membuat generasi ini cemas akan menghadapi hal itu.

Begitu mudahnya mengakses kehidupan di luar sana, terkadang membuat generasi ini merasa diri nya tertinggal bahkan merasa gagal dalam berproses. Melihat berbagai pencapaian hingga keberhasilan orang lain di sosial media justru banyak membuat sebagian generasi ini merasa tertinggal atau gagal.

Dengan persaingan yang dapat di lihat di berbagai penjuru dunia generasi ini merasa kalah dan bahkan meratapi keadaan mereka, sehingga muncul yang jatuh depresi hingga gangguan mental kian masalah ini terjadi muncul tren yang di sebut self healing.

Trend healing atau bisa di sebut masa penyembuhan kadang di salah artikan oleh generasi ini, mereka lebih fokus akan emotion focus coping di banding problem focus coping. Hingga sangat mudah yang namanya berucap “Kami butuh healing”. 

Healing bukan hal yang salah untuk di lakukan, karena bentuk healing adalah sebuah penyembuhan. Namun persepsi healing ini kadang di salah artikan oleh Gen Z ini, terkadang memilih meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawabnya dengan alasan penyembuhan ini.

Arti dari healing adalah penyembuhan, di mana setiap gangguan mental pasti ada caranya sendiri untuk penyembuhan, misal dengan: mendengarkan musik, membuat jurnal, atau berdiskusi. Semua punya cara untuk penyembuhan itu sendiri atau bisa di simpulkan berdamai dengan diri sendiri.

Namun di samping sadarnya generasi ini akan kesehatan mental, terkadang sebagian justru melakukan self diagnosis atau menganggap dirinya terkena gangguan mental tanpa konsultasi melalui orang yang ahli akan hal ini.

Bagi Gen Z tren healing ini bisa di katakan hal yang perlu, namun di iringi dengan perlahan mulai mencoba melatih mental kita agar kuat menghadapi masalah yang ada. Karena di saat kita hanya fokus terhadap ketenangan emosi sejatinya masalah yang kita hadapi tidak akan selesai, melainkan dengan perlahan mencoba untuk fokus terhadap solusi.

Dengan kita tahu akan bagaimana cara untuk mengendalikan emosi serta fokus terhadap solusi dari masalah yang ada, dengan cepat juga kita akan keluar dari masalah yang di hadapi. Karena kita bisa hidup dan bertahan dengan imajinasi kita, saat kita fokus akan imajinasi yang positif dengan itu juga akan mendatangkan energi dan semangat dalam diri.