Saat ini banyak orang terutama pada usia remaja yang menjadikan sosial media sebagai media curhat dan melampiaskan segala sesuatu yang dirasakannya. Mereka yang curhat di media sosial biasanya menyampaikan curhatan-nya dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video. Kata curhat sendiri dikenal memiliki arti mencurahkan isi hati dan biasanya dilakukan kepada orang terdekat.

Kegiatan curhat di media sosial biasanya dilakukan melalui aplikasi-aplikasi yang sering dijumpai misalnya Instagram, Twitter, Tiktok, dan lain-lain yang dapat dengan mudah diakses melalui gawai. Selain itu, topik yang diceritakan dalam curhat ini biasanya bersangkutan dengan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari orang tersebut misalnya tentang percintaan, pertemanan, hingga masalah dalam keluarga.

Curhat di media sosial sebenarnya memiliki sisi positif jika mengingat banyaknya kepribadian manusia di dunia yang tentu akan ada beberapa orang dengan kepribadian yang mungkin susah untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan masalahnya kepada orang terdekatnya, melalui curhat di media sosial maka orang tersebut baru dapat mencurahkan isi hatinya dengan tujuan melepas sedikit beban pikiran yang dialaminya. 

Mengutip dari situs klikdokter.com, curhat memiliki beberapa manfaat diantaranya meringankan beban pikiran, mencegah stress, membangun mekanisme bertahan yang baik dari stress, dan lain-lain.

Sayangnya akhir-akhir ini kegiatan curhat di media sosial lebih sering memunculkan dampak negatif daripada manfaat positif, lalu apa saja sih dampak negatif yang dapat disebabkan oleh kegiatan curhat di media sosial ?.

Menceritakan Kisah Pribadi Orang Lain Yang Seharusnya Menjadi Privasi

Curhat di media sosial dalam terakhir ini dijadikan kegiatan untuk menceritakan kisah pribadi milik orang lain yang mungkin saja merupakan privasi orang tersebut. Bayangkan saja, jika seorang teman dekat bercerita tentang masalah dalam keluarganya, dan kemudian kita menceritakan kembali cerita tersebut kepada hal layak ramai di media sosial. 

Apakah itu sebagai sesuatu yang pantas dilakukan sebagai seorang teman yang baik? Bagaimana perasaan teman kita jika tahu bahwa ceritanya tersebar luas di media sosial? Tentunya hal tersebut bisa saja merugikan teman kita beserta keluarganya.

Selain itu, kita juga harus berpikir apabila sebaliknya cerita kita yang disebarkan di media sosial oleh seseorang yang kita kenal baik. Mungkin saja kita juga merasa tidak terima dan kecewa pada orang tersebut bukan ?. Bercerita dan mendengar cerita itu baik, namun yang tidak baik ketika kita tidak bisa menjaga cerita tersebut sehingga mengganggu privasi orang lain dan mengabaikan kepercayaan orang terdekat kita.

Merugikan Pihak Tertentu

Curhatan yang kita bagikan di media sosial ini dapat menggiring opini bagi orang yang membaca atau melihat curhatan dalam unggahan kita. Dalam bercerita, biasanya kita menyebutkan beberapa nama pihak seperti orang, merek, atau tempat yang terkait dalam cerita tersebut. Pihak-pihak tersebut dapat dinilai salah dan tidak baik karena cerita kita, walau cerita kita belum tentu benar.

Cerita yang kita bagikan merupakan sudut pandang yang diliat dari diri kita sendiri, dan tentunya sebagai manusia kita terkadang memiliki sifat egois dan ingin selalu merasa benar. Maka dari itu meskipun cerita yang kita bagikan berpihak kepada diri kita sendiri dan belum tentu benar, cerita tersebut tetap dapat menggiring opini sehingga merugikan pihak tertentu.

Kita ambil contoh seorang remaja yang curhat pada unggahan akun di media sosialnya, kemudian remaja tersebut becerita bohong mengenai salah satu tempat makan yang baru saja ia datangi, kemudian unggahannya mendapatkan banyak perhatian dari orang yang membaca atau  melihatnya maka hal tersebut akan sangat dapat merugikan pihak tempat makan tersebut baik secara pendapatan maupun nama baik dari tempat makan tersebut. 

Jadi kita harus berpikir secara matang terlebih dahulu, apakah cerita yang kita unggah dapat merugikan orang lain atau tidak, karena segala kondisi dapat berubah hanya dengan kata-kata yang kita tuangkan dalam unggahan kita.

Bertujuan Meringankan Beban Pikiran Malah Menambah Beban Pikiran

Tujuan utama curhat adalah meringankan beban pikiran setelah bercerita. Namun tidak sedikit juga yang memiliki tujuan memvalidasi kepada hal layak bahwa diri kita ada di posisi yang benar dalam cerita tersebut. 

Pada aplikasi media sosial yang sering kita jumpai biasanya terdapat kolom komentar yang dapat diisi oleh siapa saja yang melihat unggahan tersebut. Sayangnya, kolom komentar ini tidak selalu berisi pernyataan baik dan membangun untuk seseorang. Kolom komentar ini lebih sering berisi hujatan atau perkataan-perkataan yang kasar dan tidak pantas diucapkan.

Hal itu dapat terjadi jika dalam cerita kita, orang lain berpikir bahwa kita salah kemudian orang tersebut bisa saja memberi komentar pedas, sindiran serta hujatan kepada kita tanpa berpikir panjang. Jika sudah begitu, tujuan curhat di media sosial untuk mengurangi beban pikiran malah berbalik jadi menambah pikiran bukan?.

Jadi pada intinya curhat di media sosial tetap harus berhati-hati dan jangan sampai merugikan orang lain apalagi mengganggu privasi orang lain. Sebelum melakukan hal tersebut alangkah baiknya kita memahami konsekuensi dan kemungkinan yang akan kita dapat sehingga kita tidak asal mengunggah namun tidak siap menanggung konsekuensinya.