Ada satu pertanyaan yang pernah mengganjal di benak saya: mengapa Tuhan menciptakan makhluk setengah pria setengah wanita jika kemudian Dia Melaknatnya? Mengapa Dia tidak Menciptakan laki-laki dan wanita sejati saja agar tak ada kekacauan yang bernama transgender?

Pernahkah kita berpikir seandainya Tuhan membiarkan kita untuk memilih gender apa yang kita inginkan sebelum kita dilahirkan ke dunia, tentunya tak akan ada kaum ketiga yaitu transgender. Sudah barang tentu takkan ada ‘calon manusia’ yang memilih untuk dijadikan manusia transgender.

Ya! Karena ketidakberdayaan itulah maka muncullah jenis manusia yang keberadaannya selalu ditolak ini. Bahkan dalam Al-Qur’an ditegaskan,

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS ADZ DZARIYAT:49)

“dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS AN NAJM:45)

Dari ayat tersebut saja kita dapat berkesimpulan bahwa Tuhan hanya mengakui dua jenis manusia; perempuan dan laki-laki. Terlepas dari kompleksitas orientasi seksual yang kemudian muncul.

Secara gender jelas. Kita hanya mengenal dua jenis kelamin. Namun secara mental dan emosi suka tak suka di sekeliling kita bertebaran manusia yang berada di antaranya, yaitu kaum transgender. Merupakan sebutan untuk pria yang bertingkah laku dan berpakaian mirip perempuan, atau sebaliknya (Namun dalam tulisan ini kita fokuskan pada pria transgender saja). Sedang orientasi seks-nya sendiri disebut homoseksual.

Seorang homoseks, walau perilaku seksnya menyimpang, namun bukan berarti intelejensianya juga ikut menyimpang. Banyak ditemukan para pelaku homoseksual berotak jenius.  Salah satunya adalah Alan Turing (1912-1954), seorang professor matematika berkebangsaan Inggris yang mampu menciptakan mesin yang dinamai Christoper (nama kekasih prianya saat di bangku sekolah) yang mampu memecahkan sandi tentara NAZI yang dikenal dengan Enigma

Di kemudian hari mesin ini berkembang menjadi piranti yang sekarang kita kenal sebagai komputer! Selain itu kita juga tidak bisa melupakan seorang jenius musik bernama Freddie Mercury, vokalis band papan atas ternama asal British yang lagu-lagunya bercitarasa tinggi karena memiliki chords yang tidak lazim dan aransemen yang luar biasa sehingga menjadi hits di seluruh dunia hingga saat ini.

Saya pernah membaca sebuah referensi bahwa semua manusia dilahirkan sebagai homoseksual. Tidak ada seorang laki laki yang lahir ke dunia ini sebagai laki laki 100%, begitupun wanita!

Ada tiga faktor yang memengaruhi dan mengarahkan ke mana perilaku gender dan orientasi seksual seorang manusia di kemudian hari.

Faktor pertama adalah hereditas. Faktor ini adalah faktor keturunan yang kita tak bisa menolaknya. Contohnya adalah lelaki yang memiliki wajah lembut dan tubuh gemulai seperti perempuan. Biasanya bawaan fisiologis tersebut dibarengi dengan gerak gerik yang juga gemulai. Hal ini tentu saja menjadi satu hal yang sama sekali tak bisa dihindari. Namun kita tidak bisa langsung mem-vonis bahwa orang tersebut adalah homoseks hanya dengan melihat casing luarnya (Perlu dicatat bahwa pria transgender tidak serta merta homoseks, walaupun hampir semua kaum transgender adalah penyuka sejenis). Masih ada dua faktor lainnya.

Yang kedua adalah pola asuh. Faktor ini memegang peranan penting dalam membentuk karakter manusia. Seorang anak yang dibiarkan memakai pakaian perempuan ketika masih kecil akan merasa permisif dengan kondisi tersebut hingga dia dewasa. Pengalaman saya memiliki seorang anak lelaki balita yang diasuh oleh neneknya. kemana-mana bila ia ingin dibonceng naik motor, sang nenek selalu memakaikan jilbab dengan alasan agar tidak masuk angin. 

Saya melihat pertanda yang kurang baik dalam pertumbuhannya kemudian, di mana dia menjadi sangat cengeng, tidak mampu mandiri, dan memperlihatkan gerak gerik ke arah situ! (Syukur Alhamdulillah anak ini akhirnya saya ambil alih dan saya didik seperti lelaki seharusnya).

Faktor ketiga adalah yang terpenting yaitu lingkungan. Tak peduli seberapa besar ‘gen laki-laki’ yang dibawa seseorang dari lahir, bila lingkungannya mendukung untuk menjadi sebaliknya, maka hampir dapat dipastikan maka orang tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi transgender dan atau homoseks.

Saya pernah berkecimpung di dunia perhotelan yang mungkin bukan kebetulan bahwa rekan kerja saya banyak yang homoseks. Mereka memiliki bahasa khusus yang hanya dimengerti oleh golongan mereka atau yang dekat dengan mereka, termasuk saya! Hmmmmmm……..

Awalnya saya ikut-ikutan menggunakan bahasa tersebut. Namun lama kelamaan tanpa saya sadari saya juga meniru aksen mereka yang sangat khas. Sampai di situ saya pindah dari hotel karena alasan lain. Saya berpikir seandainya pergaulan itu berlanjut, bisa jadi saya akan tertular oleh hal-hal lainnya yang lebih jauh. Ini membuktikan bahwa homoseksual adalah kehendak yang dapat menular namun dapat kita lawan atas keinginan kita sendiri.

Lantas bagaimana sikap kita yang mengklaim sebagai makhluk normal terhadap kaum yang memiliki perilaku menyimpang tersebut?  Bukankah dalam pandangan mereka perilaku heteroseksual adalah sesuatu yang tidak normal?

“Burung yang terlahir dalam sangkar, akan berpikir bahwa burung-burung yang bebas terbang adalah hal yang abnormal,” (yang ini kata seorang sineas kawakan asal Chili dan Perancis; Alejandro Jodorowsky Prullansky).  

Suka tak suka kita harus mengakui bahwa eksistensi mereka akan selalu ada sepanjang peradaban manusia itu sendiri. Sejak zaman nenek moyang kita Nabi Luth AS, bahkan mungkin jauh lebih lama lagi.

Mereka butuh pengakuan dari masyarakat sosial bahwa mereka benar-benar eksis dan memiliki hak yang sama dengan gender lainnya. Bahkan atas nama hak asasi, mereka menginginkan agar pernikahan sejenis mendapat legalitas dari pemerintah. Bukankah mereka berhak menentukan pilihan?

Pilihan!? Ah itu jawabannya! Tuhan menciptakan manusia ke dunia lengkap dengan assesoris, fitur, dan buku panduan dalam sebuah paket bernama kehidupan. Bila kurang lengkap tanyakan pada-Nya, semuanya ada dalam buku panduan tadi. Bila tak paham gunakan logika yang berlaku umum, bahwa ujung head set hanya akan berfungsi bila kita colokkan di tempat yang semestinya.