Jumat  15 oktober terjadi tragedi memilukan dimana sebanyak 21 siswa MTs di ciamis menjadi  korban dari kegiatan susur sungai yang diselengarakan oleh pihak sekolah MTs harapan baru cijantung.

10 siswa telah diselamatkan oleh warga yang turut membantu, namun 11 siswa lainya telah ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Kronologi itu bermula dari kegiatan rutinan yang merupakan bagian dari kegiatan Pramuka yang dilakukan madrasah dalam kegiatan itu siswa diikuti oleh 150 peserta menyusuri sungai cileueur dan akan menyebraginya.

Hingga salah satu rombongan itu mulai terseret arus sungai yang sangat kuat namun rombangan lainya pun mencoba menolong tapi mereka tidak bisa berbuat banyak hingga tim SAR pun diterjunkan untuk menolong para korban.

Hingga pukul 21:00 WIB. tim SAR telah menemukan 11 anak yang telah meninggal dalam kegiatan susur sungai tersebut.

Dari tragedi diatas bukanlah pristiwa pertama kali terjadi dimana kurangnya pengamanan yang dilakukan pihak guru pembimbing menjadi faktor insiden tersebut.

Sebelumya di Jogjakarta tepatnya pada jum'at(21-2-2020). kegiatan itu diselengarakan oleh sekolah SMPN, Turi 1 sleman. sebanyak 249 peserta dari kelas 7 dan 8 dan didampingi 7 orang pembina.

Kegiatan itu dilaksanakan pada pukul 14:00 WIB. mula mula kegiatan tersebut berjalan mormal tanpa kendala apapun dan para peserta mulai munyusuri sungai dengan melawan arus.

Kedalaman sungai tersebut pada waktu kegiatan berlangsung masih dangkal dan aliran air pun tak begitu deras, sehingga anak anak berani untuk menyebrangi sungai.

Namun pada pukul 15:00 WIB. tiba tiba arus sungai meluap dan menyeret para peserta susur sungai tersebut karna hujan lebat di arah hulu.

Hingga pukul 15:30 WIB. tim SAR pun tiba dilokasi untuk mengevakuasi mereka yang terbawa arus sungai, hingga keesokan harinya total jumblah korban susur sungai ada 10 anak.

Mirisnya semua korban adalah perempuan dan masing masing mengenakan rok panjang dalam kegiatan itu.

Dalam dua kasus tersebut bagaimana kegiatan ekstrakulikuler yang seharusnya menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengasah keterampilan jasmani melalui kegiatan outdor yang menyenangkan.

Tidak sebaliknya yang akan menimbul insiden merugikan bagi para peserta didik tersebut bahkan sampai mengancam keselamatanya.

Seharusnya pihak sekolah harus memperhatikan dan memperketat segala jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa siswinya apakah itu aman atau tidak.

Pihak sekolah juga harus melibatkan persetujuan orang tua peserta didik dalam menjalankan aktivitas yang dijalani oleh anaknya karna hakikatnya lembaga pendidikan khusunya sekolah adalah sebagai wadah menuntut ilmu untuk siwa siswinya.

Dari hal itu sekolah terus menjaga ketertiban secara kondisif agar proses pembelajaran terwujud tanpa merugikan pihak lain ataupun siwa itu sendiri.

Yang terpenting adalah dari pihak guru yang melaksanakan proses kegiatan ekstrakulikuler tersebut bagaimana dalam menjaga kegiatan secara aman, tertib dan lancar.

Jika kita melihat pada dua kasus tersebut bagaimana seorang pembina dalam ekstrakulikuler tidak mengutamakan faktor  keamanan yang jelas sangat penting bagi para siswa yang menjalankanya.

Hal itu terlihat ketika insiden di jogja ketika para korban ditemukan dan yang memilukan itu adalah para siswi perempuan semua dan ketika tim SAR menemukan para korban tersebut masih mengunakan rok panjang.

Jelas hal itu tidak bisa disepelekan bagaimana peran pembina dalam kegiatan susur sungai para siswinya masih mengunakan rok panjang dan dalam segi keamanan itu jelaslah membahayakan keselamatan siswi tersebut.

Maka dari pihak kepolisian setempak pun memeriksa mereka untuk mempertangungkan jawabkan atas tindakanya yang lalai terhadap faktor keselamatan peserta didiknya.

Itu salah satu contoh bagaimana seorang guru yang seharusnya memprioritaskan keselamatan atas murid muridnya malah bertindak sebaliknya yang abai akan keselamatan peserta didiknya.

Kegiatan yang sudah terjadwal sebelumnya harus melakukan survei lokasi kegiatan yang akan dilaksanakan supaya menjamin keselamatan peserta didiknya.

Pemilih kegiatan yang tepat dengan berkordinasi di internal sekolah antara pihak guru atau pembina dan kepala sekolah tersebut sangat dibutuhkan agar terciptanya kegiatan yang bertangung jawab penuh oleh sekolah.

Contohnya kepala sekolah MTs harapan baru ciamis tidak mengetahui kegiatan susur sungai tersebut bahkah ia baru mengutahui ketika para siswa tersebut sudah teseret arus sungai yang begitu derasnya.

Itu sangat disayangkan bagaimana pembina kegiatan tersebut tidak mengkordinasi dengan kepala sekolah yang justru akan berakibat fatal bagi para siswanya.

Sebenarnya kegiatan susur sungai tidak di anjurkan bagi para pelajar karna mereka belum memiliki pengalaman yang cukup untuk kegiatan tersebut.

Pakar sumber daya air dan sungai fakultas teknik universitas gadjah mada(UGM) agus maryono berpendapat, bahwa idealnya susur sungai dilakukan oleh orang-orang dewasa, anak dan remaja tidak boleh susur sungai.

Dan orang dewasa yang dimaksud adalah yang memiliki pengalaman seperti TNI, mapala dan komunitas sungai, karna mereka sudah terbiasa agus menambahkan.

Dan sebelum melakukan kegiatan susur sungai banyak sekali langkah langkah yang harus dilakukan agar terlaksana secara aman seperti mengamati karakteristik sungai serta cuacanya dan mengunakan peralatan yang memadai.

Supaya meminimalisir bahaya yang terjadi pada peserta didinya, hal itu begitu penting demi menjaga keselamatan dan kegiatanpun juga terlaksana dengan baik.