Jakarta - Sudah 56 tahun yang lalu peristiwa kelam dan kejadian luar biasa tepatnya "pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965 di Jakarta dan Yogyakarta ketika enam perwira tinggi dan satu perwira menengah TNI Angkatan Darat Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta" dilansir detik.com.

Gerakan 30 September "PKI" sejarah silam yang menyeramkan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sungguh "perbuatan keji dan kejam" atas pemberontakan untuk kepentingan individu maupun kelompok atas keberhasilan yang menghalagi untuk melakukan perbuatan atau tindakan kejahatan, yang "terencana dan terorganisir" oleh oknum-oknum segelintir masyarakat Indonesia yang terlibat atau ikut serta atas perbuatan kejahatan tersebut.

"Sejarah pemberontakan menjadi skala besar" yang mengingatkan masyarakat Indonesia bahwa kejahatan suatu kelompok dan organisasi memang bisa terjadi baik masa lalu, saat ini maupun masa akan datang. Hal ini bagian dari kejahatan internal bangsa yang tidak perlu di contoh dalam jangka yang panjang, namun dalam cerita atau kisah tidak boleh dilupakan karena bisa saja terjadi "ketidaksukaan atau kebencian suatu kelompok untuk melakukan tindakan mengancam nyawa, perampasan harta benda, penculikan jiwa" seseorang yang berada dalam organisasi tertentu.

Pemutaran "Film pengkhianatan G30S/PKI" pertama kali "ditayangkan di televesi pada 30 September 1985 yang disiarkan di stasiun TVRI. Sebelumnya juga sudah ditayangkan di layar tancap atau bioskop di DKI Jakarta". "Pada waktu penayangan G30S/PKI" kebetulan saya baru lahir di bulan dan tahun yang sama yaitu bulan September tahun 1985, sekitar tahun 1990-an saya juga ikut menyaksikan di salah satu televesi warga desa kemudian menonton secara bersama-sama di rumah warga tersebut. Waktu itu belum banyak televesi yang masuk kampung, jadi lebih seru bersama warga desa nonton G 30 S/PKI "sembari canda, kesal, seram, sedih, teriak dan kegiatan lainnya".
*** 
Kelicikan dari tanyagan televesi sangat terlihat jelas yang dilakukan pengkhianatan dan pemberontakan G 30 S/PKI terutama pada saat "pemaksaan keluar rumah tengah malam dengan alasan di panggil pak Presiden, penembakan menggunakan senjata, penyayatan wajah menggunakan pisau silet, sampai dengan pembuangan mayat ke dalam sumur" secara bersamaan serta perbuatan yang tidak manusiawi lainnya. Tindakan ini lebih dari pelanggran HAM (Hak Azazi Manusia), sejatinya manusia yang diperlakukan seperti hewan atau binatang dan kekejamannya memang tidak mempunyai hati dan pikiran yang normal.

Mengutip dari laman Tempo.Co "penjelasan terakhir kalinya menyaksikan pemutaran film 'Pengkhianatan G 30 S/PKI' film berdurasi 4 jam yang wajib disiarkan setiap malam tanggal 30 September itu tidak lagi tayang di televisi sejak tahun 1998 lalu". Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia "Asvi Warman Adam mengatakan ada cerita di balik distopnya penyiaran film yang mendeskreditkan PKI itu. Waktu itu juga ada permintaan dari Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI)", itu penjelasan dari Asvi saat dihubungi Tempo, kamis (27/09/2012).
***
Tokoh dari angkatan udara saat itu adalah Bpk Marsekal Udara Saleh Basarah menelpon Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono dan Menteri Penerangan Yunus Yosifah."Bahwa pak Saleh minta supaya film itu tidak diputar lagi," kata Asvi. Selain itu juga pasti membuat kisah sedih dari istri, anak, keluarga almarhum, kerabat dan dari "kesatuan militer sebagai profesi" wafat akibat dari pembunuhan yang dilakukan komplotan G 30 S/PKI. Namum rasa itu berlalu dengan perkembangan dan perubahan zaman yang semakin cepat baik dari teknologi, infrastruktur dan lain sebagainya.

Propanganda dalam kelompok untuk mencari kekuasaan bisa terjadi kapanpun dan dimanapun? Persaingan kekuatan organisasi menjadi perlombahan berbagai macam kegiatan demi keuntungan individu atau kelompok kecil. Melihat dari sejarah bahwa sikap dan perilaku "Pengkhianat dan Pemberontak" sulit ditebak bisa saja mempunyai prinsip "bermuka dua, di depan baik namun di belakang menikam, pura-pura baik, menghalalkan segala cara, pintar cari muka, penjilat, ingin menang sendiri dan hal terburuk lainnya". Sehingga kita semua bisa lebih menjaga hubungan secara individu dengan privasi dan menyimpan rahasia yang tidak perlu diungkapkan.
***
"Pandangan lain dalam moderenisasi" tindakan dan perbuatan G 30 S/PKI tidak terang-terangan membunuh secara bersamaan masyarakat Indonesia namun yang perlu kita lihat dan analisa dari berbagai sektor seperti sektor stasiun televesi dalam menyiarkan berita seolah-olah atau sudah di rekayasa keaslianya, sektor kesehatan harga obat-obatan semakin tinggi, sektor ketenagakerjaan semakin banyak pengangguran dan tenaga kerja asing makin banyak masuk ke Indonesia, sektor politik semakin banyak tidak memihak kepada rakyat sehingga regulasi yang tidak peduli terhadap kepentingan masyarakat Indonesia dan lain sebagainya.

Dalam pengamatan yang berbeda tindakan ini bisa terjadi penggunan narkoba semakin meluas dan pengedar narkoba ada dimana-mana baik di kota maupun pelosok nusantara ini salah satu merusak mental dan moral sehingga masa depan padam dan tidak ada harapan untuk hidup normal. Korupsi tindakan yang merugikan masyarkat Indonesia baik pejabat maupun tidak, sehingga sulit di percaya untuk memilih sosok dari seorang pimpinan bangsa baik dari partai politik maupun non partai. Berita Hoax menjadi ragu dipercaya baik dari penyebaran informasi hoax "mana yang benar dan mana yang salah" terkadang membuat kita bingung "yang benar bisa salah sedangkan yang salah bisa jadi benar atau sebaliknya juga" ini bagian dari perbuatan dan tindakan pengkhianatan dan pemberontakan yang tidak membunuh secara langsung.

Analisa tindakan "Narkoba, Korupsi dan Hoax" merupakan cabang gerak-gerik dari peristiwa masa silam yang berbeda juga dengan masa sekarang. Yang tidak takut bahwa itu membahayakan diri sendiri maupun orang lain, semoga ketegasan penegak hukum tetap berada dijalan sesuai dengan aturannya "keadilan dan memihak yang benar". Sehingga masyarakat Indonesia menjadi lebih benar dan baik serta mengurangi perbuatan dan tindakan yang yang tidak ikut-ikutan merusak masa depannya anak bangsa Indonesia. 

Dengan demikian kuncinya ada di pimpinan negara dan pejabat pemerintah yang tetap mempersatukan anak bangsa dan menjadi role model dan suritauladan bagi masyarakat Indonesia. Menjadi sosok pemimpin bangsa Indonesia yang membuat masyarakat sejahtera, maju dan berkembang baik di bidang ekonomi, tenaga kerja, pertanian dan lain sebagainya. Sebagai tindakan yang harus disikapi dari akar permasalahan seperti perdebatan dan perbedaan pendapat, perebutan kekuasaan, persaingan politik yang mencekam, regulasi dan kebijakan tidak memihak masyarakat, kesenjangan sosial dan budaya, mengadu domba antara masyarakat Indonesia suku, ras, agama dan lain lainnya.  
*** 
Demokrasi mengajarkan agar saling menghargai pendapat satu sama lain dan menerima kritik apa yang menjadi kepentingan masyarakat Indonesia. Tidak bisa dihindari juga siapapun pemimpinnya pasti ada "pro dan kontra baik oposisi maupun non oposisi yang intinya untuk memajukan bangsa Indonesia" ini. Bila ada pihak ada yang merasa kurang berkenan atau ada yang membuat tersinggung, tidak ada maksud ke arah negatif melainkan hanya pendapat perwakilan anak rakyat Indonesia.

"Semoga Indonesia damai dan rukun dalam menjalani hidup bernegara".