Penulis
2 tahun lalu · 3112 view · 5 menit baca · Cerpen bruised_and_battered.jpg
criticalcollective.in

Tragedi Jumat Siang

Denyut jantungnya berdebum seperti bedug. Matanya yang terpaku pada jalan sempat menyipit silau akibat teriknya siang itu. Ahmad mengendalikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sejak 30 menit lalu ia memulainya, namun saat ini jalanan yang dilaluinya mulai padat. Brengsek, ia merutuki keterlambatannya. Tapi waktu tak bisa diputar ulang.

Seharusnya ia berangkat lebih awal. Ini Jumat siang di kotanya, dan jalan akan mulai padat bahkan sebelum waktu makan siang. Jumat adalah hari yang pendek, begitu sebagian orang menyebutnya. Terlambat bergerak hanya dalam selisih 10-15 menit saja bisa menimbulkan perbedaan waktu tiba yang signifikan di tempat tujuan. Orang-orang di kota ini tahu benar konsekuensi selisih waktu tersebut. Dan sekarang Ahmad harus menelan konsekuensi itu.

Keringat membasahi dahinya yang terpapar matahari. Rambutnya yang ikal jadi lepek dan lengket Tangan kirinya memutar tombol pendingin hingga maksimal. Harus sampai tepat waktu, pikirnya. Aku tidak bisa terlambat. Ahmad membuka kancing atas kemejanya, dan menggulung kedua lengan bajunya. Di hadapannya berlalu lalang sepeda motor, yang menyelip ke sana kemari, bertebaran seperti lalat yang gesit. Andai aku mengendarai motor saja, pikirnya. Tapi waktu tidak bisa diputar ulang.

Mobilnya masih dapat merayap perlahan, ada sumbatan jalan karena dari tiga lajur kemudian harus menyempit ke satu jalan yang lebih sempit. Namun setelah jalan ini, Ahmad memperhitungkan jalannya akan lebih lancar. Ia tidak boleh terlambat.

Sesudah melampau jalan utama yang lempang dan sibuk, Ahmad akhirnya berbelok. Namun baru 200 meter ditempuhnya, terlihat bangku kayu panjang melintang di tengah jalan. Ahmad memukul stirnya. Dari kaca spion depan dilihatnya ada mobil lain senasib dengan dirinya.

Seorang pria bertopi dan berkaos putih kusam melambai-lambaikan tangan, gerakan menyuruh mereka pergi. Usianya paling 50-an, dengan muka kehitaman dan kulit yang kering menandakan aktivitasnya yang terlalu sering berada di ruang terbuka. Mungkin seorang hansip atau tukang parkir. Ahmad membuka jendela mobil, masih berusaha bersikap sopan. 

“Ada salat Jumat, putar arah lain saja! “ serunya.

“Ini jalan paling cepat ke tujuan saya,”  ujar Ahmad, menekan nada suaranya sedapat mungkin agar tidak kedengaran kesal.

“Nggak bisa Mas, jalan ini ditutup karena ada salat Jumat. Silakan cari jalan lain. “

“Bapak, tolong jangan persulit saya. Tolong sekali Pak..”

“Ya nggak bisa Mas, emang urusan Mas apa sih sampai lebih penting daripada ibadah?”

“Aduh urusan penting itu kan bukan hanya ibadah Pak, tolong Pak, saya diburu waktu sekali.”

“Masnya ini kok ngeyel toh? Sampeyan kafir ya? Kafir? Sudah dibilang ini mau salat Jumat, balik arah sekarang!” tiba-tiba suara terduga hansip atau mungkin tukang parkir itu menggelegar dan begitu otoritatif. Ahmad merasakan emosinya naik ke ubun-ubun. Bapak di hadapannya pun melotot sambil berkacak pinggang.

Dua orang pria yang semula agak jauh posisinya dari mereka, bangkit dengan gerakan waspada dan mendekat, siap memberikan dukungan kepada rekan mereka. Perdebatan sia-sia, rutuk Ahmad. Mobil di belakangnya sudah mulai bergerak untuk putar balik. Ia pun harus mengambil langkah yang sama.

“Brengsek! Djancuk! Sial!“ Ahmad hanya bisa memaki-maki di dalam mobilnya. Ia memutar mobil kembali menuju ke jalan utama. Sempat dilihatnya para pria yang tadi menghadangnya masih berkacak pinggang.

Ahmad sibuk memutar otak, ke mana lagi harus menempuh jalan. Kerongkongannya terasa kering. Ia memacu mobil sebisanya dan memutuskan mencoba jalan alternatif. Semoga yang ini tak ditutup, pikirnya. 

Harapannya ternyata tak terjadi, karena kini di hadapannya ada sebuah papan bertuliskan “Mohon Maaf Ada Salat Jumat.“ 

Ahmad kembali berteriak memaki. Seorang lelaki muda mungkin baru 17 tahunan, mengangguk sambil cengengesan kepadanya. Giginya besar-besar cenderung tonggos, rambutnya lurus-lurus seperti jerami, kemerahan karena kurang gizi.  

“Maaf Pak, jalannya ditutup. Cari jalan lain aja Pak..”

“Aduh saya sudah terlambat ini, tadi di sana ditutup, di sini ditutup lagi. Saya harus lewat mana?” gerutu Ahmad.

“Ya gimana Pak, tugas saya menjaga aja. Bapak silakan cari jalan lain.”

“Saya ini penting banget harus segera sampai, tolong deh buka jalannya sebentar saja.”

“Ya nggak bisa Pak. Lagian Bapak ini kok gak salat Jumat? Emang bukan Islam?”

“Urusan kamu apa kalau saya Islam atau bukan?”

“Yee marah, ya kalau Islam mending salat aja Pak, parkir aja di sana. Kalau nggak Islam ya berarti harus menghargai dong! “

Muka Ahmad merah padam. Ia menelan kata-kata makiannya. Percuma membuang waktu dengan cecunguk kurus ini. Ia tidak boleh terlambat. Dan waktunya kian mendekat.

Ia kembali memutar arah mobilnya. Rasa frustrasi mulai menguasai dirinya. Ia melirik jam tangannya. 15 menit lagi waktu tersisa. Sudah dua jalan paling dekat ke arah tujuannya yang ditutup. Ia kembali mengendarai mobilnya, mencari jalan alternatif, menjajal peruntungannya.

Jalan tampak lengang. Ia memacu mobil lebih cepat. Kali ini tidak boleh salah, desisnya. Waktuku sebentar lagi.

Namun kira-kira 500 meter dari tujuanya, plang itu kembali terlihat. Ada Sholat Jumat Dilarang Melintas. Ahmad membelalakkan matanya. Ini mustahil! Makinya.

Aku tidak bisa terlambat. Rasa gusar dan kemarahannya memuncak. Ia menginjak terus pedal gasnya abai pada tanda-tanda. Seorang bocah kurus berbalutkan sarung tiba-tiba berlari  dari tepi jalan, berusaha menghalangi mobil Ahmad yang terus melaju.

Decit suara rem yang diinjak terngiang panjang. Plang pengumuman rebah ke jalan. Sosok tubuh kurus itu rebah di jalan. Ahmad turun dari mobilnya dengan kepanikan luar biasa memeriksa tubuh itu.

Bangun, sialan! Bangun! Kenapa kamu tiba-tiba muncul seperti hantu?

Sejurus kemudian, ia merasa lega karena dada bocah itu bergerak naik turun. Ia memeriksa tubuh anak itu dengan seksama. Tak ada luka apapun. Tapi mukanya mengkeret seperti cemas. 

Buka matamu! Kamu tidak apa apa kan?

“Bapak ini keterlaluan ya! Sengaja menabrak plang dan anak yang menjaga!”

“Siapa orang ini, jahanam betul, berani-beraninya melanggar jalan yang disterilkan untuk ibadah”

“Mau tabrak lari ya, jangan coba-coba ya!”

Ahmad baru tersadar bahwa ia sudah dikelilingi oleh begitu banyak orang. Semuanya menatapnya dengan sorot mata geram.

“Kenapa kamu langgar batas? Kamu buta huruf apa?”

“Dasar orang kaya sombong, kamu pikir kamu siapa?”

“Nggak menghargai sama sekali! Ini jalan sudah dikosongkan untuk ibadah! “

Keringat membanjiri tubuh Ahmad. Ia tahu ia sudah terlambat. Sayang waktu tidak bisa diputar ulang. Kini ia malah harus terjebak di dalam kerumunan manusia. Ia mencoba berkata-kata tapi tak satupun yang ia sendiri pun dapat mendengarnya. 

Kata-kata menghujam kepala, dada, perut, paha, kakinya. Kafir. Keterlaluan. Sombong. Melanggar. Durhaka. Setan. Neraka. Ia merasakan tamparan bertubi-tubi pada tubuhnya. Lalu pandangannya mulai mengabur. Kafir. Sombong. Durhaka. Setan. Neraka.

Kata-kata itu yang terakhir didengarnya sebelum segalanya menghitam.

Artikel Terkait